Wednesday, December 07, 2005
Aku-1
Aku renungkan pertanyaan anakku, mirip seperti pertanyaan Socrates “siapa kita?” aku heran mengapa pertanyaan seperti ini muncul dari anak seusia anakku, pertanyaan ini mengandung makna yang luas dan dalam hanya orang dewasa yang mampu bertanya dan menjawab pertanyaan seperti itu, itu pun hanya orang dewasa mengenal jati dirinya yang mampu menjawab pertanyaan seperti itu.
Kuingat pertanyaan yang sama sempat ditanyakan oleh salah seorang kader HMI kepadaku saat aku masih kuliah dulu, dalam perjalanan hidupku pertanyaan itu baru termaknai beberapa tahun belakangan ini.
Siapa Aku…??
Jarang sekali manusia bertanya pada dirinya tentang hakekat dirinya sendiri karena manusia selalu berorientasi pada luar dirinya yang bersifat badani dan social bukan ke dalam dirinya. Kalau boleh kukatakan manusia seperti sapi………….
Aku adalah mahluk yang Allah ciptakan dengan nama ‘manusia’ yang terdiri dari unsur bumi dan unsur langit (unsure fisik yang terdapat pada saripati tanah, dan unsure langit berupa jiwa, ruhani yang tunduk pada sang Maha Pencipta mahluk)
Untuk mengetahui siapa aku, maka harus bertanya kepada siapa yang menciptakan aku? Dalam hidupku yang panjang tak ada pedoman hidup yang sesempurna Al Qur'an sehingga kuyakini hanya inilah pedoman hidup yang tak ada keraguan sedikitpun didalamnya, petunjuk bagi seluruh manusia dan orang-orang yang beriman (QS. Al Baqoroh : 2-4 ) Semua persoalan hidup terjawab disini.
Aku dan Kau
“ Aku bukan kau dan kau bukan aku, tapi aku dan kau sama-sama manusia. Struktur jasmaniah dan struktur rohaniah kita sama. Aku bukan binatang dan kau pun bukan binatang mengapa kita tidak bisa hidup bersama secara benar? Mengapa kita saling bersikukuh bahwa aku adalah aku, dan kita memang berbeda dan kita tidak mungkin hidup bersama?” (Jakub Sumardjo)
Benar kata Jakob Sumardjo di atas, tiap kita adalah beda Allah menciptakan milyaran mahluk tapi tak satupun punya karakteristik yang sama persis, bahkan sidik jari masing-masing kita pun tidak ada yang sama Subhanallah….tapi kita sama, sama-sama mahluk Allah yang memiliki tugas mengabdi kepadaNya, dalam lingkup sebagai masyarakat dunia, sepetak bumi Allah lainnya, keluarga dan diri kita sendiri.
Aku dan kau diciptakan untuk berpasangan, bekerja sama..mengapa kita tidak bisa bekerja sama?...Apa yang salah dari diri kita? Allah telah menyatukan kita dalam Al Islam dan bahkan seorang suami dan istri disatukan Allah dalam ikatan pernikahan…Sandaran hidup kita pun sama…Tujuan hidup pun sama…Uswah kita pun sama …Alasan apa yang membuat kita tidak bisa bekerja sama…Mengapa kita saling menyakiti…Apa yang salah dengan otak dan hati kita…??
Friday, October 21, 2005
Benarkah Wanita Karir Tidak Bisa Exist di Rumah ????????
Empat tahun yang lalu dalam sebuah diskusi panel di sebuah DKM salah satu perguruan tinggi swasta, saat itu aku berbicara dengan lantang mengutuk wanita karir yang lupa pada jati dirinya sebagai ‘wanita’ karena tidak sesuai dengan syariat Islam, meninggalkan suami, anak pergi sampai larut malam , pergi ke luar kota, ke luar negeri sendiri tanpa suami., lupa mengurus anak, tidak pernah memasak untuk keluarga apalgi membantu anak belajar.
Aku memberi alternative kepada audiens, jenis pekerjaan yang sesuai dengan fitrah wanita yaitu jadi guru, perawat dan dokter. Saat itu ada salah satu audiens yang mengatakan bahwa Khodijah pun seorang pengusaha (konglomerat) “Tidakkakh itu pun tidak sesuai fitrah?”. Akhirnya diskusi itu berakhir pada sebuah kesimpulan bahwa pekerjaan apa pun dapat dilakukan wanita selama keahlian/ keterampilan wanita tersebut diperlukan oleh masyarakat dengan memperhatikan rambu-rambu sebagai berikut :
- tidak meninggalkan tugas utamanya sebagai ibu dan isteri
- mendapat izin dan restu suami
- menjaga hijab ketika di luar rumah
Di dalam masyarakat Islam jika ada wanita yang diharuskan bekerja di luar rumah karena memang keahlian dan keterampilannya diperlukan oleh masyarakat Islam maka harus ada jaminan bahwa beban dan amanah yang ia tinggalkan di rumah dapat diatasi oleh saudara mukmin lainnya..Jika wanita tersebut memiliki anak yang harus diasuh maka pengasuhan anak oleh wanita lain yang sama-sama mukmin (sebagai baby sitter) mutlak diperlukan selama ibunya bekerja.
Mentertawakan Diri
Hampir 10 bulan semua yang kukatakan tentang ‘image wanita karir’sangat terasa, ‘aku banget’ ternyata memang betapa sulit memanage waktu di rumah, kantor dan masyarakat. Seorang kawan yang kuanggap seperti kakakku sendiri bertanya padaku tentang harga barang pasca kenaikan BBM, kujawab
“ aku tidak tau harga barang-barang poko sekarang karena aku tak pernah belajan dan juga tak pernah masak”
Ia bilang :
“ MasyaAllah bener-bener ‘wanita karir’, bagaimana kita tau kalo harga2nya udah bener tidak salah hitung, bukankah dalam mu’amalah harus ada ijab qobul dan ricek harga?”
Aku terperanjat , benar yang dikatakannya hal kecil seperti itu pun luput dari perhatianku. Selama ini suamiku yang selalu belanja kebutuhan rutin bulanan. Kutanyakan padanya apa ia merasa didholimi dengan melakukan semua itu, diluar dugaan jawaban suamiku
“Demi Allah aku senang melakukannya, mungkin baru segini yang bisa aku lakukan untuk membantu pekerjaan rumah, agar kau tenang bekerja aku mendukungmu sepenuhnya kau bekerja adalah bagian dari jihadmu padaNya dan aku melakukan ini pun bagian jihadku padaNya”
Oh my God….Ya Allah kukatakan padanya “ I luv u so much my hus, tq for all”. Ada sebuah peribahasa dibalik wanita sukses ada suami yang hebat (he…he…salah ya kebalik)
Beruntunglah aku jika sebagai pekerja mendapatkan daya dukung dari rumah, hingga ingin kubuktikan kalau sebagai wanita karir bukan hambatan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik dan aktivis masyarakat, kata kunci masalahnya terletak pada “manajemen diri”
Bukan tidak mungkin orang sepertiku akan mampu berprestasi dengan multi peran, kalau manajemen diri kita sudah benar. Aku sangat yakin bukan berita salah, kalau Rasulullah pun berprestasi sebagai hamba dengan multi peran juga dengan waktu yang sama yang diberikan Allah seperti yang kita miliki : 24 jam sehari, tapi mengapa dalam 24 jam rasulullah mampu melakukan banyak hal dari mulai mengurus ummat, negara, tetangga, para isterinya, hingga seorang anak kecil pun, bahkan semut pun tak luput dari perhatiannya. Bandingkan dengan kita, 24 jam sehari tak menghasilkan apa2 untuk agama, bangsa dan negara bahkan untuk dirinya sendiri pun tak ada yang bisa ia lakukan sedikitpun.
Oke…jangan Rasulullah lah perbandingannya, terlalu tinggi kita mengukur dan akan membuat kita mentoleransi diri dengan ”itu kan Rasulullah yang dibimbing wahyu”. Anggap saja lah si Fulan temanku seorang pimpinan di organisasi Islam, pekerja full time juga, aktifis LSM, da’i, guru, juga seabreg aktifitas yang bersifat temporer tapi ia masih sempet melakukan ibadah-ibadah sunnah bahkan dalam 3 tahun terakhir hafidz Qur’an hingga 8 juz luar biasa kan……….?? Yang tak kalah berhasilnya ia seorang kepala rumah tangga yang bisa dibilang sukses, tak pernah satu janji pun yang ia langgar, sekalipun jauh jarak yang harus ditempuh, jika ia sudah berjanji untuk datang maka ia akan memenuhinya walaupun dalam kondisi sakit.
Dalam sebuah literature aku sempat membaca bahwa manusia selevel Einstein baru menggunakan 4 % dari kapasitas otaknya luar biasa kan ?? itu artinya kita masih terus mampu meningkatkan diri, mengembangkan kapasitas otak kita, berprestasi menjadi hamba Allah., sehingga (dengan bahasaku) menjadi pribadi yang sempurna dengan ruhani yang mampu menggedor pintu langit , mengusik malaikat untuk memberi salam padanya dan menjadikan syetan menjauh darinya.
Dalam Islam tak ada perbedaan jender jika ingin berprestasi di hadapan Allah, Allah memberi kita (para wanita) peluang sama seperti yang dimiliki kaum laki-laki untuk mendapatkan ridhonya, syurganya seperti yang Allah katakana dalam QS. An Nisaa : 124 "Barang siapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun".
Maka jangan katakan “aku tak punya cukup waktu untuk memperhatikan keluargaku” karena Allah telah memberi kita banyak potensi tinggal kita memanfaatkan dan mengeksploitasinya secara maksimal.
Langkah awal mulai memanage diri
Buatlah agenda aktifitas harian
Misalnya :
03.30 – 04.00 : sholat lail
04.00 – 06.00
- sholat shubuh
- membaca Qur’an
- menyiapkan sarapan (jika tak punya pembantu)
- beberes rumah (jika tak punya pembantu)
- mengecek kesiapan sekolah anak (cek seragam, sepatu dan hal2 yang musti dibawa, bangunkan anak suruh sholat dan mandi)
06.00 – 06.30 :
- sholat dhuha
- mempersiapkan diri pergi ke kantor
06.30 – 08.00 :
Perjalanan menuju kantor (jangan lupa membawa bacaan ringan agar tdk terjebak lamunan yg terkategori zero activity (awas hanya untuk yg tdk mengendarai kendaraan sendiri...)
bagi yang berkendaraan sendiri dengarlah berita di radio
08.00 – 12.00:
Bekerja sesuai agenda, disela-sela waktu kosong ngobrollah hal yang bermanfaat dengan teman untuk silaturrahiim (n agar tdk kuper)
Disela2 waktu teleponlah sekolah bicaralah dengan anak dan wali kelas tentang kondisi sekolah hari ini (lakukan seminggu 2 x
12.00 – 13.00 :
Sholat dhuhur ,makan siang (kalo tdk sedang shaum), browsing, searching info dan chatting di internet untuk pencerahan dan agar tdk suntuk
13.00 – 15.00 Bekerja kembali sesuai agenda
15.00 – 16.00 Sholat Ashar
16.00 – 17.30
Perjalanan pulang isi waktu dengan bacaan ringan atau tidur di angkot (awas hanya untuk yg tdk mengendarai kendaraan sendiri...)
17.30 – 18.00
sapalah anak2 dan pengasuh tanyakan kondisi dirinya dan kondisi rumah hari ini
mandi dan makan
18.00 – 20.00
- sholat maghrib berjama’ah
- bimbing anak membaca Al Qur’an (agar efektif anakyg besar ajarin anak yg kecil, kita bimbing anak yg besar
- cek PR anak2, membimbing belajar anak
- sholat Isya berjamaah
20.00 – 21.30
- mengajak tidur anak2 bacakan dongeng (untuk membantu perkembangannya dan mendekatkan kita dg anak)
- membuat agenda yg akan dikerjakan di kantor esok hari
- bicaralah dengan suami tentang apa saja yg kita rasakan, kejadian di kantor
- dengarkan juga apa yang disampaikan suami keluhan atau apa saja (berilah komentar positif yg konstruktif, ini penting untuk membangun komunikasi dan memupuk cinta)
21.30 – 03.30:
- Istirahat (tidur)
Khusus Sabtu
Lakukan seperti di atas
08.00 – 14.00
- Pergi ke LSM atau keg.sosial lainnya (kalo aku seb. WKS aku ke sekolah) mengerjakan agenda yang telah disusun malam tadi, kalo perlu bawa anak2 untuk mengenalkan dunia ibunya
- Pulang dan lakukan aktifitas keluarga dengan suami dan anak2
Selanjutnya sama seperti diatas
Khusus Ahad
Lakukan seperti di atas
08.00 – 14.00
- Pergi ke majelis ta’lim, bawa anak2 (kenalkan ajaran Allah)
- Selanjutnya sama seperti diatas
- istirahat bagi seorang mukmin adalah menikmati aktifitas itu sendiri dan pada saat tidur
- Sesekali lakukan refreshing ke gunung atau tempat rekreasi dg keluar
Tetap konsisten dengan program tapi fleksibel
Patuhilah apa yang sudah kita azamkan walaupun tidak perlu kaku, sesuaikan dengan situasi dan kondisi
- Lakukan evaluasi diri
- Melakukan evaluasi diri setiap akhir sholat lail
- Perbaiki bagian yang kurang
- Memperbaiki program atau sikap yang salah agar tidak terulang pada hari berikutnya
- Hindari kesalahan yang sama pada kesempatan yang sama
- Merugilah orang yang selalu terperosok pada lubang yang sama
Akhirnya kusampaikan sebuah kalimat dari seorang teman lama
"Jika kita memiliki kesempatan utk menjadi seseorang yg LUAR BIASA , Kenapa kita memilih utk menjadi biasa-biasa saja? Bukankah hidup ini hanya sekali saja? Pastikan diri kita BERGUNA utk orang banyak."
Akhwat teruslah berkarya untuk Allah,jadilah wanita karir yang sukses di rumah, kantor dan masyarakat
Salam takdim,
Dengan gembira, with love
Rina Mutaqinah TaufikThx you’re my spirite,my hus…
Monday, October 10, 2005
Grafiti Yang Menggelikan
Semua kerepotan yang disengaja ini memang dinikmati oleh semua muslim di Indonesia walaupun harus desak-desakan mengantri tiket kereta atau berebut bis antar kota, hati mereka senang karena sudah terbayang di pelupuk mata betapa nikmatnya berkumpul dengan sanak keluarga yang lama ditinggal atau betapa leganya melepas kerinduan yang mendalam terhadap kampung halaman dan orang-orang yang dicinta.
Selain alasan di atas tentunya ada juga alasan lain yang tersembunyi yang mendorong orang untuk pulang mudik yaitu keinginan yang besar untuk unjuk kemampuan, unjuk penampilan atau menunjukkan glamoritas kehidupan kota dengan gaya hidup yang ...wah....sehingga terbayang di benak orang-orang kampung betapa enaknya hidup di kota tinggal di rumah mewah seperti yang biasa mereka lihat di sinetron dan telenovela.
Lepas dari semua alasan di atas mudik menjelang iedul fitri memang menjadi pilihan yang tepat untuk saling bertemu, bersilaturahiim saling membebaskan dosa dan kekhilafan baik pada orang tua atau kerabat. Begitupun aku, aku pulang menemui orang tua (mertua tepatnya) dan sanak famili yang berbeda kota untuk bersilaturahiim dengan mereka, sungkeman dengan orang tua. Ada kebiasaan baik di rumah keluarga suamiku, mungkin juga di keluarga lainnya, jika datang saatnya sungkeman, dari anak yang paling tua sampai paling muda, menantu, cucu dan cicit berderet berurutan (anak mertuaku 12 orang semuanya sudah berkeluarga...kebayang kan betapa banyaknya...)sungkeman pada orang tua dan orang yang lebih tua. Saat itu selalu menimbulkan haru dan sedih.
Yang paling mengesalkan dan membuat cape saat mudik adalah pada saat harus ngantri di jalanan terjebak kemacetan lalu lintas, walaupun semua kemacetan ini memang sudah biasa dan mafhum serta terprediksi sebelumnya tapi rasa kesal dan cape tetap saja ada.
Saat itu di hari ke 3 syawal aku dan keluargaku pulang, jalanan agak macet tapi masih dapat ditolerir, kunikmati perjalanan tersebut. 20 Km sudah kami lewati jalan, mobil pun mulai bertambah membuat jalanan menjadi padat. Laju kendaraan selalu di angka 20 km/jam. Keringat pun mulai bercucuran udara mulai panas dan karbon monoksida dari beribu kendaraan memenuhi udara yang kuhirup, penat, kesal menjalari perasaanku. Anak-anak kecil berlarian di tengah panasnya udara dengan ganjal mobil yang terbuat dari kayu di tangannya, mereka menawarkan jasa sewa ganjal kayu untuk mobil di kala macet di bidang yang menanjak.
Saat di persimpangan tiga (baca: jalan cagak) tepatnya di daerah Nagrek dari sebelah kiriku muncul sebuah truk yang biasa digunakan mengangkut pasir syarat dengan penumpang mendahului kami, mataku terfokus pada sesuatu, aku tersenyum dikulum tertawa tak jadi memperhatikan sebuah grafiti di belakang bak truk tersebut, sebuah gambar seorang wanita menor dengan tulisan ”kutunggu jandamu...” (hi...hi....gambarnya masyaAllah).
Garfiti model demikian nampaknya sudah sangat lekat dengan sopir-sopir truk, bagiku hal tersebut menunjukkan siapa ’si pemilik’ truk. Aku ingat sering juga melihat gambar dan tulisan seronok di setiap truk yang kutemui di jalanan. Ada gambar dengan tulisan ”kalau cinta ditolak, dukun bertindak”, ada juga ”sabar menanti...” yang semuanya dibarengi gambar perempuan yang (maaf.....) menjijikkan.
Beberapa waktu yang silam aku pernah terlibat pembicaraan dengan salah satu teman bahwa ada sebuah fenomena yang khas dari grafiti di bak-bak truk tersebut, menurutnya walaupun semua grafiti tersebut nampak sejenis dan bertema sama namun bagi komunitas sopir truk hal itu dapat dibedakan berdasarkan tema-tema yang diambil yang menjadi sebuah tanda atau kekhasan tertentu bagi trayek/jalur-jalur truk, misalnya untuk truk jalur pantura maka grafiti biasanya bertema perempuan kesepian, untuk jalur timur maka tema grafiti seputar pemuda patah hati.
Semuanya itu membuat pikiranku berputar, rasa penat, kesal di jalanan terlupakan karena otakku sibuk memikirkan komunitas sopir truk dengan grafiti yang khas dan aneh.
Tak lama tanpa kusadari aku sudah hampir sampai di jalan menuju rumahku kuucapkan ”Alhamdulillah.........” Ternyata di dunia ini banyak sekali komunitas yang terbentuk berdasarkan kepentingan yang sama untuk menggapai tujuan yang sama yang luput dari perhatian.
Wallahua'alam bishowab
Penulis : Rina M. Taufik
Sunday, September 11, 2005
Berteman Dengan Kuman
Bahasa daerah yang digunakannya pun tidak begitu beda dengan bahasanya ”Mandra” tokoh betawi asli dalam serial TV si Doel. Karakter, bahasa tubuh menunjukkan Betawi kebanyakan. 40 km dari kota kabupaten lokasi yang akan kami kunjungi untuk ’pemotretan’ sekolah di Jawa Barat
Di perjalanan menuju dusun tersebut pikiranku melayang-layang saat mendengar dari salah seorang guide kami yang mengatakan bahwa “jalan raya ini baru selesai kemarin diaspal, untuk menyambut kami ‘tamu dari pusat’….”. Ya Tuhan….aku tersanjung sebagai ‘tamu dari pusat’ datang untuk menginfeksi. Aku pun menyangka, jalan raya pun mereka aspal untuk menyambut kami apalagi kalau kami datang di lokasi, mungkin red carpet pun akan di gelar.
Namun siapa sangka ternyata,......... semuanya sebuah paradoks. Bangunan sekolah dengan 3 kelas dengan dinding yang bolong-bolong, atap yang bukan lagi bocor tapi nyaris separuhnya bergelayut ke bawah, dinding pembatas kelas yang belepotan, tiang penyangga dimakan rayap, ditambah 1 ruang guru yang kondisinya sangat kumuh dengan kursi yang bolong dan melengkung ke bawah (baca:mengantong) sehingga jika mau berdiri setelah duduk sangat berat karena harus mengeluarkan energi ekstra. Murid di SD tersebut semuanya berjumlah 140 orang dengan dua shift yakni pagi pukul 7 sampai pukul 9.30 untuk kelas 1,2,3 dan pukul 10.00 sampai dengan pukul 12.30 untuk kelas 4,5,6. dalam sehari mereka belajar hanya 2,5 jam selain itu aku berpendapat nampaknya mereka tidak pernah merasa perlu ke toilet, karena sekolah tidak memiliki toilet (baca: WC)
Tidak habis sampai disitu keterkejutanku, ada pemandangan yang sangat menggelikan sekaligus memprihatinkan dan membuatku bergidik, mungkin bagi sebagian orang keadaan ini adalah hal yang sangat biasa dan wajar, sepanjang jalan yang kulalui memanjang sebuah kali yang bisa dibilang sumber penghidupan dan kehidupan masyarakat di situ, betapa tidak aktifitas keseharian seperti mandi, mencuci baju, mencuci piring, , memandikan kerbau, bebek , irigasi sawah bahkan buang air besar pun mereka lakukan di kali tersebut.
Hari kedua, ketika seorang Bapa Guru mengantarku ke penginapan 11 kilo di kota kecamatan kurang lebih 12 km dari sekolah, sambil memperhatikan aktifitas warga di sepanjang kali, aku bertanya
” Pak...mengapa mereka melakukannya di kali?”
” Iya Bu disini memang begini, sudah kebiasaan”
” Mengapa mereka tidak membuat sumur?”
”Bu...disini kita tidak bisa membuat sumur, air nya tidak enak asin dan gatal, jadi air kali satu-satunya sumber air di sini, karena airnya tawar”
” Pak, kalau air minum didapat dari mana? ” tanyaku lagi
” Ya...dari sini...” (gubrak......)
Rasanya perutku pun mau muntah, ingin kukeluarkan seluruh makanan dan minuman yang terlanjur kutelan kemarin, tapi...kucoba memahami dan memakluminya.
Benakku pun mulai sibuk mencerna, merorganisasi dan mentafakuri informasi yang baru kudengar, dalam diam aku bertanya mengapa mereka tidak sakit, padahal bakteri e-colli, kholera, tyfus ada di setiap denyut nadinya, karena bagaimana tidak, mandi, cuci, sikat gigi buang air bahkan minum pun dari air yang sama.
Tiba-tiba aku teringat istilah yang digunakan seorang teman pakar Biologi ”imunisasi alami”, ya...mungkin itu mereka menjadi kebal terhadap kuman, karena saat kuman akan masuk dan meyerang, tubuh mereka say hello ”hello...jangan menyerang kita teman, sesama teman tidak boleh saling menyerang” tapi bagaimana denganku, bukankah aku tidak biasa mengkonsumsi air kotor??
Selama 3 hari aku selalu was-was, kalau-kalau aku akan sakit. Kucoba tenangkan diri, kupasrah atas semua yang akan terjadi kepadaNya dan sampai aku kembali dari daerah tersebut, ternyata aku sehat.
Dari kejadian itu Aku pun mulai sadar dan membuktikan sendiri kalau sehat benar-benar milik Allah SWT, kita hanya bisa berusaha semaksimal mungkin untuk bisa sehat.
Ketika di Karawang, 1 Oktober 2005
Rina Mutaqinah Taufik
www.muhasabahrinataufik.blogspot.com
Thursday, September 08, 2005
DIALOG AYAH DAN ANAK
“ Apa yang sedang Bapa pikirkan?”
”Aku..?’’ aku terkejut mendengar suaranya, terang sudah lama berganti gelapnya malam . Suara kodok terdengar dari kejauhan. Isteriku telah lelap. Dan di gendonganku, anakku dengan mata sipitnya dan rambut sedikit rada jocong tersenyum menatapku.
”Apa yang Bapa pikirkan?”
”Kau mengajakku bicara Nak?”
Dia hanya tersenyum
”Baik Nak, aku sedang berpikir tentang kau”
”Aku kuatir dengan masa depanmu“ kataku
”ha...ha...ha...”
”Kenapa kamu tertawa...”
”Orang tua selalu kuatir dengan masa depan anaknya, tetapi selalu gagal memberikan contoh dan teladan kepada anaknya untuk tumbuh menjadi manusia benar.”
”..Hush...kamu masih bayi ....tak patut berkata seperti itu...“
”Orang tua selalu begitu, takut dikritik tak mau mengaca diri dan selalu berlindung dibalik ketuaan dan keegoisan diri, dan berkata kalau tak egois bukan Bapa tapi banci.... Bukankah Bapa ingin mengatakan kalau saya adalah anak kemarin sore yang belum tahu indahnya Paris atau betapa sulitnya menjadi kaya di tanah air? dan bapak sudah kenyang dengan asam garam kehidupan?”
”Sejujurnya aku mengkhawatirkan diriku sendiri. Aku takut ketika kelak kau dewasa, aku tak bisa toleran melihat keliaran dan keberanianmu menjebol tatanan orang dewasa ”
”Bukankah Bapa sendiri cukup liar? Misalnya ketika Bapa memberontak dengan memanjangkan rambut, menghisap rokok dan berkeliaran sampai pagi ketika masih SMA dulu”
”Begitulah, apakah aku cukup toleran ketika kau memakai anting2 di hidungmu?”
”Sebentar pa, apakah bapa bisa bantu aku membetulkan popokku yang melorot ke bawah?”
”OK”
”Nah begitu lebih baik..., kembali ke soal tadi...bukankah Bapa juga menikmati keliaran ketika Bapa memutuskan untuk keluar kuliah dan memilih jadi pemain band, padahal kakek berharap bapa jadi insinyur?”
”Aku takut kelak apa aku cukup toleran ketika kau memutuskan untuk berhenti kuliah sama sekali dan memilih jadi pembalap, sementara aku berharap kau jadi pengusaha atau konglomerat”
”Bapa juga menikmati keliaran ketika mempermainkan banyak wanita”
”Begitulah, aku pun tidak tahu apa aku cukup toleran ketika kau banyak mempermainkan dan bergantian cewek tanpa satu pun kau nikahi”
”Bapa, kemarilah...ada yang ingin aku bisikkan, bukankah Bapa akhir-akhir ini menikmati keliaran Bapa dengan berteman dengan banyak wanita tanpa sepengetahuan ibu???”
” Apa sekarang pun Bapa menikmati keliaran dengan alkohol dan dunia malam”
”Ssssttt...anakku aku akan menghentikannya, aku tidak akan tahan jika kau kelak begitu”
”Baiklah pa, adakah cara yang tepat agar aku tidak terjebak seperti Bapa sekarang?”
”Temukan ilmu dan amalkan dalam hidupmu, carilah teman yang baik dan benar , janganlah kau menyerah dengan keadaan, juga selalulah menerima kritik dan masukan dari siapa pun dengan lapang dada, maka kau akan temukan kebahagian yang tak ternilai kau akan mendapatkan rasa kecukupan dalam hidupmu karena di hatimu cukuplah Allah yang akan jadi penolongmu................”
Wednesday, August 10, 2005
Bertanya Pada Preman
“ Saudara-saudara kita berkumpul disini…untuk memberikan dukungan moril bagi calon pemimpin bangsa masa depan ….pemimpin yang akan membawa rakyat untuk berpikir global, berpikir maju, modern, pemimpin yang akan mensejahterakan kita rakyat kecil….seperti kami, yang setiap harinya meronta-ronta mencari masukan untuk perut, untuk rumah, untuk sekolah, dan untuk….dan untuk….”
“Marilah kita dukung beliau untuk segera entaskan orang miskin…eh ..salah..entaskan kemiskinan, dan bangun masyarakat kaya…kaya harta…kaya…ilmu tuk jd kaya…kaya…seperti pemimpin…kaya…seperti milyuner…kaya seperti…monyet…kayak seperti buaya….kaya…...”
“Kita di sini, dalam panas dan terik untuk mendukung calon pemimpin kita agar mereka dapat hidup lebih baik dan cukup lebih dari kita…”
“Saudara…saudara…oleh karena pilihlah….Mr. Kaya..agar kita pun menjadi kaya…”
Aku menyelinap masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang mendengarkan orasi…, hidung pun terasa ditusuk-tusuk…ada bau ketek…bau bebek, bau ayam,…bau suap,…bau nasi bungkus,…”ah…akhirnya aku berhasil menangkap sang orator untuk ku wawancara…
“Begini Mas…, saya dengar tadi Mas…”
“oh…aku Mas Preman..”
“oh ya Mas Preman tadi anda sangat berapi-api dalam berorasi mendukung calon pemimpin besar kita Mr.Kaya, apa yang membuat Mas tertarik untuk mendukungnya?”
“Ya sudah barang tentu aku mendukungnya, karena aku sangat kasian sama beliau beliau itu kan terbiasa kaya, terbiasa memiliki jabatan…coba bayangkan kalau seandainya ia kehilangan jabatannya, tentu ia akan menderita sekali melebihi saya..”
“lho…kenapa..Mas?”
“Lha iya…karena beliau tidak biasa hidup di rumah kardus tentu badannya akan gatal-gatal dan borok…kalo kita kan sudah berteman dengan kuman, ia tidak biasa kalo makan sehari nasi bungkus plus tempe/tahu aja…perutnya akan mencret, kalo kita…kan sudah teramat biasa…, ia tidak biasa pergi keluar rumah tanpa kendaraan kalo naik angkot bisa demam n masuk angin…, makanya kita harus kasian pada orang medl begini, mereka itu rentan terhadap penyakit….”
“Misalnya…?”
“iya hipertensi, serangan jantung, gagal ginjal, asam urat, rheumatik…de el el.., selain itu mereka tak cukup survive untuk hidup apa adanya…tidak seperti kami”
“Memangnya hidup Mas seperti apa?”
“Kami sangat kaya…tidur beralas langit luas penuh bintang, berlampukan cahaya rembulan, ber-AC-kan angin malam yang terasa sejuk…, beralaskan tanah luas terhampar dan kekayaan terbesar kami adalah kami merasa cukup kaya dengan apa yang kami miliki, dan tubuh kami sangat kuat dan bertahan terhadap berbagai macam penyakit”.
“oh..ya jantung kami pun kuat terhadap shock…he..he..”
“Mas kenapa, Mas begitu sangat mencintai calon pemimpin negerinys si picung…”
“Ah ..saudara ini bagaimana…saya kan harus punya komitmen dengan pekerjaan dan profesi saya sekarang ini…”
“Lha…profesi macam apa yang sedang Mas tekuni sekarang?”
“…Ah jangan pura-pura tidak tau…sekarang kan lagi musimnya pemilihan calon pemimpin, itu kan proyek…saya bisa berdagang dong…”
“Maaf…Mas dagang apa…”
“Ya dagang suara burung…,dagang otak-otak ikan,…dagang otot kuda dan dagang kambing conge…he…he…”
“Lho…koq..?
“Lumayanlah Mba untuk memperpanjang rejeki…gitu lho..
“Waduhhhhhhhhh……..mati aku…”
Tulisan ini terinspirasi tulisannya Mas Faridl Ghaban, Bertanya Pada Cabe.
Thursday, July 28, 2005
Aku Dalam Diriku….
Aku diciptakan dari air yang hina kemudian Allah mengubahnya menjadi segumpal daging, ditiupkan ruh dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani (QS As Sadjah : 7-9). Unsur jasmaniah aku berasal dari sari pati tanah (QS Al Mu’minun : 12-14) artinya air mani (maaf…) yang akan menjadi cikal bakal aku adalah terdiri dari 1000 unsur tanah dan yang dikenal hanya 30 jenis saja, kita berasal dari sari pati tanah dan akan kembali ke tanah pula. Unsur unsure bumi inilah yang membentuk dorongan hawahu, dan kebutuhan biologis seperti makan, minum, seks, dan nafsu lainnya. Sedangkan ruhani yang fitri Allah ciptakan untuk senantiasa tunduk pada kebenaran dan kebaikan (QS. Al A’raaf : 172), kondisi ini dinamakan fitrah artinya terjaga kesucian dan kebersihannya, persaksian di alam sulbi ketika ruh ditiupkan adalah perjanjian pengakuan aku atas ketauhidan Allah, kemaha kuasaan Allah yang tidak boleh kita tandingi. Kemahakuasaan atas penciptaanNya, kekuasaanNya, aturanNya dan kerajaanNya.
Kondisi fitrah ini terpelihara sampai aku masuk pada fase aqil baligh, setelah aqil baligh apakah aku akan terus fitrah atau mengikuti jejak syetan yang melanggar perjanjian saat di alam sulbi tersebut ?. Semuanya bergantung pada usaha aku untuk tholabul ilmi, sehingga Allah memberinya hidayah untuk kembali pada kondisi fitrah dengan meneguhkan kembali perjanjian dengan Allah untuk tidak menyekutukanNya dalam hal apapun, sekecil apapun. Allah katakan dalam QS Al Balad 10 – 19 aku akan dihadapkan pada dua jalan yakni jalan yang baik dan yang buruk, jalan yang baik adalah jalan yang mendaki lagi sukar……..
Mengapa dan untuk apa aku diciptakan?
Aku diciptakan untuk :
Mengabdi kehadapanNya (QS Adz Dzaariyat:56), menjadi abid , menjadi hamba Allah
Menjadi kholifah fil ard (QS Al Baqoroh : 30) dengan kembali pada fitarh
(QS Ar Ruum : 30)
Hamba Allah
Mengabdi berasal dari dari kata abadan, abdi artinya menyerahkan secara totalitas semua yang kita miliki kepada Allah termasuk factor subyektif yang dimiliki aku kepada Allah. Posisi abid adalah posisi yang teramat hina, kalau dianalogikan (namun Allah tidak bisa dianalogikan) maksudnya posisi abid adalah hamba sahaya pada jaman Rasulullah adalah posisi yang tak punya kuasa sedikitpun sekalipun hak untuk hidup. Jika seorang majikan menginginkan hamba sahayanya pergi atau mati maka dibunuhnya lah ia, artinya posisi abid tak punya hak untuk bertanya, berpendapat, membantah , meminta, memohon termasuk hak untuk hidup sekalipun. Semuanya bergantung kepada si pemilik hamba sahaya tersebut. Begitu pun diri kita di hadapan Allah, kita tidak punya hak apapun yang ada hanyalah kewajiban untuk tunduk dan taat kepadaNya.
Kewajiban yang dimaksud adalah senantiasa mentaati semua perintah dan laranganNya tanpa reserve
Ciri-ciri hamba Allah adalah:
- Beriman dan beramal sholeh
- Keyakinan akan Allah dibuktikan dengan keyakinan hati, diucapkan dengan lisan dan beramal sholeh
- Memfungsikan 3 indera (pendengaran, penglihatan dan hati) sesuai dengan kehendak Allah bukan berdasar selera diri ( QS An Nahl : 78)
Proses untuk menjadi hamba Allah :
- Sadar akan posisi diri sebagai manusia untuk mengabdi
- Taubat, menyadari , menyesali kesalahan dan bertekad untuk tidak akan mengulanginya
Amal sholeh, amal yang dilakukan dengan sadar untuk atas nama Allah bukan karena pamrih
Kholifah fil ard
Kholifah adalah pemimpin, kholifah fil ard adalah pemimpin di muka bumi. Setiap diri adalah pimpinan untuk dirinya, keluarganya dan masyarakatnya. Posisi kholifah sangat bertolak belakang dengan posisi hamba namun paradok ini adalah suatu tatalitas jati diri mukmin. Disamping sebagai hamba di hadapan Allah juga sekaligus sebagai pimpinan di muka bumi, di hadapan mahluk dan pemimpin sebagai kepanjangtanganan dari posisi Allah sebagai raja.
Pemimpin untuk dirinya sendiri, ia bertanggung jawab atas amanah tubuh dan jiwanya untuk mengabdu hanya kepada Allah. Pemimpin dalam keluarga ia bertanggung jawab memimpin, mendidik, membimbing, menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka. Sedangkan pemimpin bagi seluruh alam adalah ia bertanggung jawab atas amanah sumber daya alam dan manusia dan apapun yang Allah beri kepada seluruh manusia untuk digunakan dimanfaatkan dan diatur sesuai dengan keinginan sang maha mencipta sehingga menjadi rahmatan lil alamin: (QS Al Ambiyaa : 107)- Ciri-ciri kholifah :
- Hamba Allah yang sholeh
- Beriman dan beramal sholeh dengan sabikul bil khoirot
Apa yang aku miliki untuk melaksanakan tugas dan fungsiku?
Ketika manusia dalam keadaan bayi, yang lemah dan tak berdaya Allah memberi sumber daya dan sumber dana untuk mengemban amanah dalam menterjemahkan, merealisasikan fungsi dirinya sebagai kholifah. Sumber daya dan sumber dana ini titipan yang harus dimanfaatkan dalam rangka penegakkan dien Allah.
Dengan kata lain sumber daya dan sumber dana ini kita sepakati namanya sebagai sebuah potensi, potensi tersebut adalah :
- Akal
- Hati
- Pendengaran
- Penglihatan
- Rizki
- Alam sekitar
- Bakat
Semuanya harus dikerahkan sekecil apapun untuk menterjemahkan fungsinya, jangan pernah ada setitik pun potensi yang dimiliki tercecer dari tugas dan fungsi diri sebab kita akan mempertanggungjawabkan amanah yang telah Allah beri kepada kita
Hamba Allah yang Papa
Friday, July 15, 2005
C.I.N.T.A
Tuhan…….
Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah aku akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama yang tak berakhir
Tuhan….
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukan aku kepada yang rindu cinta sejatiMu
Tuhan….
Jika kembali mencintai seseorang
Teruskan aku dengan orang yang mencintaiMu
Agar bertambah kuat cintaku padaMu
Tuhan….
Ketika aku sedang jatuh cinta
Agar tak melebihi cintaku padaMu
Tuhan
Ketika aku berucap aku cinta padaMu
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya terpaut padaMu
Agar aku tak jatuh cinta
Dalam cinta yang bukan karenaMu
Sebagaimana orang bijak berucap
Mencintai seseorang bukan apa-apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang kau cinta
Sangatlah berarti
Tapi……..
Dicintai oleh seorang pecinta
Adalah segalanya……….
Cinta….???
Ruhani adalah raja dari seonggok daging yang bernama tubuh. Ruhani ini yang menggerakkan hati dan pikiran manusia. Ruhani mengendalikan semua emosi diri termasuk didalamnya CINTA.
Cinta sejati adalah cinta yang tulus kepada sang Maha Pemilik Cinta, cinta yang inilah cinta yang tanpa pamrih, cinta yang total, cinta dengan penyerahan diri dan jiwa dengan pengorbanan sebenar-benarnya.
Kukatakan bohong jika ada si Pecinta mengatakan “ku kan daki gunung himalaya demi kamu, ku kan seberangi lautan untukmu, ku kan daki langit demimu, ku kan petik bintang untukmu…..” sekali lagi ku katakan bohong besar, perayu gombal. Semuanya yang dikatakan para si Pecinta adalah pamrih, pamrih untuk mendapatkan balasan dari sang kekasih. Coba bayangkan, maukah pecinta tersebut jika sang kekasihnya tak membalas cintanya? Masihkah ia mau berkorban? Semuanya adalah cinta yang gombal dan rapuh. Aku ingat kata-kata bijak “ jangan bersandar pada sesuatu yang rapuh bersandarlah pada sandaran yang kuat dan abadi yang tak lapuk oleh waktu”
Cinta-cinta tersebut hanyalah permainan emosi, acrobating emotional dari jiwa yang sedang wisata, demi kepuasan sesaat, demi harapan yang nisbi. Dunia adalah panggung sandiwara dimana emosi dimainkan sesuai keinginan pemilik emosi.
Memainkan rasa adalah hal yang mudah, mengubah rasa benci jadi cinta, mengubah cinta jadi benci, asalkan berpatokan pada rel-rel yang Allah tetapkan, dengan senantiasa berpijak pada “ sukakah Allah dengan apa yang akan kulakukan?” bukan berangkat dari sukakah diri, karena kesukaan diri sangatlah subyektif sangat rentan diintervensi hawahu.
Mengubah benci jadi cinta kalau kuibaratkan seperti kisah petualangan pendaki gunung (Kang Nazaruddin dengan Wanadri nya dalam suatu kesempatan bercerita kepadaku bagaimana ia mampu menaklukkan gunung Salak). Para pendaki selalu berharap untuk dapat menaklukkkan puncaknya, ada perasaan puas tak ternilai jika sudah berhasil sampai puncak gunung, walau keringat, rasa lapar, haus dan darah sekalipun mengucur dari tubuhnya tidak sebanding dengan rasa puas yang didapat . Walau orang selalu berkata “ Untuk apa sih mendaki gunung pekerjaan yang melelahkan, sangat berbahaya, dan sia-sia” Bagi pendaki itu adalah kenikmatan yang tiada tertandingi. Di atas puncak, serasa dunia ada dalam genggamannya. Hanya orang-orang tertentu yang dapat merasakannya. Jengkal demi jengkal, tapak demi tapak, bebatuan yang curam menjulang, tanah pijakan yang rapuh, bau tanah, tetesan air yang keluar dari akar gantung semuanya menggambarkan keindahan tersendiri yang luar biasa saat menapakinya. Ada perjuangan, ada tantangan dan ada kerja keras di situ. Cape, lunglai, haus semuanya terasa indah saat menjadikan masalah tsb sebagai sebuah tantangan.
Gunung, seperti juga emosi dalam diri, mendakinya, menguasainya, berada di puncaknya semuanya akan terasa sulit tapi akan jadi ringan dan indah saat kita menikmatinya setiap langkah dan tapak dalam mendaki dan menguasainya, mengendalikan gunung emosi, mengubah benci, menjadi cinta yang luar biasa saat kita berjuang dan bertawakal kepada Allah Sang Pembolak balik hati. Penguasa lembah dan gunung emosi, tidak akan lama perjuangan ini hanya sebatas hidup manusia yang kuarng lebih 60-70 tahunan, bandingkan dengan kehidupan akhirat satu hari sama dengan beribu bulan di bumi betapa panjangnya kenikmatan sejati yang akan kita rengkuh. Pilihlah sesuatu yang abadi jangan yang nisbi.
Definisi Cinta Dalam Al Qur’an
Aku ingat betul dalam sebuah seminar yang digelar DKM Ulil Albab Unpas Bandung, Zonaina Yuhadisi membeberkan bahwa kata cinta dalam Al Qur’an disebut Hubb (mahabbah) dan Wudda (mawaddah), keduanya memiliki arti yang sama yaitu menyukai, senang, menyayangi.
Sebagaimana dalam QS Ali Imron : 14 “Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga).” Dalam ayat ini Hubb adalah suatu naluri yang dimiliki setiap manusia tanpa kecuali baik manusia beriman maupun manusia durjana.
Adapun Wudda dalam QS Maryam : 96 “ Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh, kelak Allah yang maha pemurah akan menanamkan dalam hati mereka kasih sayang ” jadi Wudda (kasih sayang) diberikan Allah sebagai hadiah atas keimanan, amal sholeh manusia. Dipertegas lagi dalam QS Ar Rum : 21 “ Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah ia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” Dalam ayat inipun Allah menggambarkan ‘cenderung dan tentram’ yang dapat diraih dengan pernikahan oleh masing-masing pasangan akan diberi hadiah (ja’ala) kasih sayang dan rahmat.
Dalam fil gharibil Qur’an dijelaskan bahwa hubb sebuah cinta yang meluap-luap, bergejolak. Sedangkan Wudda adalah cinta yang berupa angan-angan dan tidak akan terraih oleh manusia kecuali Allah menghendakinya, hanya Allah yang akan memberi cinta Nya kepada hamba yang dkehendakiNya. Allah yang akan mempersatukan hati mereka. Walaupun kamu belanjakan seluruh kekayaan yang ada di bumi, niscaya kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan cinta jika Allah tidak menghendakiNya. Oleh karena itu terraihnya cinta—wudda pada satu pasangan itu karena kualitas keimanan ruhani pasangan tersebut. Semakin ia mendekatkan diri kepada sang Maha Pemilik Cinta maka akan semakin besarlah wudda yang Allah berikan pada pasangan tersebut.
Cinta inilah yang tidak akan luntur sampai di hari akhir nanti sekalipun maut memisahkannya, cinta yang atas nama Allah, mencintai sesuatu atau seseorang demi dan untuk Allah.
Semoga engkau wahai Saudara, Kakak, Sahabat mendapatkan wudda dalam hidupmu dengan prestasi amalmu, Aku kan ada untukmu…bersama menggapai langit…menuju keharibaanNya, dalam kampung akhirat yang penuh wangi bunga, dengan air jernih mengalir di sekelilingnya.
Ada puisi indah, kalau aku tak salah mengingat begini…
Cinta
Tuhan…….
Saat aku menyukai seseorang teman
Ingatkanlah aku akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama yang tak berakhir
Tuhan….
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukan aku kepada yang rindu cinta sejatiMu
Tuhan….
Jika kembali mencintai seseorang
Teruskan aku dengan orang yang mencintaiMu
Agar bertambah kuat cintaku padaMu
Tuhan….
Ketika aku sedang jatuh cinta
Agar tak melebihi cintaku padaMu
Tuhan Ketika aku berucap aku cinta padaMu
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya terpau padaMu
Agar aku tak jatuh cinta
Dalam cinta yang bukan karenaMu
Sebagaimana orang bijak berucap
Mencitai seseorang bukan apa-apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang kau cinta
Sangatlah berarti
Tapi……..
Dicintai oleh seorang pecinta
Adalah segalanya……….
Taklukkan dan kuasailah gunung es yang ada dalam hatimu, dengan kehangatan cintaNya….
Janganlah mengharamkan sesuatu yang telah halalkan untukmu…….
Ya Semoga……
Friday, July 08, 2005
KOLONI LEBAH
Menjadi bagian membangun koloni
Menjadi koordinat membentuk formasi
Merapatkan diri dalam barisan
Untuk menggapai tujuan rafi koloni
Meniti titian langkah tak bertepi
Bersama kita mendaki lazuardi
Bersama kita menggali bumi
Kita tepis angin yang ditiupkan para burung
Kita lantunkan harmoni lebah, yang dirindukan bunga
Dengan bentuk formasi A ala lebah
Kita serang dan sengat pasukan Abu Jahal
Demi makanan halal yang kurengkuh
Demi madu yang keluar dari duburku
Kita tantang maut untukMu
Kita bersihkan ghibah dan issu
Kita kan tegakkan kebenaran demiMu
Siapapun engkau wahai raja issu
Kita tak takut oleh apapun dan oleh siapapun
Wahai raja lebah, kami bersamamu menegakkan kebenaran
Dari pecita yang tak teruji
Tuesday, June 07, 2005
HADAPI HARI DENGAN GEMBIRA
Kalidasa, seorang penulis drama India bersajak…
Salam Kepada Fajar
Pandanglah hari ini!
Sebab inilah hidup, hidup yang benar-benar hidup
Dalam jangkanya yang singkat ini
Terletak semua kebenaran serta kenyataan eksistensimu
Kebahagiaan pertumbuhanmu
Kemuliaan perbuatanmu
Kemegahan karyamu
Sebab kemarin hanyalah mimpi
Dan esok hanyalah bayangan
Tapi hari ini sungguh ada dan membuat kemarin jadi mimpi bahagia
Dan esok jadi bayangan yang berpengharapan
Oleh karena itu pandanglah hari ini
Inilah salam kepada fajar
Sir Wiliam Osler tahun 1871 yang meraih penghargaan dengan pangkat tertinggi untuk bidang kedokteran dari Kerajaan Inggris menjadi Regius Professor of Medicine di Oxford, ia berceramah di depan mahasiswanya di Yale University mengatakan bahwa dirinya bukan orang yang jenius tapi orang yang memiliki kecerdasan pas-pasan namun keberhasilan yang ia raih berkat kata-kataThomas Carlyle: “ Our main business is not to see what lies dimly at a distance, but to do what lies clearly at hand” ( Tindakan utama yang harus kita lakukan bukanlah melihat apa yang terletak samar-samar di kejauhan sana, melainkan melaksanakan apa yang kelihatan dengan jelas di depan mata)
Kalau kita renungkan dengan seksama, kadang-kadang kita merasa khawatir dan takut dengan masa depan kita sendiri, setiap hari perasaan kita dikuasai oleh kegelisahan yang tak beralasan sehingga hari-hari yang kita lalui tidak bisa dinikmati dengan hati yang senang dan lapang. Tentunya kegelisahan ini akan sangat berpengaruh terhadap efektifitas kerja setiap hari. Setiap bangun tidur rasa malas untuk menghadapi hari baru, keinginan untuk tetap selamanya tidur, lepas dari masalah akan menjadi kebiasaan yang menahun bagi kita dan pada akhirnya kita akan lelah menghadapi hidup ini, jenuh dan terjebak oleh rutinitas yang tidak menggairahkan.
Oleh karena itu jadikan hari ini menjadi hari yang indah dengan mengunci rapat hari yang lalu dan menutup hari esok, hari ini adalah hari kita maka nikmatilah dengan hati yang senang. Setiap hari adalah kehidupan yang baru bagi orang bijak, tingkatkan produktifitas, lakukankanlah satu persatu pekerjaan jangan menunggu sampai hari esok karena esok belum tentu kita masih hidup. Biarlah hari kemarin menjadi hari yang buruk toh kita hidup pada hari ini. Hari ini merupakan satu-satunya harta yang paling berharga yang benar-benar sedang kita miliki.