Pernah enggak sih kamu kepikiran, kenapa jajanan kekinian yang warnanya estetik dan rasanya gurih banget itu bisa bikin kita kayak addicted dan mau nambah terus? Eits, jangan senang dulu! Bisa jadi yang lagi kamu makan itu masuk kategori Ultra-Processed Food (UPF).
Bahasannya memang terdengar berat, tapi tenang, mari kita bedah bareng-bareng pakai bahasa yang relatable biar kita makin paham sama apa yang masuk ke perut kita!
1. Asal Mula Makanan UPF: Dari Mana Datangnya?
Awalnya, pemrosesan makanan itu tujuannya baik banget: bikin makanan lebih awet dan enggak gampang basi. Dulu, manusia cuma kenal pemrosesan sederhana (minimal processing), kayak memasak, mengeringkan, atau memfermentasi makanan.
Tapi, seiring berkembangnya industri pangan, para ilmuwan dan produsen mulai berinovasi. Mereka menciptakan kelompok makanan baru yang dinamakan Ultra-Processed Food (UPF). Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh peneliti asal Brasil bernama Carlos Monteiro lewat sistem klasifikasi makanan bernama NOVA.
Sistem NOVA pertama kali dikembangkan pada tahun 2009 oleh tim peneliti dari University of São Paulo, Brasil, yang dipimpin oleh Prof. Carlos Monteiro.
NOVA mengelompokkan semua makanan dan minuman menjadi 4 kelompok utama bukan berdasarkan kandungan gizi/nutrisinya (seperti kalori, karbohidrat, atau protein), melainkan berdasarkan tingkat dan tujuan pemrosesan industrinya.
Berikut adalah rincian 4 kelompok dalam sistem NOVA:
Kelompok 1: Makanan Tidak Diolah atau Minim Diolah (Unprocessed or Minimally Processed Foods)
Ini adalah makanan utuh (real food) alami yang berasal dari tumbuhan atau hewan.
Prosesnya: Cuma dibersihkan, dibuang bagian tak terpakainya, dikeringkan, dipanggang, direbus, ditumbuk, atau dibekukan tanpa menambahkan zat baru (seperti gula, garam, atau minyak).
Tujuannya: Agar makanan aman dikonsumsi dan lebih awet sedikit tanpa mengubah sifat aslinya.
Contoh: Buah segar, sayuran, beras, daging segar, telur, susu murni, biji-bijian, dan air putih.
Kelompok 2: Bahan Kuliner Olahan (Processed Culinary Ingredients)
Ini adalah bahan-bahan yang diambil langsung dari kelompok 1 melalui proses mekanis sederhana.
Prosesnya: Ditekan, digiling, atau dimurnikan. Bahan ini biasanya tidak dimakan langsung, melainkan digunakan di dapur untuk memasak makanan dari Kelompok 1.
Contoh: Minyak goreng, mentega, gula pasir, garam dapur, dan cuka.
Kelompok 3: Makanan Olahan (Processed Foods)
Ini adalah kombinasi sederhana antara makanan Kelompok 1 yang ditambahi bahan dari Kelompok 2.
Prosesnya: Dimasak atau diolah dengan menambahkan garam, gula, atau minyak agar makanan lebih lezat dan tahan lebih lama. Biasanya masih mengenali bentuk asli bahannya dan dibuat dengan metode yang bisa ditiru di dapur rumah.
Contoh: Keju olahan sederhana, roti tawar buatan rumahan/bakery lokal, buah kalengan dalam sirup sederhana, ikan asin, atau kacang panggang bergaram.
Kelompok 4: Makanan Sangat Diolah (Ultra-Processed Foods / UPF)
Nah, inilah kelompok yang dibahas dalam artikel! UPF adalah hasil formulasi industri yang umumnya menggunakan 5 atau lebih bahan baku.
Prosesnya: Makanan ini diproduksi melalui serangkaian proses kimia dan industri yang rumit (seperti extrusion, pemodelan ulang, dan hidrogenasi).
Ciri Khas Bahannya:
Menggunakan zat ekstraksi industri seperti High Fructose Corn Syrup (HFCS), minyak terhidrogenasi, dan protein terisolasi.
Ditambahi zat aditif industri untuk memanipulasi rasa, warna, bau, dan tekstur (seperti pemanis buatan, pengemulsi/emulsifier, pewarna sintetis, dan penguat rasa/MSG berlebih).
Ciri Utama: Hampir tidak menggunakan bentuk asli makanan dan tidak bisa kita buat di dapur rumah biasa karena bahannya hanya ada di laboratorium/pabrik industri.
Contoh: Minuman bersoda, snack kemasan renyah (chiki), mie instan, sosis industri, nugget, biskuit pabrikan, dan sereal sarapan manis.
Kenapa Sistem NOVA Ini Penting?
Sebelum ada sistem NOVA, orang sering terkecoh. Misalnya, minuman bersoda diet dianggap "sehat" karena 0 kalori, padahal minuman tersebut penuh zat sintetis industri (UPF).
Sistem NOVA membuka mata dunia medis bahwa masalah utama kesehatan modern bukan cuma soal kalori atau lemak saja, melainkan sejauh mana makanan tersebut telah diubah oleh industri secara kimiawi.
UPF bukan cuma sekadar dimasak atau digoreng biasa, melainkan hasil gabungan dari bahan-bahan ekstraksi (kayak gula murni, minyak, garam, dan pati) yang dicampur dengan berbagai bahan aditif industri. Tujuannya cuma satu: bikin makanan yang hyper-palatable (rasanya enak banget di lidah), tahan lama berbulan-bulan, dan praktis tinggal makan.
2. Jenis dan Contoh UPF yang Lagi Trend Banget
Kamu sadar atau enggak, sebagian besar jajanan yang lagi viral di media sosial saat ini sebenarnya adalah UPF! Coba cek daftar ini, ada favorit kamu enggak?
Minuman Manis Kekinian (Boba & Sweet Drinks): Sirup tinggi fruktosa (High Fructose Corn Syrup), krimer nabati, dan perisa artifisial yang ada di boba atau es kopi susu kekinian.
Mie Instan & Makanan Siap Saji: Makanan olahan tepung yang ditambah flavor enhancer (penguat rasa) dan pengawet biar tahan disimpan lama.
Sosis, Nugget, dan Baso Goreng (Basreng) Kemasan: Daging olahan yang sudah dicampur emulsifier, pati, pewarna makanan, dan natrium tinggi.
Snack Chiki & Biskuit Kemasan: Camilan renyah berbumbu tabur gurih (seasoning powder) yang bikin jari kamu enggak bisa berhenti comot sana-sini.
Catatan Penting: UPF itu beda sama makanan olahan biasa (processed food) kayak keju atau roti buatan rumahan. UPF biasanya punya daftar komposisi yang panjang banget dan dipenuhi istilah kimia yang jarang kamu temukan di dapur rumah!
3. Dampak UPF Terhadap Tubuh: Gimana Caranya Bikin "Apes"?
Kalau dikonsumsi sesekali sih mungkin tubuh masih bisa tolerate. Tapi kalau jadi makanan harian, UPF perlahan bakal bekerja kayak "racun" jangka panjang di dalam tubuh kita. Ini beberapa efek biologisnya:
Bikin Otak "Kena Hack" (Dopamine Hit): Kombinasi gula, garam, dan lemak jahat di UPF dirancang untuk memicu pelepasan hormon dopamine secara drastis di otak. Efeknya? Kamu bakal ngerasa nagih dan terus-terusan mau makan (craving), padahal perut udah kenyang.
Merusak Mikroflora Usus (Gut Microbiome): Bahan pengemulsi (emulsifier) dan pemanis buatan dalam UPF bisa merusak keseimbangan bakteri baik di dalam usus. Padahal, usus yang sehat itu kunci imunitas tubuh dan mood yang stabil!
Memicu Inflamasi Kronis: Kandungan lemak trans, natrium tinggi, dan zat aditif bikin sel-sel tubuh mengalami peradangan tingkat rendah (low-grade inflammation). Kalau dibiarkan, ini jadi cikal bakal penyakit serius.
Risiko Metabolic Syndrome di Usia Muda: Sering makan UPF berkaitan erat sama peningkatan risiko obesitas, resistensi insulin (pemicu Diabetes Tipe 2), tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung—bahkan di usia remaja!
Kesimpulan
Bukan berarti kamu enggak boleh sama sekali makan jajanan kekinian, ya. Kuncinya ada di kesadaran (mindfulness) dan keseimbangan. Cobalah untuk lebih sering mengonsumsi real food (makanan utuh seperti buah, sayur, ikan, dan telur) dan kurangi ketergantungan pada makanan kemasan serba praktis.
Sayangi tubuh kamu dari sekarang, karena investasi kesehatan terbaik itu dimulai dari apa yang ada di piring kamu hari ini!