Tuesday, April 25, 2006

Percekcokan Dalam Rumah Tangga Bernilai Ibadah ? Benarkah ?

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
Salah satu anjuran Rasulullah untuk Menikah :
Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

Pernikahan menyatukan dua energi besar untuk sama-sama berjuang menggapai ridlo Allah SWT. Penyatuan energi sehingga membentuk suatu sinergi tentunya membutuhkan waktu untuk saling menyesuaikan diri. Dalam proses penyesuaian itulah akan banyak ditemui ketidakcocokan, pergesekan yang menimbulkan konflik dari masing –masing pasangan. Betapa tidak masing-masing memiliki latar belakang budaya, kebiasaan, karakter yang berbeda untuk diselaraskan sesuai dengan keinginan Allah SWT dalam sebuah pernikahan.

Agar konflik dan masalah dalam berrumah tangga dapat diminimalisir maka setiap pasangan harus memiliki pengetahuan yang cukup sebelum mereka memasuki jenjang pernikahan, sehingga dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka sudah siap menghadapi goncangan, pergesakan dan hambatan yang ada.


Pernikahan

Pernikahan adalah konsep sakral dari sebuah kontak (ijab Qobul) secara syah yang dilakukan oleh pasangan lelaki dan perempuan sesuai tata nilai hukum yang berlaku, baik hukum positif maupun hukum religius.

Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima. Ijab qabul adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa:Sahl bin Said berkata: "Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: "Saya serahkan diriku kepadamu." Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya." Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda: "Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Secara umum tujuan suatu penikahan menurut Islam adalah untuk mencapai ridho Allah, secara khusus yakni :
1. Mengabdi ke hadapan Allah.
2. Malaksanakan sunnah Rasulullah.
3. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
4. Membentuk suatu masyarakat islami.
5. Mendapatkan ketenangan jiwa.

"Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

Percekcokan dalam Rumah Tangga

Dalam suatu interaksi dua manusia yang berlatar belakang beda baik secara kultur, karakter dan gaya hdup sudah dapat dipastikan tidak akan lepas dari suatu pergesekan nilai dan kebiasaan, sehingga menimbulkan suatu percekcokan.Hal ini sangat wajar dan manusiawi, jangankan pasangan seperti kita manusia biasa, rumah tangga Rasulullah pun tidak lepas dari percekcokan, yang membedakannya dengan kita Rasulullah memiliki akhlaq yang mulia dan dibimbing oleh Allah untuk menjadi contoh bagi ummatnya.

Banyak keluarga muslim yang hanya karena masalah kecil mengakhiri pernikahan, suatu ikatan yang telah Allah kokohkan. Masalah bisa saja hanya bermula dari salah persepsi karena komunikasi yang tidak lancar sehingga menimbulkan salah pengertian atau mungkin kebiasaan kecil suami yang tidak disukai isteri atau juga ketidaktepatan mengekspresikan emosi seperti kecewa, marah. Semuanya bisa saja terjadi hanya saja ada pasangan yang mampu mengatasi masalah kecil tersebut dengan baik ada juga yang tidak mampu menyelesaikannya sehingga masalah kecil tersebut menumpuk dan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan bahtera rumah tangga yang sedang dibangun.

Faktor-faktor penyebab terjadinya percekcokan dalam rumah tangga adalah:

1. Kurang lancarnya komunikasi

Komunikasi menjadi bagian yang sangat penting dalam berrumah tangga, bagaimana mungkin masing-masing pasangan mengetahui keinginan dan harapan pasangannnya kalau tidak adanya komunikasi yang baik sehingga keinginan dan harapan tersampaikan dan tidak salah persepsi. Seorang suami atau isteri hendaknya menyampaikan pesan dengan lembut dan baik, tentunya dengan mempertimbangkan pula waktu dalam menyampaikan pesan tersebut.

Suami yang baru saja pulang kerja dengan badan yang lelah dan perut yang lapar tidak mungkin seorang isteri menyampaikan keluhannya sepanjang siang itu, tapi harus menunggu waktu yang tepat dimana suami dalam keadaan yang santai dan tenang

2. Kurangnya pengetahuan/ ilmu

Sebelum memasuki jenjang berrumah tangga calon suami atau isteri sebaiknya menggali dan menyempurnakan ilmu tentang pernikahan, dengan ilmu maka kita akan paham seperti apa rumah tangga yang dicontohkan Rasulullah dan bagaimana melajukan bahtera di tengah lautan kehidupan yang bergelombang.

3. Kurangnya pengendalian diri masing-masing pasangan

Sebelum menikah mungkin segalanya tampak indah di depan mata. Satu, dua, tiga bulan pertama semuanya bak di syurga dunia, tapi ketika usia pernikahan memasuki bulan keempat mulailah masalah bermunculan. Disini kita harus mampu mengendalikan diri kita. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri diuji oleh Allah. Sikap yang tepat dalam menghadapi dan mengatasi masalah adalah dengan senantiasa berlindung dan memohon pertolongan Allah untuk tetap tenang, diberi kemudahan untuk berpikir jernih dan bertindak tepat.

Banyaklah belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah berpengalaman dalam berrumah tangga, khususnya keluarga-keluarga mukmin, bagaimanakah mereka mengatasi konflik rumaha tangga, bagaimanakah mereka mengendalikan diri ketika menghadapi masalah.

4. Tidak adanya kesadaran sebagai hamba

Seorang hamba Allah sepanjang hidupnya selalu mengabdi, segala aktifitasnya harus selalu bernilai ibadah di hadapan Allah dalam QS. Adz Dzaariyaat : 55 dikatakan ” dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi (beribadah) kepadaKu”

Maka seorang hamba Allah akan meninggalkan semua sikap dan perilakunya yang tidak bernilai ibadah. Semua yang dilakukannya harus untuk dan atas nama Allah, dengan bertitik tolak pada ”Sukakah Allah dengan apa yang akan kulakukan?”

Benarkah Budaya Jawa ”Nrimo” Sesuai Syariat Islam?

Perempuan adalah mahluk yang sangat istimewa dengan kehalusan budi pekerti, kelembutan cinta, wajah nan anggun berwibawa, suara yang lirih, langkah yang gemulai dan sikap yang taat, patuh, hormat pada orang tua serta berbakti pada suami, merupakan gambaran perempuan di mata bangsa Jawa dan beberapa bagian di Indonesia. Tabu jika ada seorang perempuan yang lantang, memberontak terhadap suatu keputusan orang tua atau suaminya, melanggar adat katanya. Bahkan ketika seorang suami menyakitinya, menjadikannya isteri simpanan pun tabu baginya untuk menolak apa lagi melawan.

Nilai-nilai tersebut semakin menguat dengan datangnya Islam ke Pulau Jawa, walau salah kaprah dalam memahaminya budaya ’nrimo’ sudah menjadi bagian dari kehidupan beragama di Jawa. Suami adalah pimpinan rumah tangga sehingga apa yang dikatakannya mutlak harus ditaati ’pamali’ jika membantah atau menolak.

Sebenarnya perintah taat dalam Islam tidak demikian, selalu diikuti kata ”selama pimpinan (baik kepala rumah tangga, pemimpin masyarakat dan pimpinan negara) tersebut tunduk dan taat kepada Allah dan RasulNya.

Ketaatan kepada ulil amri merupakan ketaatan bersyarat yakni taat manakala ulil amri tersebut berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, apalagi ketaatan terhadap seorang suami. Taat dan patuh kepada suami adalah semata-mata hanya karena Allah telah memerintahkannya, sehingga semua yang dilakukan suami atau isteri akan bernilai ibadah manakala ia melakukannya atas nama Allah SWT, mencintai suami atau isteri merupakan bentuk kecintaan terhadap Allah SWT.

Manakala seorang pimpinan berbuat menyimpang dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah maka ketaatan tersebut menjadi batal adanya. Dalam berrumah tangga jika suami berbuat salah maka isteri wajib mengingatkannya, mengajaknya kembali ke jalan yang benar, tetapi jika berbagai cara telah dilakukan untuk mengingatkan suami maka suami tersebut tidak wajib untuk ditaati, sehingga ’nrimo’ nya Jawa tidak berlaku. Dalam hal ini manakala suami menyimpang dari ketentuan Allah SWT maka isteri tampil bak seorang ’Srikandi’ di medan perang gigih berjuang melemahkan nafsu syetan yang ada dalam diri suami.

Seperti telah disebutkan di atas QS At Taubah : 71 "Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

Suami isteri harus merupakan penolong menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada hal yang munkar, sehingga ketika percekcokan suami isteri karena salah satunya menyimpang dari ketentuan Allah, maka pasangannya mengingatkan dan meluruskannya, sehingga percekcokan tersebut akan bernilai ibadah. Percekcokan inilah yang dibenarkan oleh Allah SWT dan bahkan dianjurkan, seperti dalam hadits Bukhori Muslim
”Jika melihat kemunkaran cegahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu cegah dengan lisanmu dan jika tidak mampu cukuplah dengan hati maka itulah selemah-lemahnya iman”

Suami dan Isteri Sebagai Partner

Era globalisasi informasi telah mengubah pandangan tentang wanita dan isteri, posisi wanita bukan berada di bawah telunjuk pria atau kaum suami tetapi memiliki kedudukan yang sama bahkan lebih tinggi. Fenomena pandangan tentang wanita ’mampu mengerjakan semua pekerjaan seperti halnya pria’ telah menyeret wanita meniggalkan fitrahnya,banyak ditemukan keputusan dan pengelolaan rumah tangga mutlak di tangan isteri, sehingga suami kehilangan wibawa dan pengaruhnya dalam memimpin rumah tangga.

Islam dien yang menjunjung tinggi wanita, dalam Islam wanita adalah partner dalam menjalani biduk rumah tangga. Wanita dan pria sama-sama sebagai subyek bukan obyek. Namun tetap pria dengan berbagai kelebihan yang Allah berikan ia sebagai pemimpin dalam berrumah tangga. Isteri dalam hal ini sebagai partner, sebagai wakil di rumah tangga.

Jika fitrah yang Allah tetapkan ini dilanggar maka lihatlah kesudahan orang-orang yang tidak mentaati ketetapan Allah SWT, malapetaka dan kehancuran yang akan didapat., serta jauh dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

Menjalankan peran sebagai subyek dalam rumah tangga, berarti isteri memiliki kewajiban untuk menolong, meluruskan suami ketika suami berbuat menyalahi aturan Allah SWT, sudah barang tentu sebaliknya jika isteri menyimpang dari jalan Allah SWT maka suami berkewajiban mendidik dan mengarahkannya ke jalan yang benar.

Jika dalam menjalankan perannya baik suami atau isteri tidak mau mendengarkan tausyiah kita maka percekcokan akan terjadi, namun percekcokan ini akan menjadi ibadah di hadapan Allah, sehingga tidak perlu khawatir selama kita benar sesuai dengan ketetapan Allah janganlah takut atau merasa bersalah pada saat kita harus adu mulut atau mungkin adu otot dengan pasangan kita.

Dari uraian di atas maka sebaiknya calon isteri atau suami sebelum memasuki jenjang pernikahan, sempurnakanlah ilmu dan pengetahuan tentang berrumah tangga sesuai tuntunan Rasulullah SAW .Melalui tahapan seperti di bawah ini :

1. Ta’aruf
” Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” (QS.Al Hujurat : 13)

Ta’aruf tidak identik dengan pacaran, ta’aruf artinya saling mengenali diri masing- masing. Proses ta’aruf sebelum menikah hanya dibolehkan jika sesuai syariat yang telah Allah tetapkan, bukan liar dan tidak terkontrol. Ta’aruf yang dibenarkan memiliki rambu-rambu sebagai berikut :
  • bertujuan mengenali pasangan untuk menuju jenjang pernikan (bukan untuk eksploitasi hawa nafsu)
  • tidak berduaan, harus ada muhrim dari pihak calon mempelai perempuan
  • pembicaraan tidak mengarah pada hal-hal yang menimbulkan birahi
  • saling menyesuaikan diri satu sama lain


Dalam ta’aruf ini hendaknya masing-masing pasangan saling bertanya mengenai :
- Apa yang menjadi tujuan dan hidup pasangannya?
- Apa saja yang disukai?
- Apa yang dibenci?
- Apa saja yang membuatnya kecewa?
- Apa saja yang membuatnya marah ?
- Apa cita-citanya?
- Apa tujuan menikah?
- Bagaimana cara mengatasi masalah selama ini?
- Dan lain sebagainya.


Sehingga jika masing-masing pasangan mengenai kebiasaan dan sifat calon istri atau suaminya, ia memiliki bahan untuk saling menyesuaikan diri.

2. Tafahum
Tafahum adalah saling memahami, setelah masing-masing pasangan saling mengenal maka tahapan selanjutnya adalah saling paham, mengerti dan menyesuaikan diri kebiasaan masing-masing, sehingga semua masalah dihadapi dengan tenang karena masing-masing mengetahui cara pandangnya.

3. Ta’awun
"Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

Ta’awun berarti saling menolong, seperti ayat di atas bahwa suami/isteri adalah penolong bagi pasangannya, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kebaikan dengan penuh kasih sayang.

4. Takaful
Takaful artinya penyeimbang, pasangan suami isteri harus menjadi penyeimbang dari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kekurangan yang dimiliki isteri hendaknya dilengkapi oleh kelebihan yang dimiliki suami begitupun sebaliknya, sehingga sama-sama berproses untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan untuk menjadi hamba allah yang berprestasi.

Thursday, April 20, 2006

Temper Tantrum

Dulu ketika masih usia 3 tahun zaki anakku yang sulung sering ngamuk, nangis engga karuan begini salah, begitu salah, bukan yang ini, bukan yang itu,…sesekali kepalanya ia bentur2 kan ke dinding….kalau sudah begini aku suka bingung maunya apa…aku sering bertanya pada beberapa teman tapi jawabannya tidak ke subtansi masalah. Alhamdulillah Allah mempertemukan aku dengan Zaonaina Yuhaditsi yang beberapa tahun belakangan aku akrab dengan beliau. Tidak seperti dugaan teman2 beliau orang yang bersahaja, orang yang memiliki semangat hidup yang sangat tinggi, sikapnya yang tegas, jelas, lugas (mirip motto Media Indonesia…he..he..) ada yang menyatukan kami yaitu kesungguhannya untuk konsen di dunia pendidikan, kami sama2 orang yg memiliki kepeduliaan terhadap pendidikan

Aku sering bertukar pikiran dengannya tentang berbagai hal…tentang anak yang suka ngompol, anak yang suka ngemut jari, anak yang suka ngamuk…….dan kami pun sering mendiskusikan isi buku tentang psikologi anak atau majalah yang berkenaan tentang itu seperti Ayahbunda
Dari beberapa obrolan kucoba tulis mengenai temper tantrum

Temper tantrum………….
Nama yang aneh bukan….(kalo temanku bilang…mahluk apa temper tantrum itu….)

Temper tantrum adalah mengamuk, amarah yang meledak-ledak yang sering terjadi pada usia 2-4 tahun di saat mereka ingin menunjukkan kemandirian dan sikap negativistiknya, biasanya amukan ini merupakan jeritan, tangisan, membentur-benturkan kepala, memukul-mukul,menyepak, berguling-guling dan kekakuan tubuh ( dalam basa sunda namanya jejengkeng)

Penyebab??

  1. Terlalu lelah
    Jangankan anak orang tua pun sama jika kondisi kita sedang lelah/cape (meminjam istilah teman…rungsing….) kita sulit untuk mengendalikan emosi kita, oleh karena itu cegahlah anak untuk tidak terlalu cape, pastikan anak cukup tidur dan makan. Jika anak kita terlihat tegang ajarkan relaksas dengan cara menarik nafas atau mengajaknya bercanda
  2. Keinginan tidak terpenuhi
    Balita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, eksplorasi, gemar bertanya tentang ini dan itu, dan keinginan untuk selalu mencoba banyak hal termasuk keinginan-keinginan yang tidak masuk akal. merupakan cirri utama masa kanak-kanak. Kadang-kadang ada permintaan atau keinginan2 yg sulit dikabulkan, sehingga memicu anak untuk temper tantrum
  3. Frustasi
    (hehehe..ternyata anak2 kenal juga prustasi ya…) gagal melakukan sesuatu akan membuat anak2 kecewa dan emmicu meraka untuk mengamuk
  4. Keterbelakangan Mental
    Anak yang mengalami keterbelakangan mental misalnya anak dengan gangguan bicara, pada saat ia kesulitan mengungkapkan keinginannya, ia pun akan temper tantrum
  5. Ada contoh (melihat orang lain)
    Orang yang terdekat dengan anak tentunya akan menjadi rujukan mereka dalam bersikap, misalnya orang tua yang tidak bisa mengendalikan emosi, mudah marah dalam menghadapi masalah akan membuat anak-anak mencontoh perilaku kita
  6. Faktor kondisional
    Situasi yang sangat tidak menyenangkan yang dialami anak misalnya seperti kesal dengan teman yang sering meledek, atau keasyikan bermain terganggu karena orang tua memaksa melakukan sesuatu

    Penanganan??

    Ada 10 cara menangani temper tantrum
  • Hadapi dengan tenang
    Hadapi anak dengan tenang, kendalikan emosi kita (….ingat kita sedang berhadapan dengan anak yg akan meniru prilaku kita…)
  • Abaikan amukan anak
    Buatlah anak sadar bahwa perbuatannya sia-sia (dicuekin gitu lho…..) ketika kita membiarkannya jangan sekali-kali melihat kearahnya, karena satu lirikan saja tertangkap oleh anak bias menjadi alas an bagi anak untuk meningkatkan intensitas amukannya, jadi berlagaklah tak acuh.
  • Ulangi perintah/ memperjelas perintah
    Hentikan amukan anak dengan memperjelas dan mengulang perintah, mungkin tangisan anak akan mengeras tapi jangan pedulikan tangisannya, misalnya jika kamu mau ikut ibu, mandi dulu …atau hentikan dulu tangisanmu….(jika penyebabnya anak ingin ikut ibu….)
  • Gunakan time out
    Dudukkan anak di kursi/ sudut ruangan dan sebelumnya katakan “kamu boleh ngamuk tapi kalau kesal ibupun boleh mengamuk seperti kamu, diamlah…) lalu awasi dari kejauhan reaksinya.
  • Pegang dan peluk
    Seringkali anak mengamuk dengan melakukan hal yang berbahaya, bagi dirinya maupun orang lain, peluklah anak dari belakang dan segera bawa ke tempat yang tenang dan aman. Begitup anak mengendurkan agresivitasnya kita pun kendurkan pelukan kita, kemudian ajaklah ia bicara dari hati ke hati dengan suara yang rendah dan lembut, hendari kata-kata mengancam.
  • Lebih mendekatkan diri pada anak
    Bila anak nampak sedih, kecewa dan frustasi berilah saran tentang jalan keluar masalahnya dan biarkan ia menentukan yang mana yang akan ia ambil
  • Perkuat dengan hadiah
    Beri anak perlakuan ekstra jika berkelakuan manis namun hindari kata2” baguslah kamu tidak mengamuk..” tapi katakan “ Ibu senang kamu mau mendengarkan ibu…oleh karena itu ambillah es krim ini”
  • Ajak anak bicara dari hati ke hati
    Berbicaralah dengan anak, sampaikan bagaimana perasaan kita dan terhadapnya dan gambarkan bagaimana perasaan kita dan dia ketika mengamuk
  • Ajarkan anak bicara dengan dirinya sendiri
    Ajarkan anak untuk menetralkan amarah dengan cara berkata-kata pada diri sendiri tentang kemarahannya dan bagaimana ia mengendalikannya misalnya “..Tono memang menyebalkan tapi tak apalah mungkin ia habis dimarahi bapaknya…”
  • Lupakan anak pernah mengamuk
    Ajaklah anak bermain kembali seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa, tak usah menyebut-nyebut amukannya.

    Wallahualam …………
    Kita harus belajar mengendalikan emosi karena kita sedang berhadapan dengan calon pemimpin bangsa masa depan yg butuh uswah dari kita……….

Tuesday, April 18, 2006

Percekcokan Dalam Rumah Tangga Bernilai Ibadah ? Benarkah ?

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
Salah satu anjuran Rasulullah untuk Menikah :
Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).

Pernikahan menyatukan dua energi besar untuk sama-sama berjuang menggapai ridlo Allah SWT. Penyatuan energi sehingga membentuk suatu sinergi tentunya membutuhkan waktu untuk saling menyesuaikan diri. Dalam proses penyesuaian itulah akan banyak ditemui ketidakcocokan, pergesekan yang menimbulkan konflik dari masing –masing pasangan. Betapa tidak masing-masing memiliki latar belakang budaya, kebiasaan, karakter yang berbeda untuk diselaraskan sesuai dengan keinginan Allah SWT dalam sebuah pernikahan.

Agar konflik dan masalah dalam berrumah tangga dapat diminimalisir maka setiap pasangan harus memiliki pengetahuan yang cukup sebelum mereka memasuki jenjang pernikahan, sehingga dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka sudah siap menghadapi goncangan, pergesakan dan hambatan yang ada.


Pernikahan

Pernikahan adalah konsep sakral dari sebuah kontak (ijab Qobul) secara syah yang dilakukan oleh pasangan lelaki dan perempuan sesuai tata nilai hukum yang berlaku, baik hukum positif maupun hukum religius.

Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima. Ijab qabul adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa:Sahl bin Said berkata: "Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: "Saya serahkan diriku kepadamu." Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya." Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda: "Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Secara umum tujuan suatu penikahan menurut Islam adalah untuk mencapai ridho Allah, secara khusus yakni :
1. Mengabdi ke hadapan Allah.
2. Malaksanakan sunnah Rasulullah.
3. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
4. Membentuk suatu masyarakat islami.
5. Mendapatkan ketenangan jiwa.

"Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

Percekcokan dalam Rumah Tangga

Dalam suatu interaksi dua manusia yang berlatar belakang beda baik secara kultur, karakter dan gaya hdup sudah dapat dipastikan tidak akan lepas dari suatu pergesekan nilai dan kebiasaan, sehingga menimbulkan suatu percekcokan.Hal ini sangat wajar dan manusiawi, jangankan pasangan seperti kita manusia biasa, rumah tangga Rasulullah pun tidak lepas dari percekcokan, yang membedakannya dengan kita Rasulullah memiliki akhlaq yang mulia dan dibimbing oleh Allah untuk menjadi contoh bagi ummatnya.

Banyak keluarga muslim yang hanya karena masalah kecil mengakhiri pernikahan, suatu ikatan yang telah Allah kokohkan. Masalah bisa saja hanya bermula dari salah persepsi karena komunikasi yang tidak lancar sehingga menimbulkan salah pengertian atau mungkin kebiasaan kecil suami yang tidak disukai isteri atau juga ketidaktepatan mengekspresikan emosi seperti kecewa, marah. Semuanya bisa saja terjadi hanya saja ada pasangan yang mampu mengatasi masalah kecil tersebut dengan baik ada juga yang tidak mampu menyelesaikannya sehingga masalah kecil tersebut menumpuk dan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan bahtera rumah tangga yang sedang dibangun.

Faktor-faktor penyebab terjadinya percekcokan dalam rumah tangga adalah:

1. Kurang lancarnya komunikasi

Komunikasi menjadi bagian yang sangat penting dalam berrumah tangga, bagaimana mungkin masing-masing pasangan mengetahui keinginan dan harapan pasangannnya kalau tidak adanya komunikasi yang baik sehingga keinginan dan harapan tersampaikan dan tidak salah persepsi. Seorang suami atau isteri hendaknya menyampaikan pesan dengan lembut dan baik, tentunya dengan mempertimbangkan pula waktu dalam menyampaikan pesan tersebut.

Suami yang baru saja pulang kerja dengan badan yang lelah dan perut yang lapar tidak mungkin seorang isteri menyampaikan keluhannya sepanjang siang itu, tapi harus menunggu waktu yang tepat dimana suami dalam keadaan yang santai dan tenang

2. Kurangnya pengetahuan/ ilmu

Sebelum memasuki jenjang berrumah tangga calon suami atau isteri sebaiknya menggali dan menyempurnakan ilmu tentang pernikahan, dengan ilmu maka kita akan paham seperti apa rumah tangga yang dicontohkan Rasulullah dan bagaimana melajukan bahtera di tengah lautan kehidupan yang bergelombang.

3. Kurangnya pengendalian diri masing-masing pasangan

Sebelum menikah mungkin segalanya tampak indah di depan mata. Satu, dua, tiga bulan pertama semuanya bak di syurga dunia, tapi ketika usia pernikahan memasuki bulan keempat mulailah masalah bermunculan. Disini kita harus mampu mengendalikan diri kita. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri diuji oleh Allah. Sikap yang tepat dalam menghadapi dan mengatasi masalah adalah dengan senantiasa berlindung dan memohon pertolongan Allah untuk tetap tenang, diberi kemudahan untuk berpikir jernih dan bertindak tepat.

Banyaklah belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah berpengalaman dalam berrumah tangga, khususnya keluarga-keluarga mukmin, bagaimanakah mereka mengatasi konflik rumaha tangga, bagaimanakah mereka mengendalikan diri ketika menghadapi masalah.

4. Tidak adanya kesadaran sebagai hamba

Seorang hamba Allah sepanjang hidupnya selalu mengabdi, segala aktifitasnya harus selalu bernilai ibadah di hadapan Allah dalam QS. Adz Dzaariyaat : 55 dikatakan ” dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi (beribadah) kepadaKu”

Maka seorang hamba Allah akan meninggalkan semua sikap dan perilakunya yang tidak bernilai ibadah. Semua yang dilakukannya harus untuk dan atas nama Allah, dengan bertitik tolak pada ”Sukakah Allah dengan apa yang akan kulakukan?”

Benarkah Budaya Jawa ”Nrimo” Sesuai Syariat Islam?

Perempuan adalah mahluk yang sangat istimewa dengan kehalusan budi pekerti, kelembutan cinta, wajah nan anggun berwibawa, suara yang lirih, langkah yang gemulai dan sikap yang taat, patuh, hormat pada orang tua serta berbakti pada suami, merupakan gambaran perempuan di mata bangsa Jawa dan beberapa bagian di Indonesia. Tabu jika ada seorang perempuan yang lantang, memberontak terhadap suatu keputusan orang tua atau suaminya, melanggar adat katanya. Bahkan ketika seorang suami menyakitinya, menjadikannya isteri simpanan pun tabu baginya untuk menolak apa lagi melawan.

Nilai-nilai tersebut semakin menguat dengan datangnya Islam ke Pulau Jawa, walau salah kaprah dalam memahaminya budaya ’nrimo’ sudah menjadi bagian dari kehidupan beragama di Jawa. Suami adalah pimpinan rumah tangga sehingga apa yang dikatakannya mutlak harus ditaati ’pamali’ jika membantah atau menolak.

Sebenarnya perintah taat dalam Islam tidak demikian, selalu diikuti kata ”selama pimpinan (baik kepala rumah tangga, pemimpin masyarakat dan pimpinan negara) tersebut tunduk dan taat kepada Allah dan RasulNya.

Ketaatan kepada ulil amri merupakan ketaatan bersyarat yakni taat manakala ulil amri tersebut berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, apalagi ketaatan terhadap seorang suami. Taat dan patuh kepada suami adalah semata-mata hanya karena Allah telah memerintahkannya, sehingga semua yang dilakukan suami atau isteri akan bernilai ibadah manakala ia melakukannya atas nama Allah SWT, mencintai suami atau isteri merupakan bentuk kecintaan terhadap Allah SWT.

Manakala seorang pimpinan berbuat menyimpang dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah maka ketaatan tersebut menjadi batal adanya. Dalam berrumah tangga jika suami berbuat salah maka isteri wajib mengingatkannya, mengajaknya kembali ke jalan yang benar, tetapi jika berbagai cara telah dilakukan untuk mengingatkan suami maka suami tersebut tidak wajib untuk ditaati, sehingga ’nrimo’ nya Jawa tidak berlaku. Dalam hal ini manakala suami menyimpang dari ketentuan Allah SWT maka isteri tampil bak seorang ’Srikandi’ di medan perang gigih berjuang melemahkan nafsu syetan yang ada dalam diri suami.

Seperti telah disebutkan di atas QS At Taubah : 71 "Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

Suami isteri harus merupakan penolong menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah pada hal yang munkar, sehingga ketika percekcokan suami isteri karena salah satunya menyimpang dari ketentuan Allah, maka pasangannya mengingatkan dan meluruskannya, sehingga percekcokan tersebut akan bernilai ibadah. Percekcokan inilah yang dibenarkan oleh Allah SWT dan bahkan dianjurkan, seperti dalam hadits Bukhori Muslim
”Jika melihat kemunkaran cegahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu cegah dengan lisanmu dan jika tidak mampu cukuplah dengan hati maka itulah selemah-lemahnya iman”

Suami dan Isteri Sebagai Partner

Era globalisasi informasi telah mengubah pandangan tentang wanita dan isteri, posisi wanita bukan berada di bawah telunjuk pria atau kaum suami tetapi memiliki kedudukan yang sama bahkan lebih tinggi. Fenomena pandangan tentang wanita ’mampu mengerjakan semua pekerjaan seperti halnya pria’ telah menyeret wanita meniggalkan fitrahnya,banyak ditemukan keputusan dan pengelolaan rumah tangga mutlak di tangan isteri, sehingga suami kehilangan wibawa dan pengaruhnya dalam memimpin rumah tangga.

Islam dien yang menjunjung tinggi wanita, dalam Islam wanita adalah partner dalam menjalani biduk rumah tangga. Wanita dan pria sama-sama sebagai subyek bukan obyek. Namun tetap pria dengan berbagai kelebihan yang Allah berikan ia sebagai pemimpin dalam berrumah tangga. Isteri dalam hal ini sebagai partner, sebagai wakil di rumah tangga.

Jika fitrah yang Allah tetapkan ini dilanggar maka lihatlah kesudahan orang-orang yang tidak mentaati ketetapan Allah SWT, malapetaka dan kehancuran yang akan didapat., serta jauh dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

Menjalankan peran sebagai subyek dalam rumah tangga, berarti isteri memiliki kewajiban untuk menolong, meluruskan suami ketika suami berbuat menyalahi aturan Allah SWT, sudah barang tentu sebaliknya jika isteri menyimpang dari jalan Allah SWT maka suami berkewajiban mendidik dan mengarahkannya ke jalan yang benar.

Jika dalam menjalankan perannya baik suami atau isteri tidak mau mendengarkan tausyiah kita maka percekcokan akan terjadi, namun percekcokan ini akan menjadi ibadah di hadapan Allah, sehingga tidak perlu khawatir selama kita benar sesuai dengan ketetapan Allah janganlah takut atau merasa bersalah pada saat kita harus adu mulut atau mungkin adu otot dengan pasangan kita.

Dari uraian di atas maka sebaiknya calon isteri atau suami sebelum memasuki jenjang pernikahan, sempurnakanlah ilmu dan pengetahuan tentang berrumah tangga sesuai tuntunan Rasulullah SAW .Melalui tahapan seperti di bawah ini :

1. Ta’aruf
” Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” (QS.Al Hujurat : 13)

Ta’aruf tidak identik dengan pacaran, ta’aruf artinya saling mengenali diri masing- masing. Proses ta’aruf sebelum menikah hanya dibolehkan jika sesuai syariat yang telah Allah tetapkan, bukan liar dan tidak terkontrol. Ta’aruf yang dibenarkan memiliki rambu-rambu sebagai berikut :
  • bertujuan mengenali pasangan untuk menuju jenjang pernikan (bukan untuk eksploitasi hawa nafsu)
  • tidak berduaan, harus ada muhrim dari pihak calon mempelai perempuan
  • pembicaraan tidak mengarah pada hal-hal yang menimbulkan birahi
  • saling menyesuaikan diri satu sama lain


Dalam ta’aruf ini hendaknya masing-masing pasangan saling bertanya mengenai :
- Apa yang menjadi tujuan dan hidup pasangannya?
- Apa saja yang disukai?
- Apa yang dibenci?
- Apa saja yang membuatnya kecewa?
- Apa saja yang membuatnya marah ?
- Apa cita-citanya?
- Apa tujuan menikah?
- Bagaimana cara mengatasi masalah selama ini?
- Dan lain sebagainya.


Sehingga jika masing-masing pasangan mengenai kebiasaan dan sifat calon istri atau suaminya, ia memiliki bahan untuk saling menyesuaikan diri.

2. Tafahum
Tafahum adalah saling memahami, setelah masing-masing pasangan saling mengenal maka tahapan selanjutnya adalah saling paham, mengerti dan menyesuaikan diri kebiasaan masing-masing, sehingga semua masalah dihadapi dengan tenang karena masing-masing mengetahui cara pandangnya.

3. Ta’awun
"Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka mereka ( adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (QS At-Taubah: 71)

Ta’awun berarti saling menolong, seperti ayat di atas bahwa suami/isteri adalah penolong bagi pasangannya, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kebaikan dengan penuh kasih sayang.

4. Takaful
Takaful artinya penyeimbang, pasangan suami isteri harus menjadi penyeimbang dari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kekurangan yang dimiliki isteri hendaknya dilengkapi oleh kelebihan yang dimiliki suami begitupun sebaliknya, sehingga sama-sama berproses untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan untuk menjadi hamba allah yang berprestasi.

Sunday, February 26, 2006

Pertumbuhan dan Perkembangan Otak Anak

Gordon Drayden dan Jeannette Vos, Ed.D dalam bukunya The Learning Revolution menyebutkan :
Otak memiliki satu trilyun sel termasuk
· 100 milyar sel syaraf aktif
· 900 milyar sel lainnya yang menempel, memberikan makan dan mengisolasi sel-sel yang aktif

Masing-masing dapat tumbuh hingga 20.000 cabang dan 100 milyar sel syaraf
Memiliki tiga otak yang berbeda satu sama lainnya
  • Otak insting
  • Otak emosional
  • Kulit otak yang menakjubkan

Memiliki dua sisi yang bekerja selaras

  • Otak ’akademik’ : otak bagian kiri
  • Otak ’kreatif’ : otak bagian kanan
  • Bekerja secepat/ seperti ”telephone exchange” yang mengumpulkan jutaan pesan dalam sedetik natara sisi kiri dan sisi kanan
  • Beroperasi pada sedikitnya 4 gelombang panjang
  • Mengontrol sistim transmisi yang memantulkan pesan-pesan elektrik kimia dengan segera ke setiap bagian dari tubuh and

Otak tumbuh maksimum di usia 0 – 18 tahun, dan pertumbuhan yang pesat terjadi pada usia anak usia 0 – 5 tahun, para ahli mengatakannya sebagai The Golden Age (masa keemasan) sebab di usia ini otak tumbuh 90 % dann 100 % setelah anak berusia 18 tahun.

Namun pertumbuhan dan perkembangan otak akan maksimal hanya jika anak mendapatkan rangsangan dari lingkungannya, rangsangan yang dimaksud adalah semua l obyek dan perlakuan yang didapat anak dari lingkungan yang melibatkan semua indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan indera pengecap. Semua alat indera ini harus dioptimalkan untuk menyerap semaksimal mungkin stimulus dari luar dirinya.

Peranan orang tua sebagai orang yang terdekat dengan anak begitu besar dan sangat menentukan keberhasilan anak dalam perkembangan intelektual dan pribadinya. Anak akan menjadi apa dan siapa kelak di kemudian hari sangat tergantung pada bagaimana orang tua mengambil bagian dalam membentuk dan mengarahkannya sejak kecil.


Peranan orang tua dalam meningkatkan intelektual anak

1. Gaya mendidik
Gaya mendidik harus banyak ’mendorong’ bukan banyak ’melarang’, dorongan akan membuat anak berani mencoba, suka tantangan sedangkan larangan membuat anak takut mencoba.


2. Komunikasi yang baik
Menjalin komunikasi yang baik, kembangkan bahasa anak dengan banyak dialog, bertanya, menanggapi sesuatu dan menjawab semua pertanyaan anak sesuai dengan kemampuan berpikirnya. Jangan pernah malarang anak untuk terus bertanya seperti ”sudah...diam dong banyak nanya...!” ucapan seperti itu membunuh kreatifitas dan rasa ingin tau anak.
4. Sikap mendidik
Sikap mendidik hendaknya menghindari mendidik dengan terlalu lemah, terlalu keras, memanjakan, over protective dan apalagi hanya memenuhi kebutuhan materi saja.
5. Perhatian yang cukup
Berilah perhatian sesuai kebutuhan mereka, luangkan waktu untuk bermain bersama, karena kebersamaan akan membuat mereka tentram, nyaman.
6. Keteladanan
Aturan yang berlaku untuk anak anak berlaku juga untuk kita, jangan pernah menyuruh sesuatu kepada anak semntara kita tidak melakukannya atau melarang sesuatu kepada anak tetapi kita melakukannya. Jadilah model untuk anak-anak agar anak merasa bangga dengan kita, sehingga integrasi pribadinya akan terbentuk
7. Menghindari Hukuman fisik
Hukuman fisik akan melukai anak sepanjang hidupnya,
8. Memberi tanggung jawab yang tepat
9. Hargai setiap prestasi yang ia raih

Seperti puisi di bawah ini orang tua dan guru bagai seorang pemahat .....


The Sculptor (Pematung)

Kuambil segumpal tanah liat
Kubentuk dengan ku pijat-pijat
Sementara jemariku menekan
Terbentuklah yang kuinginkan

Kudatangi beberapa hari kemudian
Tanah liat sudah membatu
Bentuk buatan tanganku masih namapak jelas
..........dan aku tak dapat lagi mengubahnya

lalu kuambil tanah liat bernyawa
Sebuah hati bocah lembut dan peka
Dari hari ke hari, kubentuk dia
Dengan segala kemampuan daya seni

Beberapa tahun kemudian
Si bocah telah menjadi orang
Sifat-siafat bentukanku tetap tercermin
..........dan kau tak dapat lagi mengubahnya

Wednesday, February 22, 2006

Abuse Child

Abuse child, pemaksaan atau kekerasaan terhadap anak merupakan wacana yang orang beraneka ragam menerjemahkannya. Di jerman ada suatu aturan yang menerapkan abuse child dalam konteks memaksakan anak belajar sebagai bentuk pemaksaan terhadap anak dan termasuk tindakan melanggar hukum, dalam aturan tertulis secara rinci prilaku/ perlakuan-perlakuan yang tergolong atau terjerat dalam abuse child. Orang tua, guru atau pendidik sangat berhati-hati dalam menyikapi dan mengajar anak sebab mereka khawatir terjerat oleh hukum abuse child yang diberlakukan oleh pemerintah Jerman.

Konon ada seorang sahabat tinggal di Jerman, menyekolahkan anaknya ke suatu SD disana. Anaknya baru berusia 5 tahun tetapi ia sudah pandai membaca dan menulis, namun beberapa SD yang dikunjungi tidak bisa menerimanya dengan alasan bahwa anak tersebut sudah diperlakukan dengan paksa untuk belajar membaca dan menulis sehingga belum waktunya sudah menguasai kompetensi yang bukan fasenya. Anak temanku harus menunggu 2 tahun sampai usianya genap 7 tahun baru bisa memasuki bangku sekolah SD di Jerman.

Di Indonesia kita bisa melihat bagaimana anak usia 4 tahunan sudah pandai membaca, menulis dan menghitung (calistung). Mereka umumnya belajar calistung dari gurunya di TK, dari orang tuanya dan beberapa diantaranya memiliki guru les khususnya yang mengajarkan calistung di rumahnya. Orang tua merasa sangat bangga jika anaknya sudah pandai calistung, mereka menganggapnya ”..kecil-kecil sudah pinter ya...”., bagi oarng tua ini sebuah prestise baru yang berkembang diantara orang tua TK. Orang tua lain akan menganggapnya sebagai orang tua yang sukses mendidik anak. Begitu pun dengan lembaga pendidikan pra sekolah (Play group dan TK) yang mengajarkan murid-muridnya calistung menjadi sekolah yang pavorit jadi incaran masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Di bagian lain masyarakat Indonesia di kawasan terpencil kawasan timur utara desa nun jauh di sana Jawa Barat khususnya kita akan menemukan beberapa sekolah yang ada di daerah terpencil masih ada praktek-praktek kekerasan terhadap anak sekolah SD. Ketika ada siswa yang tidak memperhatikan guru yang sedang menerangkan di depan kelas, maka tak ayal lagi kapur atau bahkan penghapus kapur (yang terbuat dari kain berisi kapuk) pun melayang ke muka anak, belum lagi dengan teguran dan hardikan yang keras dari sang guru (hasil pengamatan penulis di beberapa SD di sebuah kabupaten di Jawa Barat)

Yang mengherankan reaksi anak dan orang tua di daerah tidak mengganggapnya sebagai suatu bentuk kekerasan. Mereka menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang wajar terjadi karena guru adalah ’ wong atuo karo’ orang yang pinter yang akan membuat anaknya pintar dan jadi ’orang’ kelak. Ketika memasukan anaknya ke sekolah mereka sudah memasrahkan segala-galanya ” bade di beureumkeun bade di hideungkeun...mangga nyanggakeun..” mau di perlakukan merah atau hitam terserah guru, yang penting anak kami jadi pintar. Kepercayaan yang tulus dari orang tua untuk menitipkan anaknya ke sekolah akankah tega kita perlakukan anak mereka seenaknya ??

Mungkin keberagaman persepsi mengenai ’abuse child’ (kekerasan terhadap anak) yang berkembang diantara kita yang mengakibatkan berbagai perlakuan dianggap wajar atau tidak, bahkan belakang terakhir ini banyak kasus yang diungkap media massa kekerasan yang didapatkan anak-anak dari orang tua kandungnya sendiri, misalnya seperti yang dialami adik dan kakak yang dibakar hidup orang tua kandung mereka, atau ...........anak tiri yang disetrika ibu tirinya . Orang tuanya tidak merasa menyesal saedikitpun dan masih banyak lagi yang lainnya.

Masyarakat seharusnya menjadi sosial kontrol terhadap terjadinya kekerasan terhadap anak-anak, sehingga kekerasan terhadap anak dapat dicegah, yang pada akhirnya dapat menguatkan social image terhadap kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap anak sebagai sesuatu yang tidak wajar dan harus dihindari walau sekecil apapun . Ingat anak adalah aset bangsa yang harus kita jaga nasib bangsa di masa depan ada pada pundak mereka, bayangkan jika generasi yang akan datang adalah generasi yang pendendam, keras hati dan suka kekerasan bagaimana nasib bangsa ini selanjutnya??

Terlepas dari motif apa yang dimiliki orang tua sehingga melakukan kekerasan terhadap anaknya sendiri semestinya kita sadar bahwa kekerasan yang dialami anak akan sangat berdampak terhadap perkembangan mental anak selanjutnya. Anak yang dibesarkan dengan kekerasan akan mendidik mereka menjadi agresif, keras hati, pendendam dan akan memiliki sifat yang sama seperti orang tuanya bahkan lebih sadis.

Kalau kita perhatikan bagaimana Rasulullah memperlakukan anak, dalam sejarah dan hadits disebutkan rasulullah tidak pernah memperlakukan anak dengan kasar/ kekerasan fisik terhadap anak kecuali saat berusia 10 tahun, saat anak tersebut menolak untuk disuruh sholat ”....maka pukullah bagian kakinya ”.

Ada seorang anak ketika Rasulullah sedang sholat ia berada di depan tempat sujud Rasulullah lalu ibunya mengambilnya dengan paksa, setelah selesai sholat Rasulullah berkata pada ibu tersebut"....perlakuanmu akan terus membekas dalam pikiran anakmu sampai kelak ia dewasa...”

Dalam riwayat lain disebutkan pernah cucu Rasulullah Hasan dan Husein menduduki pundak Rasulullah ketika beliau sedang sholat, Rasulullah mendiamkan mereka sampai mereka beranjak dari pundaknya barulah beliau bangun dari sujudnya.

Dari riwayat tersebut tidak ada dalam contoh Rasulullah memperlakukan anak dengan kasar kecuali jika ia menolak untuk sholat dan mengabdi pada allah SWT.

Anak sebagai amanah dari Allah SWT harus kita jaga , pelihara dengan sebaik-baiknya memberinya pendidikan yang benar sesuai dengan yang Allah kehendaki . Anak sebagai seorang individu yang memiliki potensi sama dengan orang dewasa memiliki perasaan dan akal pikiran maka hargailah ia sebagai mahluk Allah yang berpotensi untuk berkembang. Besarkanlah mereka dengan lingkungan yang kondusif, lingkungan yang sebaik-baiknya agar kelak ia bisa belajar menjadi ’manusia’ yang kuntum khoerul ummat.......

Ya semoga................

Thursday, February 16, 2006

MENYOAL KEMISKINAN BANGSA

Indonesia tercinta nampak dari luar sebuah kawasan yang luas dengan kekayaan hayati, kekayaan bumi dan juga lautan tetapi tidak membuat rakyatnya tersenyum lega. Jamrud khatulistiwa kebanggaan seluruh negeri berubah rupa menjadi bencana penghancur. Kini Ibu Pertiwi benar-benar sedang bersusah hati

”....air matanya berlinang,mas intan yang kau kenang…hutan gunung sawah lautan…simpanan kekayaan kini ibu sedang lara, merintih dan berdo’a….” benar mas, intan, hutan gunung, sawah dan lautan kini sudah tergadai tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari negeri yang kaya raya.

Tidak hanya kemiskinan fisik yang dialami mulai dari banjir, longsor, gempa, kecelakaan pesawat, kapal feri walaupun musibah ini bukan disengaja, namun ulah manusia adalah sebab yang konkrit timbulnya bencana, ditambah lagi dengan kondisi ekonomi rakyat yang semakin hancur dengan naiknya minyak bumi dunia sehingga mengakibatkan terjadinya inflasi, rusaknya pertanian rakyat , pemberhentian pegawai besar-besaran di hampir setiap kawasan industri, sehingga stress dan depresi banyak dialami oleh sebagian masyarakat, terbukti dengan meningkatnya pasien yang mengalami gangguan jiwa hingga 100% sejak Oktober tahun lalu di RS Ghrasia dan RSUP Yogyakarta

Kemiskinan fisik yang dialami masyarakat tentunya akan sangat berdampak terhadap mentalitas bangsa, untuk memenuhi segala kebutuhannya maka segala cara akan dilakukan orang. Sulit menentukan siapa yang salah jika kejahatan dilakukan untuk memenuhi rasa lapar, ada anekdot yang membuat nyeri…

Harga BBM naik maka rakyat miskin akan berkurang??

Orang miskin yang biasa naik angkot sekarang jalan kaki
Ketabrak metromini yang sopirnya stress karena setoran tekor
Maka orang miskin mati...(rakyat miskin berkurang)

Orang miskin lapar tidak mampu membeli beras dan minyak tanah
Lalu nyolong ayam ketahuan warga, digebugin
Maka orang miskin mati...(rakyat miskin berkurang)

Orang miskin berlama-lama menahan lapar,
Lalu mengidap busung lapar
Maka orang miskin mati...(rakyat miskin berkurang)

Orang miskin sakit kena flu burung, tidak bisa ke dokter
Karena tak punya uang
Maka orang miskin mati...(rakyat miskin berkurang)

Orang miskin mau minum tak punya air masak
Karena tak punya minyak tanah,minum air mentah jadi muntaber
Maka orang miskin mati...(rakyat miskin berkurang)

Seorang janda miskin tak bisa biaya keluarga
Menjual diri lalu terkena AIDS
Maka orang miskin mati...(rakyat miskin berkurang)

Seorang Bapa stress baru di PHK, kantornya gulung tikar
Tiduran di rel kereta api lalu tergilas
Maka orang miskin mati...(rakyat miskin berkurang)

Seorang pemuda putus sekolah tak punya biaya
Jadi pengamen, dikejar tibum lari...lalu ketabrak bus
Maka orang miskin mati...(rakyat miskin berkurang)

Orang miskin ingin mau menyalakan lampu
Listriknya tidak ada, nyolng listrik ke kabel PLN
Lalu kesetrum. Maka orang miskin mati...(rakyat miskin berkurang)

Anekdot tak lucu itu memperlihatkan adanya korelasi antara kemiskinan fisik dengan kemiskinan mental, pantas saja Rasulullah berkata bahwa kemiskinan adalah musuh yang harus diperangi.

Semestinya kemiskinan fisik ini harus menjadi energi yang besar untuk mengubah mental menjadi lebih kuat, mental yang siap bertahan dalam kondisi apa pun. Sebagai anak negeri kita harus bangun dari keterpurukan agar menjadi bangsa yang memiliki harga diri dan sikap mental yang disegani bangsa lain. Kemiskinan seharusnya bukan alasan kita untuk berbuat salah. Tak ada yang lebih berharga selain kita mati dengan memiliki harga diri.

Namun bukan tidak mungkin jika ada orang yang berkali-kali dengan sengaja melakukan kejahatan dan berkali-kali juga keluar masuk penjara dengan motif agar ia ditangkap untuk dimasukkan di penjara, karena saat ini penjara adalah satu-satunya tempat yang memberikan tempat untuk berlindung (rumah) dan mendapatkan jatah makan 3 kali sehari secara gratis (tidak perlu sewa rumah, tak perlu bayar lsitrik, ledeng dan tak perlu mengeluarkan uang untuk makan). Bagaimana jika pemikiran ini benar-benar dialami oleh sebagian besar masyarakat? siapa yang patut disalahkan??

Jadi ingat dagelan si Daan Project P, untuk menjadi bangsa yang bermental tinggi maka semuanya harus dinaikkan.........(maksudnya menaikkan mental bangsa he....)

Friday, January 27, 2006

Zero Activity

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang khusyu dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perilaku yang tiada berguna(Lagwah)………” QS Al Mu’minuun ayat 1-3

Sebagai mukmin kita dituntut untuk selalu mengoreksi, mengevaluasi diri setiap saat, setiap waktu agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama pada waktu dan kesempatan yang sama. Merugilah orang-orang yang hari kemarin sama dengan hari ini dan hari esok sama dengan hari ini. Sabda rasulullah itu mengisyaratkan bahwa kita harus selalu improving setiap hari, sehingga hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.

Dalam rutinitas keseharian tentunya kita sering terjebak dengan suatu aktifitas yang tidak bermanfaat yaitu aktifitas yang tak bernilai positif dan juga tak bernilai negative baik disadari atau tidak. Kebanyakan kita tidak menyadari apa yang sedang kita lakukan, baru sadar setelah kita dihadapkan pada sebuah masalah.

Dalam QS. Adz Dzaariyat:56
“ Dan tidak semata-mata Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kehadapanKu”.

Sebagai seorang mukmin tentunya hidup kita adalah bentuk pengabdian ke hadapan sang Kholik, semua gerak yang kita lakukan baik gerakan yang disadari atau gerakan yang tidak disadari merupakan ibadah, detak jantung, kedipan mata, denyut nadi, makan, tidur belajar, kerja semuanya harus bernilai ibadah sehingga tidak akan ada satu detik pun satu aktifitas kecil pun terbuang sia-sia.

Waktu adalah amanah terbesar setelah Iman Islam dari Allah SWT, setiap manusia memiliki jumlah waktu yang sama dalam sehari (24 jam) namun ada manusia dengan jumlah waktu tersebut mampu melakukan berpuluh –puluh aktifitas yang produktif dan ada juga manusia yang hanya tidak memanfaatkan waktu semaksimal mungkin sehingga dalam sehari tak satu pun aktifitas yang dilakukannya produktif. Seorang mukmin seharusnya mampu disiplin terhadap waktu sebab Allah pun pernah berjanji demi waktu QS. Al Ashr : 1-3 :
”Demi waktu sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian , kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran”

Oleh karena itu seorang mukmin dituntut untuk mampu memanfaatkan waktu seoptimal dan seproduktif mungkin, me-manage dan mengorganisasikannya dengan sebaik-baiknya.

Zero activity (baca: aktifitas tak bernilai atau Lagwah) merupakan perbuatan yang menyita waktu, dan tidak bernilai ibadah di hadapan Allah SWT. Dalam QS Al Mukminun ayat 3, seperti dikutip diatas Allah menyebutkan perbuatan lagwah, yaitu perbuatan yang bernilai 0

Kita kadang-kadang kesulitan untuk mendefinisikan aktifitas yang kita lakukan bernilai ibadah atau tidak karena kita senantiasa mencari pembenaran diri melalui ayat-ayat Allah atau logika yang dibuat selogis mungkin agar orang lain dapat memaklumi, toleran dan menerimanya sehingga kita tidak merasa guilty.

Sebenarnya pembenaran diri adalah gambaran sikap mental yang ’sakit’ karena ia sedang membodohi dirinya sendiri, tidak untuk Allah.

Apa saja yang terkategori zero activity?

Dari ayat pertama di atas menunjukkan bahwa salah satu sifat seorang mukmin adalah ia selalu menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia. Diantaranya perbuatan yang dimaksud termasuk seperti
- Obrolan sia-sia
- Tontonan TV dan radio sia-sia
- Kesenangan/ hobby yang sia-sia
- Melamun yang sia-sia
- Keisengan yang sia-sia

Termasuk lagwah atau tidak aktifitas yang kita lakukan? sangat relatif, bergantung pada seberapa besar manfaat yang akan diperoleh oleh seseorang, dan ini dipengaruhi oleh faktor subyektifitas seseorang. Tetapi paling tidak mukmin memiliki patokan ketika akan memulai suatu aktifitas dengan ”Sukakah Allah dengan apa yang akan aku lakukan?”. Ini akan menjadi kontrol bagi diri sehingga lepas dari intervensi pribadi/ hawahu.

Zero Activity Versus Negative Activity

Sebuah aktifitas yang tak bernilai merupakan aktifitas yang merugikan karena membuang waktu dan energi, tapi akan jauh lebih merugi manakala aktifitas tersebut bergeser sedikit menjadi aktifitas negatif artinya aktifitas yang bernilai dosa, aktifitas model beginilah yang akan menghancurkan seluruh amalan baik, yang menjadi perantara bagi kita menuju pintu neraka laknatullah.

Ada perbedaan yang sangat tipis sekali dalam mengkategorikan aktifitas nol dengan negatif karena negatif selalu dimulai dengan aktifitas nol artinya saat kita lengah, saat kita memiliki waktu yang tidak produktif maka kita rentan tergoda oleh syetan. Tadinya kita mengobrol mengenai model pakaian yang sedang trend misalnya, maka tiba-tiba secara tidak sadar kita sudah membicarakan cara berpakaian teman kita yang selalu tidak matching maka terperangkaplah kita dengan perbuatan ghibah (menggunjing/ mengupat orang lain). Mulanya hanya kumpul-kumpul dengan teman, lama-lama mengajak ke Pub dan akhirnya meneguk alkohol dan nge-drug

Disinilah hebatnya syetan dalam menggoda manusia, maka berhati-hatilah dalam melakukan aktifitas yang minim manfaat atau bahkan tak bermanfaat sama sekali.

Wallahualam bishowab
Rina Mutaqinah







.

Seharusnya berkarya seni seperti apa?.........

Inna Allhuma jamilun wa yuhibbu al-jamil (sebuah hadits) yang artinya sesungguhnya Allah itu Maha indah dan mencintai keindahan.

Sebelum Islam datang, paradigma yang berkembang di kalangan seniman Arab adalah “ ”seni untuk seni” mereka menghasilkan karya seni hanya semata-mata pemuas nafsu belaka, sehingga Rasulullah menyerang habis-habisan pada para penyair yang karya seninya berisi eksploitasi nafsu semata seperti dalam QS As Syu’ra : 244 “
Para penyair itu diikuti oleh orang-orang sesat…..”

Seni untuk seni ini juga lah yang berkembang di masyarakat kita saat ini; fornografi, fornoaksi yang dinilai oleh seniman kita sebagai sebuah maha karya seni (audzubillah...) mereka tidak mengenal tanggung jawab moral dan kemanusiaan. Tayangan TV, sinetron, pagelaran musik, tayangan iklan sekali pun tak henti-hentinya mempertontonkan erotisasi tubuh, kemegahan hidup, betapa nikmatnya hidup serba kecukupan dan simbol-simbol kekayaan dan glamoritas lainnya yang semuanya sangat jauh dari kenyataan kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Kita tidak menampik kalau dalam tayangan seni di TV pun ada nilai positif yang mereka bawa, namun nilai positif tersebut tertutupi oleh gumpalan kabut hitam, bagai sebuah bungkusan dus kado yang besar ketika dibuka berisi dus kado di dalamnya, ketika dibuka dus yang kedua berisi dus kado lagi didalamnya begitu seterusnya sampai ditemukan sebongkah pasir dalam dus yang terakhir. Itulah kenyataan yang ada dunia seni kita saat ini.

Kenapa seniman kita sekarang ini bisa menciptakan karya-karya yang hanya menjadi pemuas nafsu belaka? Jawaban yang sering diutarakan adalah ’kebebasan’ . Kita memang sudah sepakat dalam seni ada kebebasan, tapi bukan kebebasan yang sudah tidak menghiraukan akal dan hati nurani, tetapi kebebasan yang menyadari kekuatan maha indah yang mengikatnya untuk tunduk.

Seni itu keindahan, keindahan yang bermuara pada perasaan halus seseorang dengan sifatnya yang menggetarkan. Getaran ini terjadi secara langsung ketika seseorang mendengar, melihat sesuatu yang bernilai estetika. Seorang mukmin sering merasakan getaran itu ketika dibacakannya ayat-ayat Allah seperti firman allah SWT :
QS. Al Anfaal:2

” Sesungguhnya orang-orang beriman adalah orang-orang ketika disebutkan asma Allah maka bergetarlah hatinya, apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah segera bertambahlah iman segera bertambahlah iman mereka dan mereka bertakwa kepada Tuhannya”

Dalam filsafat keindahan terbagi dua : natural dan artifisial. Keindahan alam dan seisinya merupakan keindahan natural, sedangkan keindahan karya seni bikinan manusia termasuk keindahan artifisial.

Keindahan natural (alam) pada hakikatnya merupakan keindahan Ilahi. Alam berguna sebagai media sakramen pengambaran terhadap yang Maha Tak Terlihat. Penghayatan dan penjiwaan akan alam membawa kita pada satu kesadaran dan keindahan transenden, yang kemudian membuat pribadi seseorang merasakan adanya kelembutan dan kehalusan yang dalam mendorong jiwa seseorang menjadi lebih halus, lebih rendah diri dan akhirnya menyelaraskan hidupnya dengan harmoni alam, bertasbih, ruku dan sujud pada yang menciptakannya.

Sedangkan keindahan artifisial pada hakikatnya merupakan sebuah tiruan keindahan alam, sesuai namanya ”seni” berasal dari bahasa Yunani mimetik=imitasi merupakan hubungan imitasi dari objek-objek di dunia yang merupakan bentuk tak sempurna dari bentuk yang ideal.

Ketika seorang mukmin menciptakan karya seni, mereka manumpahkan segenap perasaannya untuk bisa menggetarkan ruhaniahnya serta bisa mengalirkannya ke muara kasih sayang dan kemanusiaan, seiring dengan penghayatannya dan pengolahan nilai rasa yang terus berproses di kehidupannya menghasilkan pengalaman spiritual yang pada akhirnya akan membawa kita melebur dalam keindahan dan kebenaran universal.

Saat ini fenomena yang berkembang mendefinisikan karya seni Islami sangat identik dengan kaligrafi, musik nasyid, qasidah, monumen mesjid jika demikian miskin sekali karya seni Islam. Sebenarnya jika seni identik dengan keindahan maka Islam memandang segala sesuatu sebagai suatu karya indah manakala mampu membangkitkan nilai-nilai estetika yang mampu mendekatkan manusia dengan sang maha pencipta keindahan, sehingga bernilai ibadah.

Fauz Noor dalam bukunya menyebutkan Nilai estetis itu terrangkum dalam 3 prinsip ideal: yaitu kebenaran, kebaikan dan keindahan. Ketika seorang seniman kembali pada realitas kehidupanm masyarakat, penegasan akan kebenaran itu akan membumi.

Seni dalam Islam adalah seni yang bertanggung jawab yang mempunyai komitmen terhadap masyarakat serta memberikan pencerahan dan keselamatan. Disinilah kita harus meramu seni dengan unsur solidaritas sosial. Seni seharusnya dibentuk mendapatkan pengalaman estetika sehingga mampu menyentuh dimensi spiritual manusia.

Pengalaman estetika keagamaan yang bersifat spiritual yang pada akhirnya akan mengantarkan kita ke sebuah dialog iman melalui seni. Dalam suatu ritus keagamaan yang sanggup memberikan pengalaman estetis keagamaan, kita akan memasuki satu dunia maha indah, satu dunia yang disinari cahaya Ilahi. Oleh karena itu pengalaman estetika dan pengalaman spiritual pada akhirnya akan bertemu dalam kedewasaan berpikir dengan mengakui bahwa hakikatnya semua itu menghantarkan manusia dekat dengan Allah serta mengakui kebesaran Allah

Tuesday, January 24, 2006

Belajar Tidak Makan

“ You are what you eat’
kamu adalah seperti apa yang kau makan


Formalin, borax, pewarna tekstil dan bakso daging tikus menjadi sangat heboh akhir-akhir ini, menjadi head line di beberapa surat kabar. Bagai gunung es yang mulai mencair issu ini menjadi santer, padahal selama 20 tahun para pedagang dan pengusaha sudah menggunakannya terutama formalin sebagai suatu obat yang dapat mengawetkan makanan tanpa merubah rasa dan warna dan lebih murah.

Pemerintah nampaknya harus jeli dan bijak menanggapi masalah ini, selain membuat resah masyarakat juga membuat para pedagang dan pengusaha gulung tikar dibuatnya, yang lebih dirugikan adalah para pedagang dan pengusaha yang tidak termasuk kategori ’nakal’ atau bodoh

Bukan tidak mungkin praktek ini dilakukan para pedagang dan pengusaha karena ketidaktahuan mereka akan besarnya efek yang ditimbulkan oleh obat-obat tersebut, yang mereka tahu hanya bagaimana mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan cara yang mudah dan murah.

Ada sisi yang bisa kita telaah lebih mendalam, ”mengapa issu ini menjadi sangat mencuat belakangan ini?,

Di tengah-tengah keresahan yang dialami masyarakat tentunya ada pembelajaran bagi kita semua untuk selalu waspada mengkonsumsi berbagai produk makanan.

Makanan yang kita konsumsi saat ini selalu lekat dengan bahan-bahan kimiawi sekalipun sayuran tapi pestisida yang digunakan pun menjadi bom waktu bagi tubuh kita untuk menyimpannya dalam tubuh menjadi pemicu berbagai macam penyakit.

Lalu harus bagaimanakah kita saat ini??. Tulisan ini tidak bermaksud membuat kita semua untuk berhenti makan tapi berhentilah makan makanan yang mengandung ’racun’.

Dalam Al Qur’an Allah mengatakan dengan sangat jelas dalam surat (al-Baqarah: 172)
Wahai orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepadaNya saja kamu menyembah.


Seorang mukmin hendaknya menjaga makanannya dari makanan haram, tidak toyyibah dan meragukan (subhat), artinya Allah memerintahkan kita untuk memakan makanan yang halalan toyyibah

Jadi ingat saat masa kecil di kampung, kalau mau makan tinggal ambil di kebun belakang rumah. Ada kacang panjang, cabe rawit, kencur, ikan

Wednesday, December 07, 2005

Aku-1

Kita ini siapa ibu…. ?
Aku renungkan pertanyaan anakku, mirip seperti pertanyaan Socrates “siapa kita?” aku heran mengapa pertanyaan seperti ini muncul dari anak seusia anakku, pertanyaan ini mengandung makna yang luas dan dalam hanya orang dewasa yang mampu bertanya dan menjawab pertanyaan seperti itu, itu pun hanya orang dewasa mengenal jati dirinya yang mampu menjawab pertanyaan seperti itu.

Kuingat pertanyaan yang sama sempat ditanyakan oleh salah seorang kader HMI kepadaku saat aku masih kuliah dulu, dalam perjalanan hidupku pertanyaan itu baru termaknai beberapa tahun belakangan ini.

Siapa Aku…??

Jarang sekali manusia bertanya pada dirinya tentang hakekat dirinya sendiri karena manusia selalu berorientasi pada luar dirinya yang bersifat badani dan social bukan ke dalam dirinya. Kalau boleh kukatakan manusia seperti sapi………….

Aku adalah mahluk yang Allah ciptakan dengan nama ‘manusia’ yang terdiri dari unsur bumi dan unsur langit (unsure fisik yang terdapat pada saripati tanah, dan unsure langit berupa jiwa, ruhani yang tunduk pada sang Maha Pencipta mahluk)

Untuk mengetahui siapa aku, maka harus bertanya kepada siapa yang menciptakan aku? Dalam hidupku yang panjang tak ada pedoman hidup yang sesempurna Al Qur'an sehingga kuyakini hanya inilah pedoman hidup yang tak ada keraguan sedikitpun didalamnya, petunjuk bagi seluruh manusia dan orang-orang yang beriman (QS. Al Baqoroh : 2-4 ) Semua persoalan hidup terjawab disini.

Aku dan Kau

Aku bukan kau dan kau bukan aku, tapi aku dan kau sama-sama manusia. Struktur jasmaniah dan struktur rohaniah kita sama. Aku bukan binatang dan kau pun bukan binatang mengapa kita tidak bisa hidup bersama secara benar? Mengapa kita saling bersikukuh bahwa aku adalah aku, dan kita memang berbeda dan kita tidak mungkin hidup bersama?” (Jakub Sumardjo)

Benar kata Jakob Sumardjo di atas, tiap kita adalah beda Allah menciptakan milyaran mahluk tapi tak satupun punya karakteristik yang sama persis, bahkan sidik jari masing-masing kita pun tidak ada yang sama Subhanallah….tapi kita sama, sama-sama mahluk Allah yang memiliki tugas mengabdi kepadaNya, dalam lingkup sebagai masyarakat dunia, sepetak bumi Allah lainnya, keluarga dan diri kita sendiri.

Aku dan kau diciptakan untuk berpasangan, bekerja sama..mengapa kita tidak bisa bekerja sama?...Apa yang salah dari diri kita? Allah telah menyatukan kita dalam Al Islam dan bahkan seorang suami dan istri disatukan Allah dalam ikatan pernikahan…Sandaran hidup kita pun sama…Tujuan hidup pun sama…Uswah kita pun sama …Alasan apa yang membuat kita tidak bisa bekerja sama…Mengapa kita saling menyakiti…Apa yang salah dengan otak dan hati kita…??

Friday, October 21, 2005

Benarkah Wanita Karir Tidak Bisa Exist di Rumah ????????


Empat tahun yang lalu dalam sebuah diskusi panel di sebuah DKM salah satu perguruan tinggi swasta, saat itu aku berbicara dengan lantang mengutuk wanita karir yang lupa pada jati dirinya sebagai ‘wanita’ karena tidak sesuai dengan syariat Islam, meninggalkan suami, anak pergi sampai larut malam , pergi ke luar kota, ke luar negeri sendiri tanpa suami., lupa mengurus anak, tidak pernah memasak untuk keluarga apalgi membantu anak belajar.

Aku memberi alternative kepada audiens, jenis pekerjaan yang sesuai dengan fitrah wanita yaitu jadi guru, perawat dan dokter. Saat itu ada salah satu audiens yang mengatakan bahwa Khodijah pun seorang pengusaha (konglomerat) “Tidakkakh itu pun tidak sesuai fitrah?”. Akhirnya diskusi itu berakhir pada sebuah kesimpulan bahwa pekerjaan apa pun dapat dilakukan wanita selama keahlian/ keterampilan wanita tersebut diperlukan oleh masyarakat dengan memperhatikan rambu-rambu sebagai berikut :

- tidak meninggalkan tugas utamanya sebagai ibu dan isteri
- mendapat izin dan restu suami
- menjaga hijab ketika di luar rumah

Di dalam masyarakat Islam jika ada wanita yang diharuskan bekerja di luar rumah karena memang keahlian dan keterampilannya diperlukan oleh masyarakat Islam maka harus ada jaminan bahwa beban dan amanah yang ia tinggalkan di rumah dapat diatasi oleh saudara mukmin lainnya..Jika wanita tersebut memiliki anak yang harus diasuh maka pengasuhan anak oleh wanita lain yang sama-sama mukmin (sebagai baby sitter) mutlak diperlukan selama ibunya bekerja.

Mentertawakan Diri

Hampir 10 bulan semua yang kukatakan tentang ‘image wanita karir’sangat terasa, ‘aku banget’ ternyata memang betapa sulit memanage waktu di rumah, kantor dan masyarakat. Seorang kawan yang kuanggap seperti kakakku sendiri bertanya padaku tentang harga barang pasca kenaikan BBM, kujawab
“ aku tidak tau harga barang-barang poko sekarang karena aku tak pernah belajan dan juga tak pernah masak
Ia bilang :
“ MasyaAllah bener-bener ‘wanita karir’, bagaimana kita tau kalo harga2nya udah bener tidak salah hitung, bukankah dalam mu’amalah harus ada ijab qobul dan ricek harga?”

Aku terperanjat , benar yang dikatakannya hal kecil seperti itu pun luput dari perhatianku. Selama ini suamiku yang selalu belanja kebutuhan rutin bulanan. Kutanyakan padanya apa ia merasa didholimi dengan melakukan semua itu, diluar dugaan jawaban suamiku

“Demi Allah aku senang melakukannya, mungkin baru segini yang bisa aku lakukan untuk membantu pekerjaan rumah, agar kau tenang bekerja aku mendukungmu sepenuhnya kau bekerja adalah bagian dari jihadmu padaNya dan aku melakukan ini pun bagian jihadku padaNya”
Oh my God….Ya Allah kukatakan padanya “ I luv u so much my hus, tq for all”. Ada sebuah peribahasa dibalik wanita sukses ada suami yang hebat (he…he…salah ya kebalik)

Beruntunglah aku jika sebagai pekerja mendapatkan daya dukung dari rumah, hingga ingin kubuktikan kalau sebagai wanita karir bukan hambatan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik dan aktivis masyarakat, kata kunci masalahnya terletak pada “manajemen diri”

Bukan tidak mungkin orang sepertiku akan mampu berprestasi dengan multi peran, kalau manajemen diri kita sudah benar. Aku sangat yakin bukan berita salah, kalau Rasulullah pun berprestasi sebagai hamba dengan multi peran juga dengan waktu yang sama yang diberikan Allah seperti yang kita miliki : 24 jam sehari, tapi mengapa dalam 24 jam rasulullah mampu melakukan banyak hal dari mulai mengurus ummat, negara, tetangga, para isterinya, hingga seorang anak kecil pun, bahkan semut pun tak luput dari perhatiannya. Bandingkan dengan kita, 24 jam sehari tak menghasilkan apa2 untuk agama, bangsa dan negara bahkan untuk dirinya sendiri pun tak ada yang bisa ia lakukan sedikitpun.

Oke…jangan Rasulullah lah perbandingannya, terlalu tinggi kita mengukur dan akan membuat kita mentoleransi diri dengan ”itu kan Rasulullah yang dibimbing wahyu”. Anggap saja lah si Fulan temanku seorang pimpinan di organisasi Islam, pekerja full time juga, aktifis LSM, da’i, guru, juga seabreg aktifitas yang bersifat temporer tapi ia masih sempet melakukan ibadah-ibadah sunnah bahkan dalam 3 tahun terakhir hafidz Qur’an hingga 8 juz luar biasa kan……….?? Yang tak kalah berhasilnya ia seorang kepala rumah tangga yang bisa dibilang sukses, tak pernah satu janji pun yang ia langgar, sekalipun jauh jarak yang harus ditempuh, jika ia sudah berjanji untuk datang maka ia akan memenuhinya walaupun dalam kondisi sakit.

Dalam sebuah literature aku sempat membaca bahwa manusia selevel Einstein baru menggunakan 4 % dari kapasitas otaknya luar biasa kan ?? itu artinya kita masih terus mampu meningkatkan diri, mengembangkan kapasitas otak kita, berprestasi menjadi hamba Allah., sehingga (dengan bahasaku) menjadi pribadi yang sempurna dengan ruhani yang mampu menggedor pintu langit , mengusik malaikat untuk memberi salam padanya dan menjadikan syetan menjauh darinya.

Dalam Islam tak ada perbedaan jender jika ingin berprestasi di hadapan Allah, Allah memberi kita (para wanita) peluang sama seperti yang dimiliki kaum laki-laki untuk mendapatkan ridhonya, syurganya seperti yang Allah katakana dalam QS. An Nisaa : 124
"Barang siapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun".

Maka jangan katakan “aku tak punya cukup waktu untuk memperhatikan keluargaku” karena Allah telah memberi kita banyak potensi tinggal kita memanfaatkan dan mengeksploitasinya secara maksimal.

Langkah awal mulai memanage diri

Buatlah agenda aktifitas harian
Misalnya :
03.30 – 04.00 : sholat lail
04.00 – 06.00

  • sholat shubuh
  • membaca Qur’an
  • menyiapkan sarapan (jika tak punya pembantu)
  • beberes rumah (jika tak punya pembantu)
  • mengecek kesiapan sekolah anak (cek seragam, sepatu dan hal2 yang musti dibawa, bangunkan anak suruh sholat dan mandi)

06.00 – 06.30 :

  • sholat dhuha
  • mempersiapkan diri pergi ke kantor

06.30 – 08.00 :

Perjalanan menuju kantor (jangan lupa membawa bacaan ringan agar tdk terjebak lamunan yg terkategori zero activity (awas hanya untuk yg tdk mengendarai kendaraan sendiri...)
bagi yang berkendaraan sendiri dengarlah berita di radio

08.00 – 12.00:

Bekerja sesuai agenda, disela-sela waktu kosong ngobrollah hal yang bermanfaat dengan teman untuk silaturrahiim (n agar tdk kuper)
Disela2 waktu teleponlah sekolah bicaralah dengan anak dan wali kelas tentang kondisi sekolah hari ini (lakukan seminggu 2 x


12.00 – 13.00 :
Sholat dhuhur ,makan siang (kalo tdk sedang shaum), browsing, searching info dan chatting di internet untuk pencerahan dan agar tdk suntuk


13.00 – 15.00 Bekerja kembali sesuai agenda


15.00 – 16.00 Sholat Ashar
16.00 – 17.30

Perjalanan pulang isi waktu dengan bacaan ringan atau tidur di angkot (awas hanya untuk yg tdk mengendarai kendaraan sendiri...)

17.30 – 18.00

sapalah anak2 dan pengasuh tanyakan kondisi dirinya dan kondisi rumah hari ini
mandi dan makan

18.00 – 20.00

  • sholat maghrib berjama’ah
  • bimbing anak membaca Al Qur’an (agar efektif anakyg besar ajarin anak yg kecil, kita bimbing anak yg besar
  • cek PR anak2, membimbing belajar anak
  • sholat Isya berjamaah

20.00 – 21.30

  • mengajak tidur anak2 bacakan dongeng (untuk membantu perkembangannya dan mendekatkan kita dg anak)
  • membuat agenda yg akan dikerjakan di kantor esok hari
  • bicaralah dengan suami tentang apa saja yg kita rasakan, kejadian di kantor
  • dengarkan juga apa yang disampaikan suami keluhan atau apa saja (berilah komentar positif yg konstruktif, ini penting untuk membangun komunikasi dan memupuk cinta)


21.30 – 03.30:

  • Istirahat (tidur)

Khusus Sabtu

Lakukan seperti di atas
08.00 – 14.00

  • Pergi ke LSM atau keg.sosial lainnya (kalo aku seb. WKS aku ke sekolah) mengerjakan agenda yang telah disusun malam tadi, kalo perlu bawa anak2 untuk mengenalkan dunia ibunya
  • Pulang dan lakukan aktifitas keluarga dengan suami dan anak2
    Selanjutnya sama seperti diatas

Khusus Ahad

Lakukan seperti di atas
08.00 – 14.00

  • Pergi ke majelis ta’lim, bawa anak2 (kenalkan ajaran Allah)
  • Selanjutnya sama seperti diatas
  • istirahat bagi seorang mukmin adalah menikmati aktifitas itu sendiri dan pada saat tidur
  • Sesekali lakukan refreshing ke gunung atau tempat rekreasi dg keluar


Tetap konsisten dengan program tapi fleksibel
Patuhilah apa yang sudah kita azamkan walaupun tidak perlu kaku, sesuaikan dengan situasi dan kondisi

  • Lakukan evaluasi diri
  • Melakukan evaluasi diri setiap akhir sholat lail
  • Perbaiki bagian yang kurang
  • Memperbaiki program atau sikap yang salah agar tidak terulang pada hari berikutnya
  • Hindari kesalahan yang sama pada kesempatan yang sama
  • Merugilah orang yang selalu terperosok pada lubang yang sama

Akhirnya kusampaikan sebuah kalimat dari seorang teman lama

"Jika kita memiliki kesempatan utk menjadi seseorang yg LUAR BIASA , Kenapa kita memilih utk menjadi biasa-biasa saja? Bukankah hidup ini hanya sekali saja? Pastikan diri kita BERGUNA utk orang banyak."

Akhwat teruslah berkarya untuk Allah,jadilah wanita karir yang sukses di rumah, kantor dan masyarakat

Salam takdim,
Dengan gembira, with love
Rina Mutaqinah TaufikThx you’re my spirite,my hus…

Monday, October 10, 2005

Grafiti Yang Menggelikan

Aku tidak tahu keadaan di beberapa negara yang mayoritas Islam apakah sama dengan di Indonesia atau tidak?. Di saat menjelang lebaran alias hari raya iedul fitri 1 syawal tahun hijriyah ada suatu kebiasaan yang bisa dikatakan sudah menjadi budaya khas muslim di Indoneasia yakni pulang kampung (baca:mudik ke kampung halaman ). Orang yang tinggal di Jakarta mudik ke Semarang, Tegal,Surabaya, Padang, Palangkaraya, Papua dan semua kota di seantero Indonesia begitupun orang yang tinggal di Surabaya pulang ke lampung, Jambi, dan kota lainnya. Bisa dibayangkan betapa semrautnya arus mudik tersebut dari timur menuju barat, dari selatan menuju utara, dari utara menuju barat, dari timur menuju selatan. Yang sangat repot tentunya yang mengatur lalu lintas yaitu Pak Polisi (dan ....orang yang tidak kebagian tiket kendaraan he…he…).

Semua kerepotan yang disengaja ini memang dinikmati oleh semua muslim di Indonesia walaupun harus desak-desakan mengantri tiket kereta atau berebut bis antar kota, hati mereka senang karena sudah terbayang di pelupuk mata betapa nikmatnya berkumpul dengan sanak keluarga yang lama ditinggal atau betapa leganya melepas kerinduan yang mendalam terhadap kampung halaman dan orang-orang yang dicinta.

Selain alasan di atas tentunya ada juga alasan lain yang tersembunyi yang mendorong orang untuk pulang mudik yaitu keinginan yang besar untuk unjuk kemampuan, unjuk penampilan atau menunjukkan glamoritas kehidupan kota dengan gaya hidup yang ...wah....sehingga terbayang di benak orang-orang kampung betapa enaknya hidup di kota tinggal di rumah mewah seperti yang biasa mereka lihat di sinetron dan telenovela.

Lepas dari semua alasan di atas mudik menjelang iedul fitri memang menjadi pilihan yang tepat untuk saling bertemu, bersilaturahiim saling membebaskan dosa dan kekhilafan baik pada orang tua atau kerabat. Begitupun aku, aku pulang menemui orang tua (mertua tepatnya) dan sanak famili yang berbeda kota untuk bersilaturahiim dengan mereka, sungkeman dengan orang tua. Ada kebiasaan baik di rumah keluarga suamiku, mungkin juga di keluarga lainnya, jika datang saatnya sungkeman, dari anak yang paling tua sampai paling muda, menantu, cucu dan cicit berderet berurutan (anak mertuaku 12 orang semuanya sudah berkeluarga...kebayang kan betapa banyaknya...)sungkeman pada orang tua dan orang yang lebih tua. Saat itu selalu menimbulkan haru dan sedih.

Yang paling mengesalkan dan membuat cape saat mudik adalah pada saat harus ngantri di jalanan terjebak kemacetan lalu lintas, walaupun semua kemacetan ini memang sudah biasa dan mafhum serta terprediksi sebelumnya tapi rasa kesal dan cape tetap saja ada.

Saat itu di hari ke 3 syawal aku dan keluargaku pulang, jalanan agak macet tapi masih dapat ditolerir, kunikmati perjalanan tersebut. 20 Km sudah kami lewati jalan, mobil pun mulai bertambah membuat jalanan menjadi padat. Laju kendaraan selalu di angka 20 km/jam. Keringat pun mulai bercucuran udara mulai panas dan karbon monoksida dari beribu kendaraan memenuhi udara yang kuhirup, penat, kesal menjalari perasaanku. Anak-anak kecil berlarian di tengah panasnya udara dengan ganjal mobil yang terbuat dari kayu di tangannya, mereka menawarkan jasa sewa ganjal kayu untuk mobil di kala macet di bidang yang menanjak.

Saat di persimpangan tiga (baca: jalan cagak) tepatnya di daerah Nagrek dari sebelah kiriku muncul sebuah truk yang biasa digunakan mengangkut pasir syarat dengan penumpang mendahului kami, mataku terfokus pada sesuatu, aku tersenyum dikulum tertawa tak jadi memperhatikan sebuah grafiti di belakang bak truk tersebut, sebuah gambar seorang wanita menor dengan tulisan ”kutunggu jandamu...” (hi...hi....gambarnya masyaAllah).

Garfiti model demikian nampaknya sudah sangat lekat dengan sopir-sopir truk, bagiku hal tersebut menunjukkan siapa ’si pemilik’ truk. Aku ingat sering juga melihat gambar dan tulisan seronok di setiap truk yang kutemui di jalanan. Ada gambar dengan tulisan ”kalau cinta ditolak, dukun bertindak”, ada juga ”sabar menanti...” yang semuanya dibarengi gambar perempuan yang (maaf.....) menjijikkan.

Beberapa waktu yang silam aku pernah terlibat pembicaraan dengan salah satu teman bahwa ada sebuah fenomena yang khas dari grafiti di bak-bak truk tersebut, menurutnya walaupun semua grafiti tersebut nampak sejenis dan bertema sama namun bagi komunitas sopir truk hal itu dapat dibedakan berdasarkan tema-tema yang diambil yang menjadi sebuah tanda atau kekhasan tertentu bagi trayek/jalur-jalur truk, misalnya untuk truk jalur pantura maka grafiti biasanya bertema perempuan kesepian, untuk jalur timur maka tema grafiti seputar pemuda patah hati.

Semuanya itu membuat pikiranku berputar, rasa penat, kesal di jalanan terlupakan karena otakku sibuk memikirkan komunitas sopir truk dengan grafiti yang khas dan aneh.

Tak lama tanpa kusadari aku sudah hampir sampai di jalan menuju rumahku kuucapkan ”Alhamdulillah.........” Ternyata di dunia ini banyak sekali komunitas yang terbentuk berdasarkan kepentingan yang sama untuk menggapai tujuan yang sama yang luput dari perhatian.




Wallahua'alam bishowab
Penulis : Rina M. Taufik

Sunday, September 11, 2005

Berteman Dengan Kuman

Mungkin pikiranku sama dengan yang lainnya di sebuah daerah yang sangat dekat dengan ibukota negara ; Jakarta, tentunya tidak luput dengan angin globalisasi, futuristik, gaya hidup metropolitan, hedonisme dan sederet istilah yang menunjuk pada sebuah makna hidup modern. Paling tidak daerah ini pernah tertulis dalam sejarah proklamator negeri ini ketika akan memproklamasikan negara RI tanggal 17 Agustus 1945 setengah abad yang lalu.

Bahasa daerah yang digunakannya pun tidak begitu beda dengan bahasanya ”Mandra” tokoh betawi asli dalam serial TV si Doel. Karakter, bahasa tubuh menunjukkan Betawi kebanyakan. 40 km dari kota kabupaten lokasi yang akan kami kunjungi untuk ’pemotretan’ sekolah di Jawa Barat


Di perjalanan menuju dusun tersebut pikiranku melayang-layang saat mendengar dari salah seorang guide kami yang mengatakan bahwa “jalan raya ini baru selesai kemarin diaspal, untuk menyambut kami ‘tamu dari pusat’….”. Ya Tuhan….aku tersanjung sebagai ‘tamu dari pusat’ datang untuk menginfeksi. Aku pun menyangka, jalan raya pun mereka aspal untuk menyambut kami apalagi kalau kami datang di lokasi, mungkin red carpet pun akan di gelar.

Namun siapa sangka ternyata,......... semuanya sebuah paradoks. Bangunan sekolah dengan 3 kelas dengan dinding yang bolong-bolong, atap yang bukan lagi bocor tapi nyaris separuhnya bergelayut ke bawah, dinding pembatas kelas yang belepotan, tiang penyangga dimakan rayap, ditambah 1 ruang guru yang kondisinya sangat kumuh dengan kursi yang bolong dan melengkung ke bawah (baca:mengantong) sehingga jika mau berdiri setelah duduk sangat berat karena harus mengeluarkan energi ekstra. Murid di SD tersebut semuanya berjumlah 140 orang dengan dua shift yakni pagi pukul 7 sampai pukul 9.30 untuk kelas 1,2,3 dan pukul 10.00 sampai dengan pukul 12.30 untuk kelas 4,5,6. dalam sehari mereka belajar hanya 2,5 jam selain itu aku berpendapat nampaknya mereka tidak pernah merasa perlu ke toilet, karena sekolah tidak memiliki toilet (baca: WC)

Tidak habis sampai disitu keterkejutanku, ada pemandangan yang sangat menggelikan sekaligus memprihatinkan dan membuatku bergidik, mungkin bagi sebagian orang keadaan ini adalah hal yang sangat biasa dan wajar, sepanjang jalan yang kulalui memanjang sebuah kali yang bisa dibilang sumber penghidupan dan kehidupan masyarakat di situ, betapa tidak aktifitas keseharian seperti mandi, mencuci baju, mencuci piring, , memandikan kerbau, bebek , irigasi sawah bahkan buang air besar pun mereka lakukan di kali tersebut.

Hari kedua, ketika seorang Bapa Guru mengantarku ke penginapan 11 kilo di kota kecamatan kurang lebih 12 km dari sekolah, sambil memperhatikan aktifitas warga di sepanjang kali, aku bertanya
” Pak...mengapa mereka melakukannya di kali?”
” Iya Bu disini memang begini, sudah kebiasaan”
” Mengapa mereka tidak membuat sumur?”
”Bu...disini kita tidak bisa membuat sumur, air nya tidak enak asin dan gatal, jadi air kali satu-satunya sumber air di sini, karena airnya tawar”
” Pak, kalau air minum didapat dari mana? ” tanyaku lagi
” Ya...dari sini...” (gubrak......)
Rasanya perutku pun mau muntah, ingin kukeluarkan seluruh makanan dan minuman yang terlanjur kutelan kemarin, tapi...kucoba memahami dan memakluminya.

Benakku pun mulai sibuk mencerna, merorganisasi dan mentafakuri informasi yang baru kudengar, dalam diam aku bertanya mengapa mereka tidak sakit, padahal bakteri e-colli, kholera, tyfus ada di setiap denyut nadinya, karena bagaimana tidak, mandi, cuci, sikat gigi buang air bahkan minum pun dari air yang sama.

Tiba-tiba aku teringat istilah yang digunakan seorang teman pakar Biologi ”imunisasi alami”, ya...mungkin itu mereka menjadi kebal terhadap kuman, karena saat kuman akan masuk dan meyerang, tubuh mereka say hello ”hello...jangan menyerang kita teman, sesama teman tidak boleh saling menyerang” tapi bagaimana denganku, bukankah aku tidak biasa mengkonsumsi air kotor??

Selama 3 hari aku selalu was-was, kalau-kalau aku akan sakit. Kucoba tenangkan diri, kupasrah atas semua yang akan terjadi kepadaNya dan sampai aku kembali dari daerah tersebut, ternyata aku sehat.

Dari kejadian itu Aku pun mulai sadar dan membuktikan sendiri kalau sehat benar-benar milik Allah SWT, kita hanya bisa berusaha semaksimal mungkin untuk bisa sehat.

Ketika di Karawang, 1 Oktober 2005
Rina Mutaqinah Taufik
www.muhasabahrinataufik.blogspot.com

Thursday, September 08, 2005

DIALOG AYAH DAN ANAK

Ketika kuperhatikan dia saat ada dalam gendonganku, aku selalu merasa was-was akan masa depan anakku kelak, aku sangat kuaatir kalau anakku akan berbeda jauh lebih buruk dariku.

“ Apa yang sedang Bapa pikirkan?”

”Aku..?’’ aku terkejut mendengar suaranya, terang sudah lama berganti gelapnya malam . Suara kodok terdengar dari kejauhan. Isteriku telah lelap. Dan di gendonganku, anakku dengan mata sipitnya dan rambut sedikit rada jocong tersenyum menatapku.

”Apa yang Bapa pikirkan?”

”Kau mengajakku bicara Nak?”

Dia hanya tersenyum

”Baik Nak, aku sedang berpikir tentang kau”

”Aku kuatir dengan masa depanmu“ kataku

”ha...ha...ha...”

”Kenapa kamu tertawa...”

”Orang tua selalu kuatir dengan masa depan anaknya, tetapi selalu gagal memberikan contoh dan teladan kepada anaknya untuk tumbuh menjadi manusia benar.”

”..Hush...kamu masih bayi ....tak patut berkata seperti itu...“

”Orang tua selalu begitu, takut dikritik tak mau mengaca diri dan selalu berlindung dibalik ketuaan dan keegoisan diri, dan berkata kalau tak egois bukan Bapa tapi banci.... Bukankah Bapa ingin mengatakan kalau saya adalah anak kemarin sore yang belum tahu indahnya Paris atau betapa sulitnya menjadi kaya di tanah air? dan bapak sudah kenyang dengan asam garam kehidupan?”

”Sejujurnya aku mengkhawatirkan diriku sendiri. Aku takut ketika kelak kau dewasa, aku tak bisa toleran melihat keliaran dan keberanianmu menjebol tatanan orang dewasa ”

”Bukankah Bapa sendiri cukup liar? Misalnya ketika Bapa memberontak dengan memanjangkan rambut, menghisap rokok dan berkeliaran sampai pagi ketika masih SMA dulu”

”Begitulah, apakah aku cukup toleran ketika kau memakai anting2 di hidungmu?”

”Sebentar pa, apakah bapa bisa bantu aku membetulkan popokku yang melorot ke bawah?”

”OK”

”Nah begitu lebih baik..., kembali ke soal tadi...bukankah Bapa juga menikmati keliaran ketika Bapa memutuskan untuk keluar kuliah dan memilih jadi pemain band, padahal kakek berharap bapa jadi insinyur?”

”Aku takut kelak apa aku cukup toleran ketika kau memutuskan untuk berhenti kuliah sama sekali dan memilih jadi pembalap, sementara aku berharap kau jadi pengusaha atau konglomerat”

”Bapa juga menikmati keliaran ketika mempermainkan banyak wanita”

”Begitulah, aku pun tidak tahu apa aku cukup toleran ketika kau banyak mempermainkan dan bergantian cewek tanpa satu pun kau nikahi”

”Bapa, kemarilah...ada yang ingin aku bisikkan, bukankah Bapa akhir-akhir ini menikmati keliaran Bapa dengan berteman dengan banyak wanita tanpa sepengetahuan ibu???”

” Apa sekarang pun Bapa menikmati keliaran dengan alkohol dan dunia malam”

”Ssssttt...anakku aku akan menghentikannya, aku tidak akan tahan jika kau kelak begitu”

”Baiklah pa, adakah cara yang tepat agar aku tidak terjebak seperti Bapa sekarang?”

”Temukan ilmu dan amalkan dalam hidupmu, carilah teman yang baik dan benar , janganlah kau menyerah dengan keadaan, juga selalulah menerima kritik dan masukan dari siapa pun dengan lapang dada, maka kau akan temukan kebahagian yang tak ternilai kau akan mendapatkan rasa kecukupan dalam hidupmu karena di hatimu cukuplah Allah yang akan jadi penolongmu................”

Wednesday, August 10, 2005

Bertanya Pada Preman

Dalam sebuah aksi massa kompanye salah satu calon Pemimpin Negerinya Si Picung, nampak seorang orator maju ke atas panggung sambil mengumandangkan yel yel ia memulai orasinya ala Bung Karno
“ Saudara-saudara kita berkumpul disini…untuk memberikan dukungan moril bagi calon pemimpin bangsa masa depan ….pemimpin yang akan membawa rakyat untuk berpikir global, berpikir maju, modern, pemimpin yang akan mensejahterakan kita rakyat kecil….seperti kami, yang setiap harinya meronta-ronta mencari masukan untuk perut, untuk rumah, untuk sekolah, dan untuk….dan untuk….”

“Marilah kita dukung beliau untuk segera entaskan orang miskin…eh ..salah..entaskan kemiskinan, dan bangun masyarakat kaya…kaya harta…kaya…ilmu tuk jd kaya…kaya…seperti pemimpin…kaya…seperti milyuner…kaya seperti…monyet…kayak seperti buaya….kaya…...”

“Kita di sini, dalam panas dan terik untuk mendukung calon pemimpin kita agar mereka dapat hidup lebih baik dan cukup lebih dari kita…”

“Saudara…saudara…oleh karena pilihlah….Mr. Kaya..agar kita pun menjadi kaya…”

Aku menyelinap masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang mendengarkan orasi…, hidung pun terasa ditusuk-tusuk…ada bau ketek…bau bebek, bau ayam,…bau suap,…bau nasi bungkus,…”ah…akhirnya aku berhasil menangkap sang orator untuk ku wawancara…

Begini Mas…, saya dengar tadi Mas…”
“oh…aku Mas Preman..”
“oh ya Mas Preman tadi anda sangat berapi-api dalam berorasi mendukung calon pemimpin besar kita Mr.Kaya, apa yang membuat Mas tertarik untuk mendukungnya?”

“Ya sudah barang tentu aku mendukungnya, karena aku sangat kasian sama beliau beliau itu kan terbiasa kaya, terbiasa memiliki jabatan…coba bayangkan kalau seandainya ia kehilangan jabatannya, tentu ia akan menderita sekali melebihi saya..”

“lho…kenapa..Mas?”

“Lha iya…karena beliau tidak biasa hidup di rumah kardus tentu badannya akan gatal-gatal dan borok…kalo kita kan sudah berteman dengan kuman, ia tidak biasa kalo makan sehari nasi bungkus plus tempe/tahu aja…perutnya akan mencret, kalo kita…kan sudah teramat biasa…, ia tidak biasa pergi keluar rumah tanpa kendaraan kalo naik angkot bisa demam n masuk angin…, makanya kita harus kasian pada orang medl begini, mereka itu rentan terhadap penyakit….”

“Misalnya…?”

“iya hipertensi, serangan jantung, gagal ginjal, asam urat, rheumatik…de el el.., selain itu mereka tak cukup survive untuk hidup apa adanya…tidak seperti kami”

“Memangnya hidup Mas seperti apa?”

“Kami sangat kaya…tidur beralas langit luas penuh bintang, berlampukan cahaya rembulan, ber-AC-kan angin malam yang terasa sejuk…, beralaskan tanah luas terhampar dan kekayaan terbesar kami adalah kami merasa cukup kaya dengan apa yang kami miliki, dan tubuh kami sangat kuat dan bertahan terhadap berbagai macam penyakit”.

“oh..ya jantung kami pun kuat terhadap shock…he..he..”

“Mas kenapa, Mas begitu sangat mencintai calon pemimpin negerinys si picung…”

“Ah ..saudara ini bagaimana…saya kan harus punya komitmen dengan pekerjaan dan profesi saya sekarang ini…”

“Lha…profesi macam apa yang sedang Mas tekuni sekarang?”

“…Ah jangan pura-pura tidak tau…sekarang kan lagi musimnya pemilihan calon pemimpin, itu kan proyek…saya bisa berdagang dong…”

“Maaf…Mas dagang apa…”

“Ya dagang suara burung…,dagang otak-otak ikan,…dagang otot kuda dan dagang kambing conge…he…he…”

“Lho…koq..?

“Lumayanlah Mba untuk memperpanjang rejeki…gitu lho..

“Waduhhhhhhhhh……..mati aku…”
Tulisan ini terinspirasi tulisannya Mas Faridl Ghaban, Bertanya Pada Cabe.


Bahaya Makanan UPF: Dari Camilan Hits Jadi "Racun" Berkedok Enak

Pernah enggak sih kamu kepikiran, kenapa jajanan kekinian yang warnanya estetik dan rasanya gurih banget itu bisa bikin kita kayak addicted ...