Friday, November 03, 2006

Malu Pada Ulat...

Allah berfirman, dalam QS Al baqoroh 183,
Hai orang2 yg beriman diwajibkan atas kamu berpuasa (shaum)...

Shaum yang dimaksud adalah bukan hanya menahan haus dan lapar tapi hakikatnya adalah menahan dan mengendalikan diri dari hawa nafsu. Shaum selama 1 bulan di bulan Ramadhan adalah pendidikan dan latihan bagi orang2 yang beriman untuk menempa diri menjadi hamba yang lebih baik dari sebelumnya.

Perubahan yang lebih baik dalam hal ilmu, pemikiran, pembersihan hati, sikap mental dan perilaku Perintah shaum ini bukan hanya diwajibkan pada ummat Rasulullah Muhammad tetapi juga bagi ummat2 sebelumnya telah Allah perintahkan seperti tercantum pada ayat di mukadimah tadi, bahkan binatang2 pun melakukan shaum demi kelangsungan hidupnya, mereka tunduk dan taat pada fitrah yang telah Allah tetapkan bagi mereka

Selama mengerami telur, ayam harus shaum. Demikian pula ular, shaum baginya untuk menjaga struktur kulitnya agar tetap keras terlindung dari sengatan matahari dan duri hingga ia tetap mampu melata di bumi.

Shaum nya Ulat


Pada waktu yang telah ditentukan ulat shaum dengan menyembunyikan dirinya dalam selembar daun kering yang kita sebut kepompong

Selama didalam kepompong ia tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan aktifitas apapun selain diam dan merenungi diri menunggu masanya tiba dimana semua tubuh, kulit, sikap dan karakternya berubah menjadi lebih baik. Kalau dulu semasa menjadi ulat ia menjadi binatang yang merugikan, selalu merusak setiap daun dan tanaman, sehingga ia menjadi musuh bagi manusia dan tumbuhan. Bahkan sebagian manusia merasa jijik melihat ulat, bulu2 yang dimiliki ulat membuat gatal dan bentol2 pada kulit, setiap kali manusia melihat ulat maka tak ayal lagi binatang ini dibunuh dengan gemas.

Namun setelah melalui masa shaum di dalam kepompong ia hadir dengan bentuk yang berbeda menjadi mahluk yang paling indah di di seantero jagad Tumbuhan dan bunga- bunga pun sangat mengharapkan kehadirannya hinggap di setiap mahkota bunga mereka, menyerbuki mereka

Tanpa kupu-kupu bunga tidak bisa mekar, tumbuhan tak akan berbuah, dan para petani pun mengeluh bunga, tanamannya tidak berbuah. Kini ulat yang menjijikkan itu telah berubah rupa menjadi binatang yang cantik nan menawan, memberikan manfaat bagi lingkungannya

Kita pun harus banyak belajar pada ulat, masa shaum selama bulan ramadhan hendaknya menjadikan kita untuk berubah rupan dan bentuk yang tadinya memiliki sifat ulat yang senantisa merusak diri dan lingkungan menjadi kupu2 yang indah dan memberi manfaat bagi sekitarnya

Kalau dulu kita sering berghibah, berbohong dan memfitnah, maka mulai dari 1 syawal ini hilangkan sifat kita menjadi manusia yang jujur, senang membicarakan kebaikan orang , tidak menggunjing dan tidak memfitnah.

Kalau dulu kita menjadi ukhti yang gampang tersinggung dan marah kalau di kritik, maka sejak 1 syawal dan seterusnya kita menjadi orang yang pemaaf, berlapang dada, tersenyum dan senang mendapatkan kritik.


Wallahua'alam bishowab
Penulis : Rina M. Taufik

Monday, October 23, 2006

Menjelang 1 Syawal 1427 H

Dunia memang tak pernah ingkar menandakan ketuaan Tapi manusia banyak ingkar memungkiri ketuaannyaSegelintir manusia yang hina selalu lupa jati dirinyaSeolah akan hidup selamanya dan lupa tempat kembali

Alam ini menyiratkan kata-katanya
Peringatan bagi yang berpikir dan bertafakur
Hidup akan bertepi dan kita pun akan terkubur
Menjadi bagian dari sejarah masa silam

Persaudaraan yang kita jalin sangat berkesan
Memberi arti yang berbeda untukku
Keinginanku agar kita selamanya bersatu
Dalam ikatan kebersamaan ikhwanul muslim

Meraih bahagia bersama, bahagia yang sebenarnya
Bukan semu tidak juga hambar tapi bahagia
Dimana diri tidak mengetahui lagi arti kecewa, arti derita
artinya pedih artinya rasa sakit dan artinya luka

Tak ada maksud apa-apa aku hanya mengajakmu
Mentertawakan diri dan berkaca pada pengalaman
Untuk selalu memperbaiki diri dari hari ke hari
Mengajakmu belajar dari pelajaran unik
yang telah alam siratkan pada kita

Tentunya kebersamaan ini menyimpan seribu asa
Yang sulit kau ungkap padaku,
Atau sulit kau sampaikan padaku
perasaan marah, sedih, duka, kecewa juga dendam

Aku yakin....
Dalam ucap ini ada kata yang membuatmu sakit
Dengan pena ini ada kalimat yang membuatmu teriris perih
Dalam rangkaian kata ini ada bahasa yang menusuk kalbu
Hingga membuatmu berpikir dan kadang mendendam

Tapi........
Percayalah semuanya adalah kata Tuhan
Untuk mengajakmu berpikir jernih tentang dirimu,
diriku juga diri-diri yang lain
Tak ada maksudku menyakiti siapapun
Hanya sekedar mengevaluasi diri untuk dijadikan cermin diri
Agar aku dan juga kau mampu perbaiki diri

Aku mendapat pesan dari seorang kawan
membuatku terperanjat, menangis dan sadar
aku bukan apa-apa dan juga bukan siapa-siapa
aku terlalu sombong....kini aku ingin kau pun memaknainya

Jangan sekedar memahami apalagi berteori,
tapi hayatilah diri dan hidupmu agar kau tak terjebak
Pada bayang-bayang semu yang membuatmu lupa
bahwa kau bukan siapa-siapa.

Sesekali lepaskan otakmu dari simpul logika,
Bebaskan anganmu dari belenggu teorema,
dan belajarlah merasa dan berkaca.
Melihat dirimu dalam semesta maha.

Tanggalkan bajumu, telanjanglah di depan hatimu.
Dengarkan suara rincik air bening yang menetes di kedalaman jiwamu.
Ada yang terus mengalir tenang, tanpa kau sadari yang jika kau ikuti akan
membawamu ke samudera tanpa tepi:
semesta yang tak habis-habis kau pahami.tak perlu kau menjadi apa-apa.
jadilah bukan siapa-siapa karena di situ, makna dirimu yang sebenarnya

Bila ada kata yang merangkai dusta
Ada kalimat membekas lara
Ada langkah menoreh luka
Ada prasangka dan curiga
Mohon bukakan pintu maafmu untukku, untuk kami

Selamat Iedul Fitri 1 Syawal 1427 H
Dari kami sekelurga
Rina Muttaqinah –Taufik Hidayatullah


Wallahua'alam bishowab
Penulis : Rina M. Taufik

Monday, October 16, 2006

MBS, Komite Sekolah dan Oknum...

Implementasi MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) menuntut adanya perans erta masyarakat lebih banyak, peran yang diharapkan adalah ‘sense of belonging’ masyarakat pada sekolah sehingga sekolah tidak didominasi oleh ‘apa maunya pemerintah’ tetapi ‘ apa yang dibutuhkan masyarakat’. Kehadiran sekolah harus benar-benar menjadi tumpuan harapan dan cita-cita masyarakat.

Seperti jamannya kakek dan nenek kita dulu, masyarakat benar-benar merasa membutuhkan berdirinya sekolah di tengah kehidupan mereka, sehingga mereka bahu-membahu mendirikan sekolah, mencarikan kepala sekolahnya dan gurunya yang akan mendidik putra-putri mereka. Sekolah lahir atas dasar cita-cita kepentingan bersama. Ruh tersebut nampaknya ingin dihidupkan kembali.

Saat ini dengan munculnya MBS berbagai pendapat kontroversi bermunculan memperdebatkan kehadiran MBS yang terlalu dini bagi masyarakat kita, seperti yang disampaikan Prof. Surya yang menganggap bahwa masyarakat kita saat ini belum cukup siap untuk bisa tune in memiliki dan menjadi bagian warga sekolah, belum lagi kewenangan sekolah mengatur dirinya belum sepenuhnya diberikan pemerintah terutama pemerintah daerah dengan berlakunya otonomi daerah, itu artinya menunjukkan pemerintah pun belum siap sepenuhnya memberlakukan MBS.

Sekolah semasa pemerintahan Pak Harto telah ditempatkan sebagai agen perpanjangan ‘apa yang dimaui pemerintah’. Sistem top down pendidikan yang sudah mendarah daging akan dirubah dengan adanya MBS, dimana sekolah secara penuh mengelola dirinya sendiri. “ Kalau tidak dimulai sekarang mau kapan lagi, sekolah diberi kewenanganmengatur dirinya” kita-kira begitulah yang diungkapkan Pak Indra Jati Sidi saat itu.

Komite Sekolah

Kita simpan persoalan besar tadi, mari kita lihat peran serta masyarakat yang diwakili oleh komite sekolah, wadah yang menampung seluruh aspirasi masyarakat, orang tua dan stake holder. Sejak dulu pun wadah yang memiliki fungsi yang hampir sama telah ada, yang disebut BP3, namun peran sekarang seharusnya lebih luas lagi. Selain sebagai jembatan komunikasi antara sekolah dan masyarakat, komite sekolah memiliki fungsi kontrol terhadap berlangsungnya proses pendidikan di sekolah agar sesuai dengan komitmen mutu pendidikan yang telah disepakati sebelumnya. Oleh sebab itu orang yang duduk sebagai pengurus komite sekolah seharusnya mengetahui visi, misi dan program-program sekolah sehingga pengawasan dapat dilakukan dengan baik

Kenyataan menunjukkan lain di lapangan, salah satu contoh di Kab. Purwakarta ketika penulis sedang bertugas mengambil data dan sempat melakukan wawancara dengan beberapa kepala sekolah, guru dan komite sekolah SMP. Setelah menjelaskan panjang lebar diakhir pembicaraan ketua komite sekolah dengan bangga mengatakan kalau dirinya dipercaya menjadi ketua komite sekolah dibeberapa sekolah di Kab. Purwakarta “ wow …weleh…weleh…” dengan sedikit ‘kerung’ saya pribadi merasa sangat aneh dan tak habis pikir, seberapa banyak waktu yang dimiliki oleh orang ini? sampai mampu mengurus beberapa sekolah dengan program seabreg dan jika dijalankan dengan benar tupoksi komite sekolah, tentunya sanghat menyita waktu dan energi. wah…hebat……….
Rasa penasaran mendorong saya berbicara secara pribadi dengan salah seorang kepala sekolah
“Pak, kalau ketua komite sekolah mendapatkan honor setiap bulannya?
“ Tentu atuh, Bu”
“ Berapa honornya per bulan? “
dengan agak sedikit ragu karena takut terdengar oleh yang bersangkutan, Kepala Sekolah tersebut menjawab
“ 700 ribu rupiah per bulan Bu”dengan polos tanpa beban Bapak Kepsek itu menjawab.
“ Apa…???” otakku langsung berputar memikirkan perkataan ketua komite sekolah tersebut, kalau ia menjadi ketua komite di beberapa sekolah 700 ribu kali sekian sekolah…wah jadi penghasilan yang menggiurkan…
benar juga ternyata pikiran cas cis cus ku

mari kita Tanya Kenapa????????






Wallahua'alam bishowab
Penulis : Rina M. Taufik

Friday, October 13, 2006

Parcel.....???

Fenomena yang terjadi saling mengirim dan menerima parcel saat hari raya atau hari spesial lainnya beberapa tahun belakangan, telah membudaya di kalangan masyarakat kita terutama di kalangan para pejabat mulai presiden sampai pejabat RT sekalipun. Ucapan selamat hari raya..., selamat atas wisuda..., selamat atas peresmian... dan terima kasih atas kerjasama…yang disematkan pada pembungkus parcel yang dikirim, menjadi hal yang lumrah. Isi parcel pun beraneka macam mulai dari buah-buahan, makanan kaleng, alat rumah tangga dan elektronik, jumlah parcel dan pengirimnya tergantung seberapa tinggi jabatan/ posisi seseorang di perusahaan atau di lembaga pemerintah, makin tinggi jabatan/ posisinya maka makin banyak parcel yang akan mereka terima, pengirimnya bervariasi mulai dari pejabat yang lebih rendah (untuk menunjukkan rasa hormatnya), pengusaha (untuk mempererat hubungan kerjasama), juga kenalan/ teman- teman dekat.

Bukan tidak mungkin jika seorang pejabat mendapatkan parcel banyak sekali dari bawahannya atau dari temannya, ia pun merasa dituntut untuk mengirim parcel ke pejabat yang lebih tinggi dari dirinya maka dipilihlah parcel-parcel terbagus yang ia dapatkan, kemudian kartu ucapannya diganti dengan bahasa yang berbeda dan tujuan yang berbeda. Selanjutnya parcel tersebut saling dikirim seperti lalu lintas jalan raya bolak-balik, yang pada akhirnya sampai lagi pada si pengirim pertama…(nah…lho!!!!!!!!) “ Lho…ini kan parcel yang gue kirim ke si fulan…????”

Apakah parcel yang kita kirim dimakan/bermanfaat bagi si penerima ? itu nomor dua yang penting pengakuan dari si penerima kalau si pengirim sudah kirim parcel, sudah kasih perhatian.

Fenomena ini mengingatkan saya sewaktu di kampung, orang tua saya dan warga di kampung saya selalu masak saat memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, masakan tersebut lantas dikirimkan ke semua warga di kampung. Hal yang sama pun dilakukan tetangga dan warga lainnya, alhasil maka beredarlah nampan aneka masakan tersebut, jika ada seorang tetangga yang lupa tidak diberi maka senampan makanan dari tetangga lainnya pun jadi diberikan pada tetangga yang belum kebagian tersebut atau jika berlebih makanan itu akan dikirim ke warga yang letaknya agak jauh dari kampung walaupun sebenarnya masakan tersebut bukan bikinan si pengirim tapi tetangga yang lainnya.

Kebiasaan ini telah berubah bentuk menjadi saling mengirim parcel yang walaupun pada tahun 2005 KPK mengeluarkan aturan tidak boleh memberi dan menerima parcel bagi para pejabat saat hari raya, tetapi budaya untuk saling memberi sebagai bentuk perhatian akan selalu menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Siapa tahu saling mengirim parcel diantara para pejabat dihentikan berubah dengan saling mengirim angpow.

Sebenarnya ada kalangan yang sangat membutuhkan untuk diberi parcel atau angpow yakni fakir miskin dan anak-anak terlantar, merekalah orang-orang yang berhak menerima hadiah, sodaqoh, santunan dan perhatian bukan para pejabat…mereka tidak membutuhkan hal tersebut karena gaji, deposit dan hartanya sudah cukup membiayai hidup layak bahkan mewah. Sebaiknya paradigma memberi dari bawahan ke atasan, dari pejabat rendah ke pejabat yang lebih tinggi dirubah menjadi memberi dari para pejabat tinggi ke pejabat rendah dari yang kaya ke yang miskin.

Tidak perlu ditutup-tutupi karakter masyarakat Indonesia adalah selalu ingin memberi jadi bukan tidak mungkin jika ada aturan dihentikannya mengirim parcel pada pejabat tinggi dirubah menjadi saling memberi angpow, atau secara terang terangan "DENGAN TIDAK MENGURANGI RASA HORMAT KAMI TIDAK MENERIMA PARCEL TAPI ANGPOW"...lho........???


Wallahua'alam bishowab
Penulis : Rina M. Taufik

Thursday, October 12, 2006

Banyak Bertanya Sesat di Jalan...........???

Ketika aku SD dulu, Bu Guru selalu bilang “jadi jelema teh kudu bodo alewoh” (kalo jadi orang harus rendah hati, banyak bertanya jika tidak mengerti) kira-kira begitulah artinya. Pepatah ini sangat terasa sekali jika di jalanan mencari alamat apalagi di kota besar seperti Jakarta, Depok, Bekasi dan Bogor (tidak tahu kalo kota lainnya).

Tugas dari kantor memaksaku melakukannya, dari orang ke orang kami bertanya mencari alamat sekolah untuk melakukan pengambilan data penelitian mulai dari abang becak, pedagang, tukang ojek , tukang asong tidak bisa memberi informasi yang benar tentang alamat yang kami tanyakan, bahkan aku curiga mereka membuat kami harus terus berputar-putar kayak orang limbung sampai kurang lebih 5 jam an. Saat kami kembali pada posisi awal eh…si orang yang memberi kami petunjuk hanya nyengir memperlihatkan wajah tak berdosa.

Kami tak habis pikir dibuatnya, mengapa orang Indonesia yang dikenal ramah koq tega ya…. membuat orang susah (senang lihat orang susah, susah lihat orang senang), padahal aku pribadi sering memberi petunjuk benar pada orang yang sedang kebingungan nyari alamat. Apa kehidupan keras Jakarta telah membuat orang bersikap seperti Yahudi??? Selalu berpikir “apa untungnya buatku jika kutolong?” wallahualam yang kutahu sulit sekali mendapatkan orang baik di jalanan. Sampai tulisan ini kuposting semua kota yang kusebutkan tadi kami hampir mendapatkan masalah yang sama dalam mencari alamat, jadi tidak salah kalau aku beranggapan bahwa menanyakan alamat di jalanan akan membuat kita nyasar………

Jangan-jangan pepatah bodoh yang beredar dikalangan para birokrat menular juga di masyarakat “ kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah????????”



Wallahua'alam bishowab
Penulis : Rina M. Taufik

Thursday, September 28, 2006

Jangan pipis sembarangan.........


Jadi ingat lagu anak-anak yang dinyanyikan Melisa kecil “….jangan pipis sembarangan…..” , menyerukan pada setiap orang terutama anak kecil untuk tidak buang hajat sembarangan tapi nasihat ini ternyata hanya berlaku bagi teman teman kecilnya Melisa. Di sepanjang jalan tol, sering sekali saya menemukan mobil berhenti di pinggir jalan dan melihat sopir truk, sopir kendaraan pribadi berdiri dibalik pintu mobil yang sengaja dibuka dan….astagfirllah…nampaknya pengelola jalan tol khususnya, harus memfasilitasi pengguna jalan tol WC-WC umum di sepanjang jalan tol, he..he..

Kejadian serupa pun terjadi di terminal-terminal hampir di setiap kab/ kota di Jawa Barat selalu ada pojok bau menyengat, yang membuat pening kepala, bau pesing yang tak tertahankan...., pernah suatu ketika saya mengantar turis nyasar, di terminal Leuwi Panjang Bandung ia bermaksud mencari Hotel Topaz tempatnya ia menginap, ketika saya mengajaknya melewati barisan bis antar kota, masyaAllah….saya merasa malu sekali dibuatnya, sepanjang jalan yang kami lalui si bule itu terus-menerus ‘ongkek’ (muntah tak jadi/ batuk-batuk) saya tidak menduga sebelumnya akan demikian bau.

Saya tidak habis pikir mengapa banyak orang memiliki kebiasaan aneh, meniru kebiasaan binatang yang suka buang hajat dimana saja, padahal saya sangat yakin sebagian besar para awak bis dan angkot adalah muslim…….OH TUHAN…….

Budaya Buang Hajat Masyarakat

Ketika saya ditugaskan dari kantor tempat saya bekerja berkeliling ke daerah-daerah pelosok Jawa Barat saya melihat ada kebiasaan buruk masyarakat daerah terutama dalam mendidik anak-anak mereka. Orang tua tidak mengajarkan secara benar kepada anak-anak balita mereka mengenai ‘toilet training’, umumnya anak-anak buang hajat atas inisitif dan keinginannya sendiri, mau di selokan kecil, di halaman rumah, di sungai, sawah semuanya berlangsung atas dasar insting ‘gimana moodnya’. Saya berasumsi kemungkinan orang tua mereka memiliki pemahaman yang terbatas mengenai pentingnya kebersihan dan kesehatan.

Saya melihat program-program yang dijalankan PKK di desa-desa yang dicanangkan sejak tahun 1976 belum menyentuh semua lapisan masyarakat khususnya ibu-ibu di daerah terpencil dan pelosok. Saya kira factor pendidikan keluargalah yang membentuk pertama kali budaya bersih masyarakat dewasa ini.

Lantas kemana para cerdas cendikiawan dari daerah?? Umumnya mereka hidup di perkotaan, masyarakat yang melek pendidikan dan ‘berbudaya’ memiliki pekerjaan dan tempat tinggal di perkotaan. Jarang sekali para cendikiawan tersebut kembali ke tempat asalnya untuk membangun daerahnya sehingga akselerasi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya tidak merata.

Kalau dihubungkan dengan peristiwa yang saya alami dengan kebiasaan orang-orang yang saya sebutkan (termasuk diantaranya para awak bis di terminal) bisa kita asumsikan bahwa mereka tidak mendapatkan pendidikan mengenai kebersihan di keluarga mereka terutama saat mereka masih tumbuh dan berkembang, sehingga budaya bersih tidak terinternalisasi dalam diri mereka.

Solusi

Selain pembinaan keluarga khususnya pendidikan keluarga bagi ibu/ orang tua penangan yang cepat dalam mengatasi masalah tersebut adalah control dari ‘government’ dan masyarakat, sebab walau bagaimana pun kebersihan dan kesehatan lingkungan adalah tanggung jawab bersama tentunya dengan ‘government’ sebagai trigger dalam menjalankan program tersebut dimulai dengan ;

  1. memfasilitasi penambahan tempat buang hajat di setiap fasilitas umum seperti jalanan, terminal, pasar;
  2. melibatkan sector informal untuk menjaga dan mengawasi fasilitas kebersihan tersebut (tentunya dengan pemerintah sebagai pemeliknya);
  3. membuat aturan main yang konsisten bagi semua orang dalam memelihara kebersihan dan kesehatan (khususnya dalam buang hajat sembarangan)

WC Umum Milik Perorangan

Dari sekian masalah yang disebabkan karena keinginan buang hajat, beberapa kalangan masyarakat menangkap peluang tersebut dengan membuka usaha WC Umum milik perorangan, bahkan ada sebuah kecamatan di Kab. Garut hampir sebagian besar penduduknya bermata pencaharian pengusaha dan pengelola WC Umum. Penghasilan mereka terbilang besar sekali melebihi gaji PNS golongan IIIb plus tunjangan keluarga.

Fenomena ini harus ditanggapi dengan baik, kalau menurut saya pribadi pemerintah harus turut memfasilitasi usaha-usaha seperti ini bahkan seharusnya pemerintahlah yang harus memiliki program seperti ini sebab walau bagaimanapun fasilitas milik umum harus dimiliki dan dikelola oleh pemerintah sebagai bentuk pelayanan bagi masyarakat agar terciptanya ketertiban dan keamanan juga akan membelajarkan masyarakat untuk hidup bersih.

Baru selesai saya memikirkan semua ini, saat keluar dari pintu gerbang tol Cileunyi pagi ini , ternyata PT Jasa Marga mulai membangun sarana WC umum tepat berdekatan dengan pintu sebelah utara.

Wallahua'alam bishowab
Penulis : Rina M. Taufik

Tuesday, September 26, 2006

Program Ramadhan

Shaum....Shaum

Seperti tahun sebelumnya usia kita masih bisa mencicipi indahnya Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan untuk sebagian orang dan bulan yang sangat menyiksa pun untuk sebagian orang. Ampunan dan berkah ini memang hanya diberikan bagi mereka yang merasa diseru untuk shaum (karena tidak semua orang diwajibkan shaum), hanya orang-orang yang berimanlah yang diwajibkan shaum. Berbagai program digelar untuk memasuki Ramadhan, ya setidaknya program diri, pribadi.

Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki, membenahi diri karena suasana yang terbangun sangat kondusif untuk lebih khusyu bermesraan denganNya. Bahkan Allah mengatakan di bulan Ramadhan semua syetan, dedemit, ririwa dikerangkeng untuk tidak menggoda manusia maka oleh sebab itu setiap diri hendaknya memiliki program untuk 'continous improvement'. Rasulullah mengatakan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, hari esok lebih baik dari ini (sangat cocok ya dengan prinsip ISO he..he..) Kalau Ramadhan lalu hati kita selalu senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang (kayak iklan...) maka Ramadhan kali ini kita harus merubah diri menjadi senang melihat orang lain senang, dan menolong orang lain yang kesusahan. Kalau dulu sholat kita tidak bisa khusyu maka mulai Ramadhan dan seterusnya kita belajar memahami arti dan makna setiap do'a yang diucapkan saat sholat, begitulah seterusnya.

Oleh karena itulah Allah didalam Al Qur'an disebutkan bahwa tujuan shaum di bulan Ramadhan adalah agar kalian bertakwa " Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa"

Rasanya kita terlalu sering mendengar ayat tersebut dibacakan bahkan materi shaum pun selama hidup kita tak pernah ketinggalan, tapi sudahkah apa-apa yang kita ketahui teraplikasi dalam kehidupan kita? sudahkah setiap Ramadhan sikap dan perilaku kita berubah menjadi lebih baik?

Marilah kita mulai untuk belajar mengevaluasi, berkontemplasi dan merefleksi diri atas segala yang sudah kita lakukan. Azamkan dalam diri bahwa Ramadhan tahun ini harus memberikan arti dalam merevolusi diri, merubah yang buruk menjadi baik, merubah kebiasaan salah menjadi benar dan merubah pemahaman yang keliru menjadi lurus.


Wallahua'alam bishowab
Penulis : Rina M. Taufik

Monday, September 04, 2006

Surat Cinta Untukmu...

Kepada,
Saudaraku yang malang yang kusayang
Di
Bumi Allah


Kita tidak pernah tahu kapan kita meninggal, kalau saja kita tahu tentunya kita akan bersiap-siap menyambut ajal datang, kita akan mengumpulkan semua perbekalan yang diperlukan untuk bisa hidup bahagia di akhirat kelak. Beruntunglah orang-orang yang meninggal karena penyakit yang menggerogotinya...ya setidaknya mereka dapat menangkap sinyal-sinyal yang Allah berikan pada mereka, sayang tidak semua orang meninggal karena sakit, sada yang meninggal tertabrak kereta api, mobil,truk, serangan jantung tiba-tiba, saat tidur pulas, saat tertawa terbahak bahkan ada yang meninggal saat sedang berbuat maksiat. Wallahualam....

Tidak ada satu pun yang mampu menghindari diri dari sakaratul maut: isteri yang cantik, sholeh dan pintar,harta yang melimpah, deposit, rumah dan kendaraan yang kita sayangi semuanya terlepas begitu saja dari diri kita tak ada yang mau menemani. Boleh tanya pada suami atau isteri tercinta kita ’maukah mereka menemani kita saat ajal datang menjemput” jawabannya tentu TIDAK.......sekalipun isteri dan suami kita adalah orang tersholeh di dunia. Kita hanya sendiri menghadapNya...sendiri mempertanggungjawabkan semua amal baik-buruk kita selama di bumi, sanggupkah kita menghadapNya? Sanggupkah kita menghindar dari siksa kubur? Sanggupkah kita mengelak, berbohong diahadapanNya seperti yang sering kita lakukan di hadapan manusia?

Dunia adalah tempat singgah dari perjalanan yang teramat panjang, kita hanya singgah di dunia ini paling banter hanya 70 an tahun, waktu yang teramat singkat jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang satu harinya sama dengan 1000 tahun waktu di bumi. Wow....sulit dibayangkan betapa lamaaaaaaaaanya...Apa dunia yang singkat ini yang menjadi prioritas kita? Sekali lagi TIDAK

Saat di dunia kita selalu berpikir menhitung amal seperti menghitung utang, saat kita lalai tidak sholat, tidak shaum, tidak zakat, kita berpikir ”semuanya akan beres jika kita membayarnya mengakumulasinya dengan rajin beribadah dalam seminggu” dalam seminggu kita lakukan berbagai macam dan jenis sholat baik wajib maupun sunat, berzakat sampai menghabiskan seluruh gaji kita dalam sebulan, shaum pun tidak ketinggalan shaum dawud, shaum senin-kamis...hati kita pun tentram berpikir Allah adalah maha pengampun, Allah akan ngertiin kita, dan rasa bersalah kita pun lambat laun berkurang merasa diri sudah membayar semua kesalahan yang kita lakukan dengan amal sholeh yang kita anggap banyak, kita anggap telah mewakili semua kesalahan kita......Eh giliran minggu berikutnya...saat semuanya berjalan baik-baik saja kita pun merasa bahwa semua dosa telah terampuni ” tak apalah berbuat dosa sedikit...aja, ntar juga ditebus lagi ” (Emangnya Allah tukang kredit???) memaklumi diri menganggap bahwa yang kita lakukan adalah sesuatu yang wajar, toh orang lain pun berbuat maksiat lebih dari saya....., apalah artinya dosa yang saya lakukan jika dibandingkan dengan mereka?

Saat kita dihadapkan pada sesuatu dimana kita harus memilih maka iman kita simpan dalam peti yang terkunci tapi setelah semuanya selesai baru kita sadar bahwa yang kita lakukan adalah salah, dan otak pun berputar mencari pembenaran dan justifikasi dari apa yang sudah kita lakukan ya...sekedar membuat hati tentram dan mencoba lari dari rasa bersalah. DIMANA HATI NURANI KITA???

Dalam diri mukmin ada cahaya iman yang senantiasa menjaga kita dari jalan yang hitam dan gelap, cahaya ini harus senantiasa kita jaga dan pelihara agar tidak padam. Bukankah setiap kali kita akan berbuat salah hati kita selalu berdialog, berperang ? ada bisikan positif dan ada bisikan negatif, bisikan positif datangnya dari cahaya Allah melalui malaikat yang senantiasa menjaga kita sedangkan bisikan negatif bersala dari syetan yang selalu mengajak kita terjerumus dalam lembah dosa. Bisikan atau dialog itu yang disebut dalam teori Self Empowering sebagai Positive and Negative Internal Dialog, dimana orang yang mampu mengabaikan bisikan negatif sebagai seorang yang tangguh dalam memberdayakan dirinya, yang oleh Rasulullah dikatakan bahwa jihad terbesar manusia adalah saat ia berperang melawan bisikan hawa nafsu.

Orang mukmin hatinya cenderung pada bisikan-bisikan malaikat yang, karena inilah esensi dari rukun iman yang kedua yakni percaya pada malaikat, percaya bukan karena keberadaannya tapi jauh dari itu percaya dan mengikuti apa yang senantiasa berbisik dalam hatinya untuk selalu berbuat baik dan benar.

Mari kita renungkan dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih, ’apa sebenarnya yang sedang kita cari?’ rumah indah, mobil mewah, uang yang banyak? Apa dengan semua itu lantas kita akan merasa puas dan cukup? Jawabannya TIDAK, kita akan terus dan terus mengejar rasa puas, tidak ada akhirnya. Dulu saat kita merasa diri paling miskin di dunia kita bermimpi, ’aku akan merasa cukup jika saja memiliki rumah dan mobil saja, setelah kedua hal itu terpenuhi maka keinginan itu bertambah lagi............., begitulah jika kita mengejar sesuatu yang tidak abadi, padahal semua itu tidak akan kita bawa mati, tidak akan menemani kita saat kita menghadapNya. Hanya 3 hal yang akan menolong kita : anak yang sholeh, harta yang dishodaqohkan dan ilmu yang amalkan.


Kalau kita ingat-ingat lagi sudahkan kita mendidik anak kita, membekali mereka dengan tuntunan Allah? Jawabnya TIDAK maka celaka lah kita, walau bagaimana pun mendidik anak harus dengan uswah, mereka belajar dari apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar. Harta kita? Sudahkah kita shodaqohkan dan infaqkan di jalan Allah? Jawabannya mungkin saja iya tapi........bukankah semua itu hanya sebagai alat penebus dosa untuk menutupi dosa-dosa yang kita perbuat, maka kita pun jadi tidak ikhlas menshodaqohkannya jawabannya TIDAK, lalu bagaimana dengan ilmu kita ? sudahkah ilmu yang kita miliki kita amalkan? Ah...sekali-kali juga TIDAK, banyak ayat yang kita hafal, banyak pengetahuan agama yang kita tahu bahkan ilmu-ilmu politik, ilmu perang, ilmu ekonomi, dan life style orang manapun kita tahu, tapi apakah semua itu sudah menjadikannya sikap kita? Apakah ilmu yang kita miliki sudah kita aplikasikan dalam hidup kita sebagai sikap hidup dan amal sholeh? Jawabannya juga TIDAK , rugi dan celakalah kita.


Wallahua'alam bishowab
Penulis : Rina M. Taufik

Thursday, August 03, 2006

Sifat Zionis itu ada diantara dan dalam hati kita

Dalam sejarah diciptakannya manusia, para malaikat mengatakan pada Allah SWT dalam QS Al Baqarah : 30 : ”Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Allah memberikan amanah menjadi khalifah di bumi pada manusia semata-mata sebagai ujian bagi manusia, siapa yang beriman diantara mereka dan Allah membiarkan manusia-manusia sesat sebagai ujian juga bagi manusia beriman siapa yang istiqomah dengan keimanannya, serta agar manusia mengetahui dengan jelas mana yang haq dan bathil.

Dengan banyak kejadian di luar sesuatu yang dipikirkan manusia, semakin memperjelas siapa yang haq dan bathil, siapa kawan dan lawan, mana yang mendukung terhadap kebathilan. Sejarah kebiadaban yang dilakukan musuh-musuh Islam dari masa ke masa selalu sama namun dengan bentuknya yang berbeda. Kalau dulu Hindun memakan hati As Syahid panglima perang Hamzah, keluarga Yasin didigodok di dalam air mendidih, Bilal yang dijemur, ditindih batu di tengah padang pasir yang panas, dan sekarang serangan brutal mengoyak fisik dan mental sangat bertolak belakang dengan human right yang mereka deklarasikan sebagai kaum yang paling mengahrgai human right. Semakin memperjelas identitas hitam dan putih.

Solidaritas umat menggelembung bagai bola salju, melalui long march, demonstrasi yang menyatakan keprihatinan serta mengutuk abis keangkaramurkaan yang dilakukan para zionis dan antek-anteknya. Sumbangan untuk rekonstruksi digalakan, serta do’a mengalir deras melalui mulut para mukmin sedunia atas kebiadaban yang terjadi, muslimin sedunia siap membantu secara fisik untuk melawan kaum zionis. Lantas apa lagi yang harus kita lakukan???????????????

Marilah bermuhasabah atas segala sesuatu yang menimpa kita, mari kita tengok lebih dekat apa saja yang bersarang di hati kita??? Adakah sifat-sifat zionis itu ada dalam diri kita???sifat serakah, egois, dengki, kejam, memerangi secara terang- terangan dienul Islam, ’membatu’ atas ayat-ayat dan perintah Allah ??? Sudah seberapa besar usaha yang sudah kita lakukan dalam menata hati dan perilaku kita sesuai tuntunan Allah???JANGAN-JANGAN KITA MENGUTUK HABIS PARA ZIONIS TERNYATA SIFAT DASAR MEREKA TIDAK JAUH BEDA DENGAN SIFAT YANG KITA MILIKI audzubillahimindalik

Semoga Allah memberikan tempat yang terbaik bagi para mujahidin dan muslimin yang gugur di medan juang.
Saya pribadi ikut prihatin bela sungkawa sedalam-dalamnya atas terjadinya kebiadaban di muka bumi ini dulu, sekarang

Wednesday, July 19, 2006

Kebiasaan Yang Menjadi Beban

Bulan Juli di Indonesia selalu dijadikan bulan yang tepat untuk melakukan kenduri terutama mengkhitan anak laki-laki, pertimbangannya karena anak yang di khitan memerlukan waktu untuk sembuh dan kebetulan bulan Juli adalah masa liburan pelajar dari mulai TK-SMA di Indonesia, sehingga para orang tua memanfaatkan moment ini untuk meng khitan anak-anak mereka. Kalau dihitung-hitung aku pribadi mendapatkan undangan atas kenduri khitanan dalam satu minggu bisa 3-4 undangan, maklum aku dan suamiku termasuk manusia yang banyak dikenal orang (terutama di kampungku...he..he..)



Seperti halnya orang lain, aku pun melakukan hal yang sama memanfaatkan liburan anak untuk mengkhitan dan mengadakan kenduri bagi anakku Sebagai muslim mengkhitan anak merupakan bagian dari sunnah Rasulullah. Niatku tulus hanya melaksanakan sunnah Nabi. Titik...., tapi ternyata tidak untuk orang lain ternyata kenduri khitanan menjadi beban tersendiri bagi sebagian orang yang mendapat undangan

Bagaimana tidak, kultur yang berkembang di Indonesia khususnya di tatar Sunda, mengharuskan tamu yang diundang harus membawa amplop berisi uang untuk ’nyecep’ (memberi uang bagi anak yang dikhitan).Kultur yang berkembang puluhan tahun bahkan ratusan tahun seakan mendarah daging dalam diri kita, sehingga ada perasaan malu jika datang pada acara kenduri khitanan tidak membawa uang/ amplop, yang lebih parah lagi mereka lebih memilih tidak datang daripada tidak ’nyecep’.
Bahkan ada perasaan yang ngedumel dan mangkel saat menerima undangan 3-4 kenduri khitanan dalam seminggu di bulan juli, artinya mareka harus mengeluarkan 3-4 amplop uang/amplop. Dapat dibayangkan berapa budget yang harus dikeluarkan dalam sebulan jika setiap amplop berisi 20 ribu-50 ribu ( ukuran rata-rata keluarga menengah ke bawah) kurang lebih 240 ribu – 800 ribu.

Budaya inilah yang membuatku kesal karena sudah menjadi sikap massal dari masyarakat untuk tidak datang pada undangan jika mereka tidak memiliki uang. Sangat jauh dari tujuan kenduri yang sebenarnya, bukankah mengundang orang datang pada saat kenduri adalah untuk mempererat silaturahiim?, mengumpulkan orang yang jarang bertemu di satu tempat?, bersyukur atas rahmat Allah dengan mengumpulkan sanak saudara, handai taulan untuk berbagi kebahagiaan. Bahkan Rasulullah mencontohkan syukuran dengan mengadakan kenduri mengundang fakir miskin untuk makan makanan yang lezat, berbagi kebahagiaan dengan mereka.


Undangan Pernikahan

Sekitar 10 tahun yang lalu kebiasaan menghadiri undangan pernikahan agak lain dengan undangan khitanan, kalau undangan khitanan setiap orang merasa terbebani untuk membawa uang/amplop, maka undangan pernikahan saat itu ’mengharuskan’ undangan membawa kado yang berisi barang-barang yang bermanfaat bagi sang pengantin, biasanya alat-alat rumah tangga. Tapi seiring dengan kemajuan jaman dimana dituntut nilai praktis, maka paradigma itu bergeser menuntut hal yang sama seperti halnya undangan khitanan bahkan di surat undangan pernikahan acapkali kita menemukan tulisan ” Dengan tidak mengurangi rasa hormat, kado atau cindera mata tidak berupa barang ” pernyataan tersebut nampak halus, padahal artinya undangan diharuskan membawa uang jangan barang. Inipun sama semakin jauh dari tujuan syukuran kenduri yang sebenarnya, terkesan komersil.

Kalau kurenungkan lebih seksama masyarakat kita sudah terjebak budaya yang ’material oriented’alias kapitalis alias ’yahudi’ semua sikap/ perilaku selalu diukur dengan materi. Pengorbanan yang dilakukan harus selalu sepadan dengan sejumlah materi yang harus kita terima.

Marilah kawan kita kembali pada sunnah Rasulullah bahwa esensi syukuran kenduri adalah untuk mengumpulkan fakir miskin, sanak family menjalin erat silaturahiim, memohon do’a mereka.

Jadi kalau kita luruskan lagi niat, maka tidak wajib untuk membawa uang/amplop pada saat diundang kenduri khitanan atau pernikahan, kalau punya uang tidak salah memberi uang/ amplop sekedar ikut merasakan senang tapi jika hal itu menjadi beban sehingga menghambatnya untuk datang..hati...hati kita bisa terjebak dosa, karena pesan Rasulullah dalam sebuah hadits mengatakan ’kewajiban mukmin yang satu pada yang lainnya dalah : jika mereka diundang maka mereka wajib untuk datang’

Wednesday, July 12, 2006

Rasa Sakit = Warning system

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” QS. Al Imran 191

Sekian banyak ayat dalan Al Qur’an yang menyebutkan bahwa semua yang Allah ciptakan teratur rapi memiliki fungsi yang luar biasa. Seisi langit dan bumi termasuk didalamnya makhluk-makhluk sangat kecil yang tidak bisa terlihat dengan mata, semuanya memiliki peran dan fungsinya masing-masing, yang Allah titipkan/ amanahkan kepada manusia dalam mengelola dan memeliharanya sesuai dengan kehendakNya, sesuai dengan aturanNya.

Jika manusia yang Allah angkat sebagai khalifah di muka bumi ini, tidak menjalankan dan memfungsikan sumber daya dan sumber dana sesuai dengan kehendak Allah, maka tunggulah adab dariKu. Artinya alam yang kita ciptakan menuntut haknya untuk diperlakukan sebagaimana mestinya termasuk tubuh kita sendiri. Tubuh kita ini harus berdaya dan berhasil guna untuk mengabdi kehadapanNya dengan aktifitas bermanfaat yang semuanya dinisbatkan demi tegaknya risalah Allah.

Baik alam di luar diri kita maupun tubuh kita sendiri, Allah sudah melengkapi semua perangkat sistemnya dengan sangat sempurna. Contoh kecil, jika kita lupa makan seharian maka perut kita akan sakit melilit dan perih, jika tubuh kita pusing atau panas tentunya ada organ tubuh kita yang kena infeksi terserang virus. Rasa perih, pusing dan demam ini adalah bentuk protes tubuh pada kita mereka seakan berkata”...tolonglah jangan perlakukan kami begini,...aduh..tolonglah ini ada virus yang menyerang kami gara-gara kamu tidak menjaga kesehatan....” atau dengan istilah lain sebagai WARNING SYSTEM

Seperti halnya sistem keamanan alarm yang dipasang di rumah-rumah atau kendaraan, jika ada serangan atau something wrong maka warning system nya menyala atau berbunyi.....itu berarti petunjuk bagi sang pemilik. Rasa sakit ini memberi tanda adanya luka/ cedera . Ia juga merupakan satu bentuk mekanisme perlindungan dan peringatan kepada seseorang supaya tidak membuat atau mengulangi sesuatu mendatangkan cedera. Tanpa petunjuk ini, sesorang tidak mungkin mengetahui ada anggota tubuh atau organ mereka mengalami luka/ cedera dan memerlukan perawatan dan penanganan segera.

Dalam keadaan biasa, rasa sakit merupakan reseptor pinggiran yang dirangsang, menyalurkan isyarat-isyarat melalui sistem sarag ke otak. Apabila terdapat cedera, isyarat-isyarat tersebut disalurkan melalui saraf yang berkaitan ke otak dan seseorang akan menderita kesakitan.
Bayangkan jika saja warning system atau rasa sakit dalam tubuh kita tidak kita rasakan, APA YANG AKAN TERJADI????????? Tentunya tubuh kita ini sudah hancur dan punah sejak lama karena kita tidak bisa mengontrol apakah tubuh kita sedang sakit atau tidak. Banyak diantara kita yang menghilangkan secara berlebih rasa sakit itu dengan mengkonsumsi beraneka macam obat-obatan penahan rasa sakit, akan merugikan jika menkonsumsi lebih dari batas toleransi, tentunya akan merusak sistem dalam tubuh , tubuh kita akan menjadi kebal dan warning system kita pun tidak akan berfungsi dengan baik.

Oleh karena itu bersyukurlah dengan rasa sakit yang telah Allah berikan kepada kita, syukurilah.

Tuesday, June 06, 2006

Ketika Engkau Jatuh CINTA


Oleh : Ibu Rina Mutaqinah Taufik

(materi pembelajaran Akhlaq dan Pembiasaan Kelas 2 semester 1 SMP Terpadu Baiturrahman Ciparay-Bandung)

Setiap manusia normal pasti mengalami jatuh cinta, tak terkecuali engkau Anakku, Ibumu, Ayahmu, dan yang lainnya.

Banyak cara orang menyikapinya ada yang membuatnya menjadi prustasi, ada yang membuatnya jadi berprestasi, ada yang menjadikannya motivasi atau mungkin ada juga yang membuatnya mati dikuasai cinta.

Anakku, sebentar lagi atau mungkin diantara kalian ada yang sudah mengalami jatuh cinta…Ibu sangat khawatir jika kalian salah dalam menyikapi ‘jatuh cinta’ oleh karena itu, Ibu berharap materi ini akan membekali kalian bagaimana seharusnya kalian bersikap ketika jatuh cinta.

Definisi CINTA Dalam Al Qur’an

Dalam sebuah seminar yang digelar DKM Ulil Albab Unpas Bandung, Zonaina Yuhadisi membeberkan bahwa kata cinta dalam Al Qur’an disebut Hubb (mahabbah) dan Wudda (mawaddah), keduanya memiliki arti yang sama yaitu menyukai, senang, menyayangi.

Sebagaimana dalam QS Ali Imron : 14 “Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga).” Dalam ayat ini Hubb adalah suatu naluri yang dimiliki setiap manusia tanpa kecuali baik manusia beriman maupun manusia durjana.

Adapun Wudda dalam QS Maryam : 96 “ Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh, kelak Allah yang maha pemurah akan menanamkan dalam hati mereka kasih sayang ” jadi Wudda (kasih sayang) diberikan Allah sebagai hadiah atas keimanan, amal sholeh manusia.


Dipertegas lagi dalam QS Ar Rum : 21 “ Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah ia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
Dalam ayat inipun Allah menggambarkan ‘cenderung dan tentram’ yang dapat diraih dengan pernikahan oleh masing-masing pasangan akan diberi hadiah (ja’ala) kasih sayang dan rahmat.

Dalam fil gharibil Qur’an dijelaskan bahwa hubb sebuah cinta yang meluap-luap, bergejolak. Sedangkan Wudda adalah cinta yang berupa angan-angan dan tidak akan terraih oleh manusia kecuali Allah menghendakinya, hanya Allah yang akan memberi cinta Nya kepada hamba yang dkehendakiNya. Allah yang akan mempersatukan hati mereka. Walaupun kamu belanjakan seluruh kekayaan yang ada di bumi, niscaya kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan cinta jika Allah tidak menghendakiNya. Oleh karena itu terraihnya cinta—wudda pada satu pasangan itu karena kualitas keimanan ruhani pasangan tersebut. Semakin ia mendekatkan diri kepada sang Maha Pemilik Cinta maka akan semakin besarlah wudda yang Allah berikan pada pasangan tersebut.

Cinta inilah yang tidak akan luntur sampai di hari akhir nanti sekalipun maut memisahkannya, cinta yang atas nama Allah, mencintai sesuatu atau seseorang demi dan untuk Allah.

(Ayo jangan kerung begitu, wah materinya agak berat ya…dong tersenyumlah…, baiklah Ibu akan jelaskan lebih lanjut dengan bahasan yang agak ringan)

Masa Remaja

Masa remaja adalah masa yang penuh konflik, kritis dan penuh gejolak. Bagaimana tidak, masa remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Banyak diantara remaja yang bingung menghadapi semua perubahan yang dialaminya, baik perubahan fisik, psikis dan mental. (Tugas perkembangan remaja akan dijelaskan lebih lanjut pada materi pembelajaran selanjutnya)

Karena kurang pengetahuan, banyak diantara mereka menjadi rendah diri saat suaranya mulai besar dan parau, ditambah perubahan fisik dan wajahnya yang berjerawat sehingga perubahan tersebut membuat remaja menarik diri dari lingkungan yang membuatnya tertekan. Di saat seperti ini lingkungan sangat membantu dan memberi pengaruh yang besar dalam perkembangan selanjutnya.

Di sisi lain kebutuhan remaja senang berkumpul, membuat kelompok dengan teman sebaya (peer group) menjadikannya menarik diri dari lingkungan keluarga, kalian lebih memilih berkumpul dengan teman daripada pergi dengan orang tua, iya…kan??????. Berkumpul dengan teman, merencanakan suatu kegiatan yang membuatmu merasa dihargai, membuatmu merasa diakui sangat lah penting, apalagi jika ada seorang gadis atau seorang remaja putera yang menarik perhatianmu….rasanya kamu ingin sekali menunjukkan kelebihanmu… (hayooo…ngaku.aja….tuh Ibu tau kan???, so pasti karena Ibu juga pernah muda he…he…) kita lanjutkan ya…Kamu juga sangat tidak ingin orang lain meremehkanmu, apalagi jika itu cewek dan yang paling membuatmu sebel jika ayah ibumu selalu mendiktemu menganggapmu masih anak-anak…nyuruh ini ..itu, harus begini…harus begitu…, tidak boleh mealkukan ini dan itu…rasa sebel deh kalo sudah kayak gitu.

So…yang sangat membuatmu sulit mengendalikan diri yaitu` pada saat kamu sedang jatuh cinta…nah..lho…ketauan…, di sisi lain ustadz dan ustadzah menyuruhmu untuk menghindari diri dari “pacaran” sementara itu adalah sesuatu yang indah menurut orang lain.

Ketika hati sedang dilanda CINTA…

Didalam Islam tidak ada istilah pacaran yang ada pernikahan, jika sepasang laki-laki dan perempuan saling jatuh cinta maka haram bagi mereka untuk tidak segera menikah.

“ Janganlah engkau mendekati zinah, sesungguhnya zinah itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al Israa : 32 )

mendekati jinah saja tidak boleh….sikap dan perilaku yang terkategori mendekati jinah adalah :
- memandang lawan jenis dengan penuh nafsu
- dengan sengaja menyentuh kulit lawan jenis
- berduaan di tempat gelap
- pergi berduaan tanpa muhrim
- pacaran
- dll


Pacaran adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dengan alasan yang walaupun dibikin sedikit masuk akal sebagai bentuk ta’aruf menjelang menikah, tapi tetap saja pacaran sebagai perilaku yang termasuk ‘mendekati jinah’. Ta’aruf dan pacaran merupakan dua konsep yang jauh berbeda (selanjutnya akan dibahas pada materi Pacaran atau Ta’aruf)

Yang terpenting bagi kalian untuk saat ini adalah apa yang harus dilakukan saat kita sedang jatuh cinta???..walaupun kalian seorang santri… tetap aja ‘ santri juga manusia…punya rasa…punya ..hati” iya kan…he..he…jadi ketularan lagunya boy band serieus. Artinya kalian pun punya perasaan yang sama dengan yang lainnya pasti mengalami jatuh cinta…karena itu adalah Sesuatu yang alami, sesuatu yang sangat wajar, jika tidak pernah mengalaminya patut dipertanyakan…apakah kalian normal???

Menurut Ustadzah Zonaina Yuhadisi ada 3 respon yang biasa dilakukan remaja saat jatuh cinta .

  1. Hanyut dan tenggelam dalam rasa cinta, ini akan membuat orang rugi dunia dan akhirat
  2. Membuang dan membunuh rasa cinta tersebut, ini bukan sikap yang bijak karena rasa cinta tidak bisa dibunuh
  3. Mensyukuri dan mengenndalikannya, ini sikap yang tepat

Mengendalikan CINTA

Masih menurut Ustadzah Zonaina Yuhadisi
Sikap yang harus kalian camkan dan lakukan saat kalian jatuh cinta adalah….(apa hayo….ada yang tau…ada yang sudah punya pengalaman ngatasin jatuh cinta???baiklah gini…)

Bersyukur kepada Allah karena bias jatuh CINTA
  • Berlindunglah kepada Allah agar tidak dikuasai CINTA
  • Sadari mengapa jatuh CINTA
  • Sadari hal-hal positif yang bias dibangkitkan dengan CINTA
  • Sadari hal-hal negative sebagai dampak dari jatuh CINTA
  • Eliminir kekeliruan akibat jatuh CINTA
    (penjelasan lanjutan pada materi berikutnya…nah lho …)
  • Sedangkan rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar :

    1. Jangan berduaan
    2. Jangan bertatap-tatapan
    3. Jangan di tempat sunyi
    4. Jangan ikuti bisik dan langkah syetan.

    Nah, cukup sekian materi kali ini Ibu berpesan, ketika rasa CINTA itu datang dan menggoda, waspadalah…syetan sedang memberi angan-angan dan menjebak kita dalam kenistaan. Awalnya seseorang akan hanyut dengan cinta karena ia membiarkan rasa itu ada dan mengalir sesuai kehendak cinta itu sendiri, karena itu lah banyak orang yang menjadi korban cinta.

    Untuk itu marilah kita belajar mengendalikan cinta dan menyikapinya dengan bijaksana. Jangan beri peluang sekecil apapun kepada cinta untuk menguasai diri kita. Kembalikan rasa cinta kita kepada pemilik dan pemberi cinta sejati, agar hidup kita penuh cinta yang abadi.

    Semoga engkau anak-anakku Allah memberi semua perlindungan dan kemampuan dalam mengolah emosi mengendalikan diri agar tidak terjatuh dalam cinta yang nisbi dan palsu, dan semoga pula kalian mendapatkan wudda dalam hidupmu dengan prestasi amalmu, Ibu akan ada untuk kalian…bersama menggapai langit…menuju keharibaanNya, dalam kampung akhirat yang penuh wangi bunga, dengan air jernih mengalir di sekelilingnya.

    Akhirnya marilah kita simak puisi indah, kalau Ibu tak salah mengingat begini…

    CINTA

    Tuhan…….
    Saat aku menyukai seseorang teman
    Ingatkanlah aku akan ada sebuah akhir
    Sehingga aku tetap bersama yang tak berakhir

    Tuhan….
    Ketika aku merindukan seorang kekasih
    Rindukan aku kepada yang rindu cinta sejatiMu

    Tuhan….
    Jika kembali mencintai seseorang
    Teruskan aku dengan orang yang mencintaiMu
    Agar bertambah kuat cintaku padaMu

    Tuhan….
    Ketika aku sedang jatuh cinta
    Agar tak melebihi cintaku padaMu

    Tuhan Ketika aku berucap aku cinta padaMu
    Biarlah kukatakan kepada yang hatinya terpau padaMu
    Agar aku tak jatuh cinta
    Dalam cinta yang bukan karenaMu

    Sebagaimana orang bijak berucap
    Mencitai seseorang bukan apa-apa
    Dicintai seseorang adalah sesuatu
    Dicintai oleh orang yang kau cinta
    Sangatlah berarti

    Tapi……..
    Dicintai oleh seorang pecinta
    Adalah segalanya……….

    Salam, sampai jumpa materi berikutnya.

    Wednesday, May 10, 2006

    Tubuh Rambo Hati Rinto


    Eit…jangan mesem gitu dong….he..he.. paling tidak kita semua tau kan siapa Rambo?? Iya..itu lho si Prajurit yang gagah perkasa, yang tak NATO alias ’no action talk only’, yang ksatria, pemberani berotot besi, berurat kawat dan bertulang baja, yang diperankan oleh Silver Stallone...(wah itu sih film favorite ummi, setidaknya cerita heroiknya). Nah...itu dia..orang macam gitu lah yang dimaksud dalam tulisan ini tubuhnya bagai Rambo.

    Namun,.......lain Rambo Silver Stallone lain juga Rambo yang berhati Rinto. Kamu tahu kan Rinto Hararap (..kayaknya kurang begitu kenal ya..ini penyanyi dan pencipta lagu kawakan Indonesia) beliau itu pencipta lagu-lagu yang notabene berlirik cengeng, memelas, mengeluh dan melankolis gitu lah…

    So…bertubuh Rambo dan berhati Rinto adalah bukan arti yang sebenarnya, tubuh Bung Rinto Harahap sendiri tinggi besar, yang saya maksud adalah lagunya itu, …jadi bertubuh Rambo dan berhati Rinto macam orang-orang berperawakan besar dan kekar tapi sangat cengeng ketika menghadapi masalah.

    Saya sering bertanya-tanya dalam hati setiap berhadapan dengan orang-orang seperti demikian, apa yang salah dengan mereka?, pendidikan macam apa yang pernah mereka rasakan dari orang tua atau gurunya? Dan terapi apa yang tepat agar mereka bisa cukup tegar mengarungi hidupnya, mampu memberi manfaat bagi dirinya dan juga orang lain. Dari renungan-renungan itu, bisa kita tarik garis merahnya mereka tidak memiliki sikap ’fighting spirite’, struggle of life nya rendah.

    Manusia tidak bisa hidup hanya dengan mengandalkan IQ yang tinggi tapi juga skill-skill lainnya yang kadang-kadang luput dari kurikulum pendidikan kita, atau guru yang lupa mengajarkan/ menanamkannya atau bahkan orang tua tidak menyadari betapa pentingnya menanamkan sikap dan membentuk kepribadian militan, padahal memasuki arus global fighting spirite skill itu sangat mutlak diperlukan agar mereka bisa kompetitif selalu berusaha untuk terus belajar,belajar meraih apa yang dicita-citakan, tidak mudah patah arang dalam mengejar cita-cita dan melaksanakan tugas hidupnya.

    Coba kita bayangkan seperti apa dunia kita ini di 20 tahun mendatang?? Tentunya teknologi semakin canggih bergerak cepat seperti cahaya, ilmu pengetahuan semakin berkembang, orang-orang pun terus melakukan pengembangan dan peningkatan diri. Bagaimana dengan nasib kita, mukmin di masa yang akan datang? Akankah kita menjadi pecundang dan penonton atas semua kemajuan yang ada? Atau mau menjadi pelaku sejarah untuk mengubah dunia ini sesuai dengan kehendakNya?.

    Jelas sudah tidak ada lagi tempat bagi mereka yang malas, yang kerjanya hanya melamun meratapi nasib, memelas minta dikasihani dan mengeluh setiap kali musibah datang menghampiri.

    Tugas Hidup Manusia

    Kalau kita ingat-ingat lagi tugas kita sebagai manusia yakni
    - sebagai abid (hamba) QS. Adzari’at : 56
    - sebagai khalifah QS. Al Baqarah : 30

    Abid (Hamba)

    Mari kita renungkan tugas manusia sebagai abid adalah Mengabdi berasal dari dari kata abadan, abdi artinya menyerahkan secara totalitas semua yang kita miliki kepada Allah termasuk factor subyektif yang dimiliki aku kepada Allah. Posisi abid adalah posisi yang teramat hina, kalau dianalogikan (namun Allah tidak bisa dianalogikan) maksudnya posisi abid adalah hamba sahaya pada jaman Rasulullah adalah posisi yang tak punya kuasa sedikitpun sekalipun hak untuk hidup. Jika seorang majikan menginginkan hamba sahayanya pergi atau mati maka dibunuhnya lah ia, artinya posisi abid tak punya hak untuk bertanya, berpendapat, membantah , meminta, memohon termasuk hak untuk hidup sekalipun. Semuanya bergantung kepada si pemilik hamba sahaya tersebut. Begitu pun diri kita di hadapan Allah, kita tidak punya hak apapun yang ada hanyalah kewajiban untuk tunduk dan taat kepadaNya.

    Khalifah

    Kholifah adalah pemimpin, kholifah fil ard adalah pemimpin di muka bumi. Setiap diri adalah pimpinan untuk dirinya, keluarganya dan masyarakatnya. Posisi kholifah sangat bertolak belakang dengan posisi hamba namun paradok ini adalah suatu tatalitas jati diri mukmin. Disamping sebagai hamba di hadapan Allah juga sekaligus sebagai pimpinan di muka bumi, di hadapan mahluk dan pemimpin sebagai kepanjangtanganan dari posisi Allah sebagai raja.Pemimpin untuk dirinya sendiri, ia bertanggung jawab atas amanah tubuh dan jiwanya untuk mengabdu hanya kepada Allah. Pemimpin dalam keluarga ia bertanggung jawab memimpin, mendidik, membimbing, menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka. Sedangkan pemimpin bagi seluruh alam adalah ia bertanggung jawab atas amanah sumber daya alam dan manusia dan apapun yang Allah beri kepada seluruh manusia untuk digunakan dimanfaatkan dan diatur sesuai dengan keinginan sang maha mencipta sehingga menjadi rahmatan lil alamin: (QS Al Anbiyaa : 107)Ciri-ciri kholifah :a. Hamba Allah yang sholehb. Beriman dan beramal sholeh dengan fastabikul bil khoirot

    tugas yang segitu berat?????????, perlu sikap mental yang tangguh, kuat, tahan guncangan, kompetitif alias fastabikul bil khoirot (berlomba dalam kebaikan), sportif, memiliki daya lenting yang tinggi dan tidak pernah berputus asa akan rahmat Allah SWT. Bukan mental yang cengeng, banyak mengeluh, berkeluh kesah, selalu menyalahkan keadaan dan mudah menyerah. Bayangkan saja moso iya seorang pemimpin bermental cengeng? (bisa kali ye..kalau ia menjadi pemimpin negeri liliput, dan kurcaci banci he..he..)

    Fighting Spirite

    Siapapun dia, dimana pun tinggal maka untuk menjadi survive manusia harus memiliki fighting spirite . Indikator sikap fighting spirite tertuang dalam, QS. Al baqarah : 148, QS. Al Ma’idah : 48, QS. Al Hadiid : 21. Yakni :

    Memiliki tujuan dan orientasi hidup yang jelas

    1. Fastabikul khoerot
    2. Memiliki mental kompetitif dalam meraih prestasi iman, ilmu dan amal sholeh
    3. Bersabar
      Bersabar adalah tidak berputus asa dalam mengharap ridho Allah.

    Setelah menulis tulisan ini, jadi malu pada diri sendiri, saat diri banyak mengeluh, merasa tidak siap menghadapi resiko sebagai pengemban amanah Nabi.
    Ya Allah berilah hamba kekuatan iman, mental dan fisik dalam mengemban amanah ini.

    Tuesday, April 25, 2006

    Percekcokan Dalam Rumah Tangga Bernilai Ibadah ? Benarkah ?

    "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
    Salah satu anjuran Rasulullah untuk Menikah :
    Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

    Pernikahan menyatukan dua energi besar untuk sama-sama berjuang menggapai ridlo Allah SWT. Penyatuan energi sehingga membentuk suatu sinergi tentunya membutuhkan waktu untuk saling menyesuaikan diri. Dalam proses penyesuaian itulah akan banyak ditemui ketidakcocokan, pergesekan yang menimbulkan konflik dari masing –masing pasangan. Betapa tidak masing-masing memiliki latar belakang budaya, kebiasaan, karakter yang berbeda untuk diselaraskan sesuai dengan keinginan Allah SWT dalam sebuah pernikahan.

    Agar konflik dan masalah dalam berrumah tangga dapat diminimalisir maka setiap pasangan harus memiliki pengetahuan yang cukup sebelum mereka memasuki jenjang pernikahan, sehingga dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka sudah siap menghadapi goncangan, pergesakan dan hambatan yang ada.


    Pernikahan

    Pernikahan adalah konsep sakral dari sebuah kontak (ijab Qobul) secara syah yang dilakukan oleh pasangan lelaki dan perempuan sesuai tata nilai hukum yang berlaku, baik hukum positif maupun hukum religius.

    Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima. Ijab qabul adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu.

    Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa:Sahl bin Said berkata: "Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: "Saya serahkan diriku kepadamu." Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya." Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda: "Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu." (HR. Bukhari dan Muslim).

    Secara umum tujuan suatu penikahan menurut Islam adalah untuk mencapai ridho Allah, secara khusus yakni :
    1. Mengabdi ke hadapan Allah.
    2. Malaksanakan sunnah Rasulullah.
    3. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
    4. Membentuk suatu masyarakat islami.
    5. Mendapatkan ketenangan jiwa.

    "Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

    Percekcokan dalam Rumah Tangga

    Dalam suatu interaksi dua manusia yang berlatar belakang beda baik secara kultur, karakter dan gaya hdup sudah dapat dipastikan tidak akan lepas dari suatu pergesekan nilai dan kebiasaan, sehingga menimbulkan suatu percekcokan.Hal ini sangat wajar dan manusiawi, jangankan pasangan seperti kita manusia biasa, rumah tangga Rasulullah pun tidak lepas dari percekcokan, yang membedakannya dengan kita Rasulullah memiliki akhlaq yang mulia dan dibimbing oleh Allah untuk menjadi contoh bagi ummatnya.

    Banyak keluarga muslim yang hanya karena masalah kecil mengakhiri pernikahan, suatu ikatan yang telah Allah kokohkan. Masalah bisa saja hanya bermula dari salah persepsi karena komunikasi yang tidak lancar sehingga menimbulkan salah pengertian atau mungkin kebiasaan kecil suami yang tidak disukai isteri atau juga ketidaktepatan mengekspresikan emosi seperti kecewa, marah. Semuanya bisa saja terjadi hanya saja ada pasangan yang mampu mengatasi masalah kecil tersebut dengan baik ada juga yang tidak mampu menyelesaikannya sehingga masalah kecil tersebut menumpuk dan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan bahtera rumah tangga yang sedang dibangun.

    Faktor-faktor penyebab terjadinya percekcokan dalam rumah tangga adalah:

    1. Kurang lancarnya komunikasi

    Komunikasi menjadi bagian yang sangat penting dalam berrumah tangga, bagaimana mungkin masing-masing pasangan mengetahui keinginan dan harapan pasangannnya kalau tidak adanya komunikasi yang baik sehingga keinginan dan harapan tersampaikan dan tidak salah persepsi. Seorang suami atau isteri hendaknya menyampaikan pesan dengan lembut dan baik, tentunya dengan mempertimbangkan pula waktu dalam menyampaikan pesan tersebut.

    Suami yang baru saja pulang kerja dengan badan yang lelah dan perut yang lapar tidak mungkin seorang isteri menyampaikan keluhannya sepanjang siang itu, tapi harus menunggu waktu yang tepat dimana suami dalam keadaan yang santai dan tenang

    2. Kurangnya pengetahuan/ ilmu

    Sebelum memasuki jenjang berrumah tangga calon suami atau isteri sebaiknya menggali dan menyempurnakan ilmu tentang pernikahan, dengan ilmu maka kita akan paham seperti apa rumah tangga yang dicontohkan Rasulullah dan bagaimana melajukan bahtera di tengah lautan kehidupan yang bergelombang.

    3. Kurangnya pengendalian diri masing-masing pasangan

    Sebelum menikah mungkin segalanya tampak indah di depan mata. Satu, dua, tiga bulan pertama semuanya bak di syurga dunia, tapi ketika usia pernikahan memasuki bulan keempat mulailah masalah bermunculan. Disini kita harus mampu mengendalikan diri kita. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri diuji oleh Allah. Sikap yang tepat dalam menghadapi dan mengatasi masalah adalah dengan senantiasa berlindung dan memohon pertolongan Allah untuk tetap tenang, diberi kemudahan untuk berpikir jernih dan bertindak tepat.

    Banyaklah belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah berpengalaman dalam berrumah tangga, khususnya keluarga-keluarga mukmin, bagaimanakah mereka mengatasi konflik rumaha tangga, bagaimanakah mereka mengendalikan diri ketika menghadapi masalah.

    4. Tidak adanya kesadaran sebagai hamba

    Seorang hamba Allah sepanjang hidupnya selalu mengabdi, segala aktifitasnya harus selalu bernilai ibadah di hadapan Allah dalam QS. Adz Dzaariyaat : 55 dikatakan ” dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi (beribadah) kepadaKu”

    Maka seorang hamba Allah akan meninggalkan semua sikap dan perilakunya yang tidak bernilai ibadah. Semua yang dilakukannya harus untuk dan atas nama Allah, dengan bertitik tolak pada ”Sukakah Allah dengan apa yang akan kulakukan?”

    Benarkah Budaya Jawa ”Nrimo” Sesuai Syariat Islam?

    Perempuan adalah mahluk yang sangat istimewa dengan kehalusan budi pekerti, kelembutan cinta, wajah nan anggun berwibawa, suara yang lirih, langkah yang gemulai dan sikap yang taat, patuh, hormat pada orang tua serta berbakti pada suami, merupakan gambaran perempuan di mata bangsa Jawa dan beberapa bagian di Indonesia. Tabu jika ada seorang perempuan yang lantang, memberontak terhadap suatu keputusan orang tua atau suaminya, melanggar adat katanya. Bahkan ketika seorang suami menyakitinya, menjadikannya isteri simpanan pun tabu baginya untuk menolak apa lagi melawan.

    Nilai-nilai tersebut semakin menguat dengan datangnya Islam ke Pulau Jawa, walau salah kaprah dalam memahaminya budaya ’nrimo’ sudah menjadi bagian dari kehidupan beragama di Jawa. Suami adalah pimpinan rumah tangga sehingga apa yang dikatakannya mutlak harus ditaati ’pamali’ jika membantah atau menolak.

    Sebenarnya perintah taat dalam Islam tidak demikian, selalu diikuti kata ”selama pimpinan (baik kepala rumah tangga, pemimpin masyarakat dan pimpinan negara) tersebut tunduk dan taat kepada Allah dan RasulNya.

    Ketaatan kepada ulil amri merupakan ketaatan bersyarat yakni taat manakala ulil amri tersebut berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, apalagi ketaatan terhadap seorang suami. Taat dan patuh kepada suami adalah semata-mata hanya karena Allah telah memerintahkannya, sehingga semua yang dilakukan suami atau isteri akan bernilai ibadah manakala ia melakukannya atas nama Allah SWT, mencintai suami atau isteri merupakan bentuk kecintaan terhadap Allah SWT.

    Manakala seorang pimpinan berbuat menyimpang dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah maka ketaatan tersebut menjadi batal adanya. Dalam berrumah tangga jika suami berbuat salah maka isteri wajib mengingatkannya, mengajaknya kembali ke jalan yang benar, tetapi jika berbagai cara telah dilakukan untuk mengingatkan suami maka suami tersebut tidak wajib untuk ditaati, sehingga ’nrimo’ nya Jawa tidak berlaku. Dalam hal ini manakala suami menyimpang dari ketentuan Allah SWT maka isteri tampil bak seorang ’Srikandi’ di medan perang gigih berjuang melemahkan nafsu syetan yang ada dalam diri suami.

    Seperti telah disebutkan di atas QS At Taubah : 71 "Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

    Suami isteri harus merupakan penolong menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada hal yang munkar, sehingga ketika percekcokan suami isteri karena salah satunya menyimpang dari ketentuan Allah, maka pasangannya mengingatkan dan meluruskannya, sehingga percekcokan tersebut akan bernilai ibadah. Percekcokan inilah yang dibenarkan oleh Allah SWT dan bahkan dianjurkan, seperti dalam hadits Bukhori Muslim
    ”Jika melihat kemunkaran cegahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu cegah dengan lisanmu dan jika tidak mampu cukuplah dengan hati maka itulah selemah-lemahnya iman”

    Suami dan Isteri Sebagai Partner

    Era globalisasi informasi telah mengubah pandangan tentang wanita dan isteri, posisi wanita bukan berada di bawah telunjuk pria atau kaum suami tetapi memiliki kedudukan yang sama bahkan lebih tinggi. Fenomena pandangan tentang wanita ’mampu mengerjakan semua pekerjaan seperti halnya pria’ telah menyeret wanita meniggalkan fitrahnya,banyak ditemukan keputusan dan pengelolaan rumah tangga mutlak di tangan isteri, sehingga suami kehilangan wibawa dan pengaruhnya dalam memimpin rumah tangga.

    Islam dien yang menjunjung tinggi wanita, dalam Islam wanita adalah partner dalam menjalani biduk rumah tangga. Wanita dan pria sama-sama sebagai subyek bukan obyek. Namun tetap pria dengan berbagai kelebihan yang Allah berikan ia sebagai pemimpin dalam berrumah tangga. Isteri dalam hal ini sebagai partner, sebagai wakil di rumah tangga.

    Jika fitrah yang Allah tetapkan ini dilanggar maka lihatlah kesudahan orang-orang yang tidak mentaati ketetapan Allah SWT, malapetaka dan kehancuran yang akan didapat., serta jauh dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

    Menjalankan peran sebagai subyek dalam rumah tangga, berarti isteri memiliki kewajiban untuk menolong, meluruskan suami ketika suami berbuat menyalahi aturan Allah SWT, sudah barang tentu sebaliknya jika isteri menyimpang dari jalan Allah SWT maka suami berkewajiban mendidik dan mengarahkannya ke jalan yang benar.

    Jika dalam menjalankan perannya baik suami atau isteri tidak mau mendengarkan tausyiah kita maka percekcokan akan terjadi, namun percekcokan ini akan menjadi ibadah di hadapan Allah, sehingga tidak perlu khawatir selama kita benar sesuai dengan ketetapan Allah janganlah takut atau merasa bersalah pada saat kita harus adu mulut atau mungkin adu otot dengan pasangan kita.

    Dari uraian di atas maka sebaiknya calon isteri atau suami sebelum memasuki jenjang pernikahan, sempurnakanlah ilmu dan pengetahuan tentang berrumah tangga sesuai tuntunan Rasulullah SAW .Melalui tahapan seperti di bawah ini :

    1. Ta’aruf
    ” Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” (QS.Al Hujurat : 13)

    Ta’aruf tidak identik dengan pacaran, ta’aruf artinya saling mengenali diri masing- masing. Proses ta’aruf sebelum menikah hanya dibolehkan jika sesuai syariat yang telah Allah tetapkan, bukan liar dan tidak terkontrol. Ta’aruf yang dibenarkan memiliki rambu-rambu sebagai berikut :
    • bertujuan mengenali pasangan untuk menuju jenjang pernikan (bukan untuk eksploitasi hawa nafsu)
    • tidak berduaan, harus ada muhrim dari pihak calon mempelai perempuan
    • pembicaraan tidak mengarah pada hal-hal yang menimbulkan birahi
    • saling menyesuaikan diri satu sama lain


    Dalam ta’aruf ini hendaknya masing-masing pasangan saling bertanya mengenai :
    - Apa yang menjadi tujuan dan hidup pasangannya?
    - Apa saja yang disukai?
    - Apa yang dibenci?
    - Apa saja yang membuatnya kecewa?
    - Apa saja yang membuatnya marah ?
    - Apa cita-citanya?
    - Apa tujuan menikah?
    - Bagaimana cara mengatasi masalah selama ini?
    - Dan lain sebagainya.


    Sehingga jika masing-masing pasangan mengenai kebiasaan dan sifat calon istri atau suaminya, ia memiliki bahan untuk saling menyesuaikan diri.

    2. Tafahum
    Tafahum adalah saling memahami, setelah masing-masing pasangan saling mengenal maka tahapan selanjutnya adalah saling paham, mengerti dan menyesuaikan diri kebiasaan masing-masing, sehingga semua masalah dihadapi dengan tenang karena masing-masing mengetahui cara pandangnya.

    3. Ta’awun
    "Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

    Ta’awun berarti saling menolong, seperti ayat di atas bahwa suami/isteri adalah penolong bagi pasangannya, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kebaikan dengan penuh kasih sayang.

    4. Takaful
    Takaful artinya penyeimbang, pasangan suami isteri harus menjadi penyeimbang dari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kekurangan yang dimiliki isteri hendaknya dilengkapi oleh kelebihan yang dimiliki suami begitupun sebaliknya, sehingga sama-sama berproses untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan untuk menjadi hamba allah yang berprestasi.

    Thursday, April 20, 2006

    Temper Tantrum

    Dulu ketika masih usia 3 tahun zaki anakku yang sulung sering ngamuk, nangis engga karuan begini salah, begitu salah, bukan yang ini, bukan yang itu,…sesekali kepalanya ia bentur2 kan ke dinding….kalau sudah begini aku suka bingung maunya apa…aku sering bertanya pada beberapa teman tapi jawabannya tidak ke subtansi masalah. Alhamdulillah Allah mempertemukan aku dengan Zaonaina Yuhaditsi yang beberapa tahun belakangan aku akrab dengan beliau. Tidak seperti dugaan teman2 beliau orang yang bersahaja, orang yang memiliki semangat hidup yang sangat tinggi, sikapnya yang tegas, jelas, lugas (mirip motto Media Indonesia…he..he..) ada yang menyatukan kami yaitu kesungguhannya untuk konsen di dunia pendidikan, kami sama2 orang yg memiliki kepeduliaan terhadap pendidikan

    Aku sering bertukar pikiran dengannya tentang berbagai hal…tentang anak yang suka ngompol, anak yang suka ngemut jari, anak yang suka ngamuk…….dan kami pun sering mendiskusikan isi buku tentang psikologi anak atau majalah yang berkenaan tentang itu seperti Ayahbunda
    Dari beberapa obrolan kucoba tulis mengenai temper tantrum

    Temper tantrum………….
    Nama yang aneh bukan….(kalo temanku bilang…mahluk apa temper tantrum itu….)

    Temper tantrum adalah mengamuk, amarah yang meledak-ledak yang sering terjadi pada usia 2-4 tahun di saat mereka ingin menunjukkan kemandirian dan sikap negativistiknya, biasanya amukan ini merupakan jeritan, tangisan, membentur-benturkan kepala, memukul-mukul,menyepak, berguling-guling dan kekakuan tubuh ( dalam basa sunda namanya jejengkeng)

    Penyebab??

    1. Terlalu lelah
      Jangankan anak orang tua pun sama jika kondisi kita sedang lelah/cape (meminjam istilah teman…rungsing….) kita sulit untuk mengendalikan emosi kita, oleh karena itu cegahlah anak untuk tidak terlalu cape, pastikan anak cukup tidur dan makan. Jika anak kita terlihat tegang ajarkan relaksas dengan cara menarik nafas atau mengajaknya bercanda
    2. Keinginan tidak terpenuhi
      Balita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, eksplorasi, gemar bertanya tentang ini dan itu, dan keinginan untuk selalu mencoba banyak hal termasuk keinginan-keinginan yang tidak masuk akal. merupakan cirri utama masa kanak-kanak. Kadang-kadang ada permintaan atau keinginan2 yg sulit dikabulkan, sehingga memicu anak untuk temper tantrum
    3. Frustasi
      (hehehe..ternyata anak2 kenal juga prustasi ya…) gagal melakukan sesuatu akan membuat anak2 kecewa dan emmicu meraka untuk mengamuk
    4. Keterbelakangan Mental
      Anak yang mengalami keterbelakangan mental misalnya anak dengan gangguan bicara, pada saat ia kesulitan mengungkapkan keinginannya, ia pun akan temper tantrum
    5. Ada contoh (melihat orang lain)
      Orang yang terdekat dengan anak tentunya akan menjadi rujukan mereka dalam bersikap, misalnya orang tua yang tidak bisa mengendalikan emosi, mudah marah dalam menghadapi masalah akan membuat anak-anak mencontoh perilaku kita
    6. Faktor kondisional
      Situasi yang sangat tidak menyenangkan yang dialami anak misalnya seperti kesal dengan teman yang sering meledek, atau keasyikan bermain terganggu karena orang tua memaksa melakukan sesuatu

      Penanganan??

      Ada 10 cara menangani temper tantrum
    • Hadapi dengan tenang
      Hadapi anak dengan tenang, kendalikan emosi kita (….ingat kita sedang berhadapan dengan anak yg akan meniru prilaku kita…)
    • Abaikan amukan anak
      Buatlah anak sadar bahwa perbuatannya sia-sia (dicuekin gitu lho…..) ketika kita membiarkannya jangan sekali-kali melihat kearahnya, karena satu lirikan saja tertangkap oleh anak bias menjadi alas an bagi anak untuk meningkatkan intensitas amukannya, jadi berlagaklah tak acuh.
    • Ulangi perintah/ memperjelas perintah
      Hentikan amukan anak dengan memperjelas dan mengulang perintah, mungkin tangisan anak akan mengeras tapi jangan pedulikan tangisannya, misalnya jika kamu mau ikut ibu, mandi dulu …atau hentikan dulu tangisanmu….(jika penyebabnya anak ingin ikut ibu….)
    • Gunakan time out
      Dudukkan anak di kursi/ sudut ruangan dan sebelumnya katakan “kamu boleh ngamuk tapi kalau kesal ibupun boleh mengamuk seperti kamu, diamlah…) lalu awasi dari kejauhan reaksinya.
    • Pegang dan peluk
      Seringkali anak mengamuk dengan melakukan hal yang berbahaya, bagi dirinya maupun orang lain, peluklah anak dari belakang dan segera bawa ke tempat yang tenang dan aman. Begitup anak mengendurkan agresivitasnya kita pun kendurkan pelukan kita, kemudian ajaklah ia bicara dari hati ke hati dengan suara yang rendah dan lembut, hendari kata-kata mengancam.
    • Lebih mendekatkan diri pada anak
      Bila anak nampak sedih, kecewa dan frustasi berilah saran tentang jalan keluar masalahnya dan biarkan ia menentukan yang mana yang akan ia ambil
    • Perkuat dengan hadiah
      Beri anak perlakuan ekstra jika berkelakuan manis namun hindari kata2” baguslah kamu tidak mengamuk..” tapi katakan “ Ibu senang kamu mau mendengarkan ibu…oleh karena itu ambillah es krim ini”
    • Ajak anak bicara dari hati ke hati
      Berbicaralah dengan anak, sampaikan bagaimana perasaan kita dan terhadapnya dan gambarkan bagaimana perasaan kita dan dia ketika mengamuk
    • Ajarkan anak bicara dengan dirinya sendiri
      Ajarkan anak untuk menetralkan amarah dengan cara berkata-kata pada diri sendiri tentang kemarahannya dan bagaimana ia mengendalikannya misalnya “..Tono memang menyebalkan tapi tak apalah mungkin ia habis dimarahi bapaknya…”
    • Lupakan anak pernah mengamuk
      Ajaklah anak bermain kembali seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa, tak usah menyebut-nyebut amukannya.

      Wallahualam …………
      Kita harus belajar mengendalikan emosi karena kita sedang berhadapan dengan calon pemimpin bangsa masa depan yg butuh uswah dari kita……….

    Tuesday, April 18, 2006

    Percekcokan Dalam Rumah Tangga Bernilai Ibadah ? Benarkah ?

    "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
    Salah satu anjuran Rasulullah untuk Menikah :
    Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

    Pernikahan menyatukan dua energi besar untuk sama-sama berjuang menggapai ridlo Allah SWT. Penyatuan energi sehingga membentuk suatu sinergi tentunya membutuhkan waktu untuk saling menyesuaikan diri. Dalam proses penyesuaian itulah akan banyak ditemui ketidakcocokan, pergesekan yang menimbulkan konflik dari masing –masing pasangan. Betapa tidak masing-masing memiliki latar belakang budaya, kebiasaan, karakter yang berbeda untuk diselaraskan sesuai dengan keinginan Allah SWT dalam sebuah pernikahan.

    Agar konflik dan masalah dalam berrumah tangga dapat diminimalisir maka setiap pasangan harus memiliki pengetahuan yang cukup sebelum mereka memasuki jenjang pernikahan, sehingga dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka sudah siap menghadapi goncangan, pergesakan dan hambatan yang ada.


    Pernikahan

    Pernikahan adalah konsep sakral dari sebuah kontak (ijab Qobul) secara syah yang dilakukan oleh pasangan lelaki dan perempuan sesuai tata nilai hukum yang berlaku, baik hukum positif maupun hukum religius.

    Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima. Ijab qabul adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu.

    Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa:Sahl bin Said berkata: "Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: "Saya serahkan diriku kepadamu." Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya." Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda: "Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu." (HR. Bukhari dan Muslim).

    Secara umum tujuan suatu penikahan menurut Islam adalah untuk mencapai ridho Allah, secara khusus yakni :
    1. Mengabdi ke hadapan Allah.
    2. Malaksanakan sunnah Rasulullah.
    3. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
    4. Membentuk suatu masyarakat islami.
    5. Mendapatkan ketenangan jiwa.

    "Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

    Percekcokan dalam Rumah Tangga

    Dalam suatu interaksi dua manusia yang berlatar belakang beda baik secara kultur, karakter dan gaya hdup sudah dapat dipastikan tidak akan lepas dari suatu pergesekan nilai dan kebiasaan, sehingga menimbulkan suatu percekcokan.Hal ini sangat wajar dan manusiawi, jangankan pasangan seperti kita manusia biasa, rumah tangga Rasulullah pun tidak lepas dari percekcokan, yang membedakannya dengan kita Rasulullah memiliki akhlaq yang mulia dan dibimbing oleh Allah untuk menjadi contoh bagi ummatnya.

    Banyak keluarga muslim yang hanya karena masalah kecil mengakhiri pernikahan, suatu ikatan yang telah Allah kokohkan. Masalah bisa saja hanya bermula dari salah persepsi karena komunikasi yang tidak lancar sehingga menimbulkan salah pengertian atau mungkin kebiasaan kecil suami yang tidak disukai isteri atau juga ketidaktepatan mengekspresikan emosi seperti kecewa, marah. Semuanya bisa saja terjadi hanya saja ada pasangan yang mampu mengatasi masalah kecil tersebut dengan baik ada juga yang tidak mampu menyelesaikannya sehingga masalah kecil tersebut menumpuk dan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan bahtera rumah tangga yang sedang dibangun.

    Faktor-faktor penyebab terjadinya percekcokan dalam rumah tangga adalah:

    1. Kurang lancarnya komunikasi

    Komunikasi menjadi bagian yang sangat penting dalam berrumah tangga, bagaimana mungkin masing-masing pasangan mengetahui keinginan dan harapan pasangannnya kalau tidak adanya komunikasi yang baik sehingga keinginan dan harapan tersampaikan dan tidak salah persepsi. Seorang suami atau isteri hendaknya menyampaikan pesan dengan lembut dan baik, tentunya dengan mempertimbangkan pula waktu dalam menyampaikan pesan tersebut.

    Suami yang baru saja pulang kerja dengan badan yang lelah dan perut yang lapar tidak mungkin seorang isteri menyampaikan keluhannya sepanjang siang itu, tapi harus menunggu waktu yang tepat dimana suami dalam keadaan yang santai dan tenang

    2. Kurangnya pengetahuan/ ilmu

    Sebelum memasuki jenjang berrumah tangga calon suami atau isteri sebaiknya menggali dan menyempurnakan ilmu tentang pernikahan, dengan ilmu maka kita akan paham seperti apa rumah tangga yang dicontohkan Rasulullah dan bagaimana melajukan bahtera di tengah lautan kehidupan yang bergelombang.

    3. Kurangnya pengendalian diri masing-masing pasangan

    Sebelum menikah mungkin segalanya tampak indah di depan mata. Satu, dua, tiga bulan pertama semuanya bak di syurga dunia, tapi ketika usia pernikahan memasuki bulan keempat mulailah masalah bermunculan. Disini kita harus mampu mengendalikan diri kita. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri diuji oleh Allah. Sikap yang tepat dalam menghadapi dan mengatasi masalah adalah dengan senantiasa berlindung dan memohon pertolongan Allah untuk tetap tenang, diberi kemudahan untuk berpikir jernih dan bertindak tepat.

    Banyaklah belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah berpengalaman dalam berrumah tangga, khususnya keluarga-keluarga mukmin, bagaimanakah mereka mengatasi konflik rumaha tangga, bagaimanakah mereka mengendalikan diri ketika menghadapi masalah.

    4. Tidak adanya kesadaran sebagai hamba

    Seorang hamba Allah sepanjang hidupnya selalu mengabdi, segala aktifitasnya harus selalu bernilai ibadah di hadapan Allah dalam QS. Adz Dzaariyaat : 55 dikatakan ” dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi (beribadah) kepadaKu”

    Maka seorang hamba Allah akan meninggalkan semua sikap dan perilakunya yang tidak bernilai ibadah. Semua yang dilakukannya harus untuk dan atas nama Allah, dengan bertitik tolak pada ”Sukakah Allah dengan apa yang akan kulakukan?”

    Benarkah Budaya Jawa ”Nrimo” Sesuai Syariat Islam?

    Perempuan adalah mahluk yang sangat istimewa dengan kehalusan budi pekerti, kelembutan cinta, wajah nan anggun berwibawa, suara yang lirih, langkah yang gemulai dan sikap yang taat, patuh, hormat pada orang tua serta berbakti pada suami, merupakan gambaran perempuan di mata bangsa Jawa dan beberapa bagian di Indonesia. Tabu jika ada seorang perempuan yang lantang, memberontak terhadap suatu keputusan orang tua atau suaminya, melanggar adat katanya. Bahkan ketika seorang suami menyakitinya, menjadikannya isteri simpanan pun tabu baginya untuk menolak apa lagi melawan.

    Nilai-nilai tersebut semakin menguat dengan datangnya Islam ke Pulau Jawa, walau salah kaprah dalam memahaminya budaya ’nrimo’ sudah menjadi bagian dari kehidupan beragama di Jawa. Suami adalah pimpinan rumah tangga sehingga apa yang dikatakannya mutlak harus ditaati ’pamali’ jika membantah atau menolak.

    Sebenarnya perintah taat dalam Islam tidak demikian, selalu diikuti kata ”selama pimpinan (baik kepala rumah tangga, pemimpin masyarakat dan pimpinan negara) tersebut tunduk dan taat kepada Allah dan RasulNya.

    Ketaatan kepada ulil amri merupakan ketaatan bersyarat yakni taat manakala ulil amri tersebut berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, apalagi ketaatan terhadap seorang suami. Taat dan patuh kepada suami adalah semata-mata hanya karena Allah telah memerintahkannya, sehingga semua yang dilakukan suami atau isteri akan bernilai ibadah manakala ia melakukannya atas nama Allah SWT, mencintai suami atau isteri merupakan bentuk kecintaan terhadap Allah SWT.

    Manakala seorang pimpinan berbuat menyimpang dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah maka ketaatan tersebut menjadi batal adanya. Dalam berrumah tangga jika suami berbuat salah maka isteri wajib mengingatkannya, mengajaknya kembali ke jalan yang benar, tetapi jika berbagai cara telah dilakukan untuk mengingatkan suami maka suami tersebut tidak wajib untuk ditaati, sehingga ’nrimo’ nya Jawa tidak berlaku. Dalam hal ini manakala suami menyimpang dari ketentuan Allah SWT maka isteri tampil bak seorang ’Srikandi’ di medan perang gigih berjuang melemahkan nafsu syetan yang ada dalam diri suami.

    Seperti telah disebutkan di atas QS At Taubah : 71 "Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

    Suami isteri harus merupakan penolong menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada hal yang munkar, sehingga ketika percekcokan suami isteri karena salah satunya menyimpang dari ketentuan Allah, maka pasangannya mengingatkan dan meluruskannya, sehingga percekcokan tersebut akan bernilai ibadah. Percekcokan inilah yang dibenarkan oleh Allah SWT dan bahkan dianjurkan, seperti dalam hadits Bukhori Muslim
    ”Jika melihat kemunkaran cegahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu cegah dengan lisanmu dan jika tidak mampu cukuplah dengan hati maka itulah selemah-lemahnya iman”

    Suami dan Isteri Sebagai Partner

    Era globalisasi informasi telah mengubah pandangan tentang wanita dan isteri, posisi wanita bukan berada di bawah telunjuk pria atau kaum suami tetapi memiliki kedudukan yang sama bahkan lebih tinggi. Fenomena pandangan tentang wanita ’mampu mengerjakan semua pekerjaan seperti halnya pria’ telah menyeret wanita meniggalkan fitrahnya,banyak ditemukan keputusan dan pengelolaan rumah tangga mutlak di tangan isteri, sehingga suami kehilangan wibawa dan pengaruhnya dalam memimpin rumah tangga.

    Islam dien yang menjunjung tinggi wanita, dalam Islam wanita adalah partner dalam menjalani biduk rumah tangga. Wanita dan pria sama-sama sebagai subyek bukan obyek. Namun tetap pria dengan berbagai kelebihan yang Allah berikan ia sebagai pemimpin dalam berrumah tangga. Isteri dalam hal ini sebagai partner, sebagai wakil di rumah tangga.

    Jika fitrah yang Allah tetapkan ini dilanggar maka lihatlah kesudahan orang-orang yang tidak mentaati ketetapan Allah SWT, malapetaka dan kehancuran yang akan didapat., serta jauh dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

    Menjalankan peran sebagai subyek dalam rumah tangga, berarti isteri memiliki kewajiban untuk menolong, meluruskan suami ketika suami berbuat menyalahi aturan Allah SWT, sudah barang tentu sebaliknya jika isteri menyimpang dari jalan Allah SWT maka suami berkewajiban mendidik dan mengarahkannya ke jalan yang benar.

    Jika dalam menjalankan perannya baik suami atau isteri tidak mau mendengarkan tausyiah kita maka percekcokan akan terjadi, namun percekcokan ini akan menjadi ibadah di hadapan Allah, sehingga tidak perlu khawatir selama kita benar sesuai dengan ketetapan Allah janganlah takut atau merasa bersalah pada saat kita harus adu mulut atau mungkin adu otot dengan pasangan kita.

    Dari uraian di atas maka sebaiknya calon isteri atau suami sebelum memasuki jenjang pernikahan, sempurnakanlah ilmu dan pengetahuan tentang berrumah tangga sesuai tuntunan Rasulullah SAW .Melalui tahapan seperti di bawah ini :

    1. Ta’aruf
    ” Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” (QS.Al Hujurat : 13)

    Ta’aruf tidak identik dengan pacaran, ta’aruf artinya saling mengenali diri masing- masing. Proses ta’aruf sebelum menikah hanya dibolehkan jika sesuai syariat yang telah Allah tetapkan, bukan liar dan tidak terkontrol. Ta’aruf yang dibenarkan memiliki rambu-rambu sebagai berikut :
    • bertujuan mengenali pasangan untuk menuju jenjang pernikan (bukan untuk eksploitasi hawa nafsu)
    • tidak berduaan, harus ada muhrim dari pihak calon mempelai perempuan
    • pembicaraan tidak mengarah pada hal-hal yang menimbulkan birahi
    • saling menyesuaikan diri satu sama lain


    Dalam ta’aruf ini hendaknya masing-masing pasangan saling bertanya mengenai :
    - Apa yang menjadi tujuan dan hidup pasangannya?
    - Apa saja yang disukai?
    - Apa yang dibenci?
    - Apa saja yang membuatnya kecewa?
    - Apa saja yang membuatnya marah ?
    - Apa cita-citanya?
    - Apa tujuan menikah?
    - Bagaimana cara mengatasi masalah selama ini?
    - Dan lain sebagainya.


    Sehingga jika masing-masing pasangan mengenai kebiasaan dan sifat calon istri atau suaminya, ia memiliki bahan untuk saling menyesuaikan diri.

    2. Tafahum
    Tafahum adalah saling memahami, setelah masing-masing pasangan saling mengenal maka tahapan selanjutnya adalah saling paham, mengerti dan menyesuaikan diri kebiasaan masing-masing, sehingga semua masalah dihadapi dengan tenang karena masing-masing mengetahui cara pandangnya.

    3. Ta’awun
    "Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

    Ta’awun berarti saling menolong, seperti ayat di atas bahwa suami/isteri adalah penolong bagi pasangannya, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kebaikan dengan penuh kasih sayang.

    4. Takaful
    Takaful artinya penyeimbang, pasangan suami isteri harus menjadi penyeimbang dari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kekurangan yang dimiliki isteri hendaknya dilengkapi oleh kelebihan yang dimiliki suami begitupun sebaliknya, sehingga sama-sama berproses untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan untuk menjadi hamba allah yang berprestasi.

    Sunday, February 26, 2006

    Pertumbuhan dan Perkembangan Otak Anak

    Gordon Drayden dan Jeannette Vos, Ed.D dalam bukunya The Learning Revolution menyebutkan :
    Otak memiliki satu trilyun sel termasuk
    · 100 milyar sel syaraf aktif
    · 900 milyar sel lainnya yang menempel, memberikan makan dan mengisolasi sel-sel yang aktif

    Masing-masing dapat tumbuh hingga 20.000 cabang dan 100 milyar sel syaraf
    Memiliki tiga otak yang berbeda satu sama lainnya
    • Otak insting
    • Otak emosional
    • Kulit otak yang menakjubkan

    Memiliki dua sisi yang bekerja selaras

    • Otak ’akademik’ : otak bagian kiri
    • Otak ’kreatif’ : otak bagian kanan
    • Bekerja secepat/ seperti ”telephone exchange” yang mengumpulkan jutaan pesan dalam sedetik natara sisi kiri dan sisi kanan
    • Beroperasi pada sedikitnya 4 gelombang panjang
    • Mengontrol sistim transmisi yang memantulkan pesan-pesan elektrik kimia dengan segera ke setiap bagian dari tubuh and

    Otak tumbuh maksimum di usia 0 – 18 tahun, dan pertumbuhan yang pesat terjadi pada usia anak usia 0 – 5 tahun, para ahli mengatakannya sebagai The Golden Age (masa keemasan) sebab di usia ini otak tumbuh 90 % dann 100 % setelah anak berusia 18 tahun.

    Namun pertumbuhan dan perkembangan otak akan maksimal hanya jika anak mendapatkan rangsangan dari lingkungannya, rangsangan yang dimaksud adalah semua l obyek dan perlakuan yang didapat anak dari lingkungan yang melibatkan semua indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan indera pengecap. Semua alat indera ini harus dioptimalkan untuk menyerap semaksimal mungkin stimulus dari luar dirinya.

    Peranan orang tua sebagai orang yang terdekat dengan anak begitu besar dan sangat menentukan keberhasilan anak dalam perkembangan intelektual dan pribadinya. Anak akan menjadi apa dan siapa kelak di kemudian hari sangat tergantung pada bagaimana orang tua mengambil bagian dalam membentuk dan mengarahkannya sejak kecil.


    Peranan orang tua dalam meningkatkan intelektual anak

    1. Gaya mendidik
    Gaya mendidik harus banyak ’mendorong’ bukan banyak ’melarang’, dorongan akan membuat anak berani mencoba, suka tantangan sedangkan larangan membuat anak takut mencoba.


    2. Komunikasi yang baik
    Menjalin komunikasi yang baik, kembangkan bahasa anak dengan banyak dialog, bertanya, menanggapi sesuatu dan menjawab semua pertanyaan anak sesuai dengan kemampuan berpikirnya. Jangan pernah malarang anak untuk terus bertanya seperti ”sudah...diam dong banyak nanya...!” ucapan seperti itu membunuh kreatifitas dan rasa ingin tau anak.
    4. Sikap mendidik
    Sikap mendidik hendaknya menghindari mendidik dengan terlalu lemah, terlalu keras, memanjakan, over protective dan apalagi hanya memenuhi kebutuhan materi saja.
    5. Perhatian yang cukup
    Berilah perhatian sesuai kebutuhan mereka, luangkan waktu untuk bermain bersama, karena kebersamaan akan membuat mereka tentram, nyaman.
    6. Keteladanan
    Aturan yang berlaku untuk anak anak berlaku juga untuk kita, jangan pernah menyuruh sesuatu kepada anak semntara kita tidak melakukannya atau melarang sesuatu kepada anak tetapi kita melakukannya. Jadilah model untuk anak-anak agar anak merasa bangga dengan kita, sehingga integrasi pribadinya akan terbentuk
    7. Menghindari Hukuman fisik
    Hukuman fisik akan melukai anak sepanjang hidupnya,
    8. Memberi tanggung jawab yang tepat
    9. Hargai setiap prestasi yang ia raih

    Seperti puisi di bawah ini orang tua dan guru bagai seorang pemahat .....


    The Sculptor (Pematung)

    Kuambil segumpal tanah liat
    Kubentuk dengan ku pijat-pijat
    Sementara jemariku menekan
    Terbentuklah yang kuinginkan

    Kudatangi beberapa hari kemudian
    Tanah liat sudah membatu
    Bentuk buatan tanganku masih namapak jelas
    ..........dan aku tak dapat lagi mengubahnya

    lalu kuambil tanah liat bernyawa
    Sebuah hati bocah lembut dan peka
    Dari hari ke hari, kubentuk dia
    Dengan segala kemampuan daya seni

    Beberapa tahun kemudian
    Si bocah telah menjadi orang
    Sifat-siafat bentukanku tetap tercermin
    ..........dan kau tak dapat lagi mengubahnya